
Meeting ketiga kalinya di pagi hari yang begitu cerah dari kota Paris. Diandra selalu membalut tubuh indahnya dengan dress yang sangat cantik namun masih sangat sopan.
Diandra dan Monica rencananya akan mengunjungi pabrik yang memproduksi pakaian dengan design dari Diandra.
Cukup akan memakan waktu perjalanan mereka, diperkirakan bisa satu atau sampai dua jam untuk bisa ke sana.
Kepergian mereka tidak hanya berdua, ternyata masih ada orang yang sedang di tunggu oleh Monica.
Diandra sabar menunggu orang yang katanya, merupakan orang yang begitu detail, sangat perfeksionis, teliti dan salah satu juga jajaran petinggi dari perusahan yang membawahi perusahan yang Monica pimpin.
"Halo, Anggara!." Sapa Monica dengan begitu hangat dan akrab. Diandra mendongak menatap pria yang dipanggil Anggara oleh Monica.
Diandra bangkit karena Monica mendekat kearahnya.
"Anggara."
Sebelum Monica memperkenal dirinya pada Diandra, Anggara sudah memperkenalkan dirinya lebih dulu. Namun tanpa adanya sebuah jabatan tangan, hanya menyebutkan namanya saja.
"Diandra."
Diandra pun sama, mengikuti gaya perkenalan Anggara.
"Baik, sekarang kita berangkat!." Ajak Monica menggandeng Diandra menuju mobil yang baru berhenti di depan mereka.
Diandra dan Monica duduk di kursi belakang, Anggara duduk di depan bersama supir perusahaan yang akan mengantar mereka sampai lokasi.
Hening di dalam mobil itu. Karena Monica sendiri sibuk dengan beberapa pekerjaan yang masih pada ponselnya dan itu harus dikerjakannya.
Anggara dan Diandra sudah pasti memilih untuk diam, tidak saling mengenal, menganggap satu sama lain seperti orang asing yang baru ditemuinya.
Namun hati dan pikirannya keduanya selalu terikat dengan masa lalu yang sampai saat ini tidak pernah mereka lupakan. Hanya mereka simpan di tempat terdalam dari hidup mereka.
Tidak terasa hampir satu jam tiga puluh menit mereka melewati perjalanannya. Kini akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Monica dan Diandra turun bersamaan, yang disusul oleh Anggara. Ketiganya berjalan beriringan dengan posisi Anggara yang berjalan di depan Diandra dan Monica.
__ADS_1
Kunjungan mereka disambut baik oleh para petinggi pengurus pabrik, sehingga tentu saja akan mempermudah mereka untuk meninjau apa saja yang mereka inginkan.
Mulai dari penyiapan bahan yang memiliki kualitas super biak dari semua bahan yang ada di dunia. Karena ini merupakan pakaian untuk bayi dan anak-anak. Jadi harus disesuaikan dengan jenis kulit mereka yang sangat sensitif.
Sampailah mereka bagian penyulaman untuk menyematkan nama si pembuat design.
"Kenapa huruf MM, yang tertera di semua design pakaian mu, Di?." Tanya Monica menyentuh huruf MM yang sudah berhasil dibuatnya.
"Simple saja Miss, itu semua karena untuk Mama ku, Mona." Jawab Diandra begitu bangga dengan sosok sang Mama yang tidak pernah berhenti berjuang untuk dirinya sampai detik ini.
"Sedekat itu kah hubungan kalian?."
"Kami semakin dekat setelah melewati banyak cobaan dan rintangan dalam hidup. Dan semua yang aku miliki sekarang untuk Mama Mona. Karena dia yang aku miliki."
Anggara yang berada tidak jauh dari posisi mereka pun mendengar apa yang dibicarakan oleh Monica dan Diandra.
Benar, dirinya dan ketiga anak meraka bukan lagi orang yang ada di samping Diandra. Jadi wajah saja jika semua yang dilakukan Diandra untuk sang Mama.
Tapi kenapa Anggara seolah tidak terima, jika dia dan anak-anaknya dilupakan begitu saja oleh Diandra.
Anggara pun segera pergi dari tempat itu, menjauh dari Diandra dan Monica yang malah asyik mengobrol.
Meja makan itu memang di design hanya untuk tiga orang dangan berbagai menu makanan. Sehingga jarak antara satu dan yang lainnya tidak terlalu jauh.
Oleh karenanya Diandra bisa melihat dengan jelas wajah Anggara yang sudah banyak berubah, kulit yang tidak sesegar dulu, mungkin karena tidak mendapatkan perawatan. Rambut yang ditumbuhi oleh beberapa lambar uban yang dibiarkannya menghiasi kepalanya. Dengan bulu-bulu yang menutupi sebagian area wajahnya, menutupi area garus tegas rahangnya.
"Ayo, Di. Kamu ambil saja apa yang bisa kamu makan."
"Sepertinya makanan ini enak semua, Miss."
Hanya Diandra dan Monica yang membangun komunikasi yang baik, karena Anggara dari tadi hanya diam, menjadi pendengar bagi keduanya.
"Kamu jangan heran, Di. Karena orang yang satu ini memang seperti ini. Irit bicara." Ejek Monica sambil menatap angkuh pada Anggara tapi Anggara tidak menanggapinya.
Diandra hanya tersenyum tanpa berani melihat kearah Anggara.
__ADS_1
Suasana menjadi sangat canggung ketika Monica berpamitan untuk ke toilet.
Waktu seakan berjalan sangat lambat saat ini, bahkan seolah berhenti di tempat ini, untuk mereka yang pernah berada dalam hubungan yang begitu sangat intim.
Namun mereka kini sepeti orang asing untuk satu sama lain. Tidak ada yang buka suara, hanya lirikan mata mereka yang sesekali mencuri pandang terhadap satu sama lain.
Wajah cantik Diandra semakin terpancar, tubuh yang begitu proporsional, kulit halus nan lembut yang pasti sangat terawat. Hawa panas seketika menyerang tubuh Anggara kala kilatan bayangan percintaan mereka masuk dalam benaknya.
Anggara begitu gelisah dalam diamnya, tubuh polos dan wajah lugu Diandra yang berada di bawah kungkungannya begitu terlihat jelas sehingga mampu membangkitkan sisi kelelakian Anggara yang sudah lama mati tersimpan.
Anggara segera bangkit dan langsung pergi meninggalkan Diandra tanpa kata apa pun.
Diandra dan Monica sudah berada di dalam mobil, hanya tinggal menunggu Anggara yang masih mendatangani beberapa dokumen yang kebetulan harus segera ditandatanganinya.
Tidak lama Anggara datang dan mobil pun segera bergerak membelah jalanan, kembali ke kantor.
Baru lah dalam perjalanan ini, Anggara, Monica dan Diandra berbicara tapi hanya tertuju pada Monica. Tidak ada sedikit pun menyinggung baik Anggara atau pun Diandra.
"Morgan sudah menjemput mu, Di. Selamat bersenang-senang." Ucap Monica saat mobil sudah parkir dan bersebelahan dengan mobil Morgan.
"Terima kasih, Miss." Balas Diandra sambil berpamitan pada Monica dan Anggara. Monica ikut mengantar Diandra sampai mobil Morgan, sedangkan Anggara menyaksikan mereka dari dalam mobil dengan tangan yang terkepal dan rahang yang mengeras ketika Diandra duduk di samping Morgan.
"Aku senang kamu jadi menjadi wanita yang hebat." Morgan buka suara memuji Diandra.
"Kamu juga sangat hebat dengan pencapaian mu yang luar biasa." Balas Diandra balik memuji Morgan.
Diandra tidak bertanya mereka mau pergi kemana, tapi tidak lama kemudian mobil sudah berhenti di sebuah taman yang sangat indah dengan hamparan rumput hijau dan bunga yang sedang bermekaran.
Keduanya turun lalu mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka.
"Diandra..."
Diandra menengok kearah Morgan yang memanggil namanya.
"Aku ingin minta maaf pada mu."
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan mu, Morgan. Jadi lupakan semua itu."
"Apa kamu sudah melupakan semuanya?."