
Zian tak main-main dengan ucapannya, dia merencanakan menggelar pesta pernikahannya. Beberapa orang tampak terkejut dengan rencana ini, berita tersebar begitu cepat karena memang Zian adalah sosok populer.
Dila juga mengatakan tentang kondisi ibunya pada Zian, tentu saja Zian pura-pura terkejut.
"Zi, aku mau ngomong sama kamu," ucap Dila saat itu di malam hari saat mereka hendak tidur.
Zian tersenyum, "ngomong apa, sayang? Katakan!" ucap Zian lembut.
Dila duduk tegak menghadapi Zian, ia menatap Zian dengan tatapan merasa bersalah.
Zian melihat kegusaran dalam diri Dila, Zian menggenggam tangan Dila dan menatap Dila sambil tersenyum. "Katakan, apapun itu meski menyakitiku, aku tak akan marah."
Dila tampak ragu, bagaimanapun Zian berhak tahu. Namun Zian makin mengeratkan genggamannya seakan mengisyaratkan jika Zian sudah tabah apapun ucapan Dila nanti.
"Zi, sebenarnya..." Dila menghirup nafas dalam seakan meredam kerisauannya. "Aku bukanlah anak yatim." Dila tampak lega setelah mengatakan.
"Apa?" akting Zian seakan terkejut.
"Ibuku masih ada Zi, beliau sedang sakit," ucap Dila terdengar bergetar karena menahan tangis. "maafkan aku, Zi! Aku nggak bermaksud membohongi statusku padamu, tapi saat kita bertemu dulu situasinya sangat mendesak, membuatku bingung." Dila menatap Zian berkaca-kaca.
Zian memeluk Dila, berusaha menenangkan Dila. "Tenangkan dirimu, sayang, aku tak akan memarahimu jika memang kamu memang mengatakan kebenarannya." Zian sebisa mungkin bersikap datar, meski sebenarnya ia ingin tertawa karena sudah tahu kebenarannya dari dulu. Apalagi melihat ekspresi Dila yang sangat tertekan karena takut Zian marah, hal ini semakin membuat Zian berusaha keras menahan tawanya.
Dila mengeratkan pelukannya, dia merasa beruntung memiliki Zian. "Saat itu aku takut jika kamu jahat ke aku, atau misalkan pernikahan kita nggak sesuai dengan keinginanmu maka kamu akan menyakitiku atau ibuku, aku nggak sanggup Zi kalau ibuku kenapa-napa," ucap Dila tetap memeluk Zian.
"Ya Tuhan ,Dila! Kamu mikir sejahat itu ke kamu?" Zian melepas pelukannya dan menatap Dila sambil memegang kedua bahu Dila.
Dila mengangguk, Zian makin gemas melihat kepolosan Dila. "Aku juga takut kamu kasihan ke aku karena kondisi ibuku, jadi kamu akan mempermainkan hubungan kita dan membuat kesehatan ibuku menjadi ancaman." Dila menunduk.
Zian tersenyum melihat tingkah Dila, "jadi, selama ini kamu nggak pernah memakai uangku untuk foya-foya dan justru untuk pengobatan ibu kamu?"
Dila mengangguk, "aku nggak se-matre itu, Zi, sungguh aku memang menjual hidupku padamu, tapi bukan semata-mata karena aku ingin hidup glamor, sungguh! Aku bukan wanita seperti itu! Aku bukan wanita ******, Zi!" Dila tersisa lagi.
Zian mengusap air mata Dila, "aku percaya, sayang, aku percaya jika kamu adalah wanita baik-baik, aku nggak mungkin asal-asalan memilih pendamping hidup," Zian merengkuh kembali Dila dipelukannya.
Dila sejenak terdiam, lalu ia melepas pelukan Zian, "maksud kamu? Kamu sudah tahu semua ini?" Dila menatap Zian penuh tanya.
__ADS_1
Zian menghela nafas panjang lalu tersenyum, "iya," ucap Zian membuat Dila refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Sejak kapan?" Dila melotot dan mengerucutkan bibirnya.
"Sebelum menikah, aku melihatmu menangis dipinggir jalan seperti itu membuatku penasaran, sehingga aku mencari tahu."
"Hah?? Jadi kamu beneran uda tau? Lalu kenapa kamu nggak pernah bilang ke aku?"
Zian tersenyum lalu ia membelai rambut Dila, "aku ingin kamu yang mengatakannya padaku sendiri, aku nggak mau membuat kamu merasa nggak nyaman denganku," ucap Zian.
Dila memeluk Zian dengan erat, ia tersenyum dan merasa puas, karena hal yang ia sembunyikan selama ini telah ia ungkapkan pada Zian.
Namun Zian memberitahu satu hal pada Dila, semua tentang ibunya juga masa lalunya tidak usah diumumkan, cukup tentang hubungan mereka saja.
Zian menidurkan Dila dalam pelukannya, Zian juga tampaknya senang dengan keadaan ini. "Aku mencintaimu Dila, "bisik Zian namun Dila tak mendengarnya karena Dila tengah terbuai dalam mimpinya.
******
"Astaga! Ini beneran Dil?" pekik Risa saat berada di kantor dua hari kemudian. Risa menunjukan sebuah postingan artikel jika Dila dan Zian adalah pasangan suami istri saat Dila baru tiba di kantor.
"Apaan sih kalian ini? Baru aja aku datang bukannya nanyain keadaanku malah ngomongin Zian."
"Ya Tuhan, nggak nyangka banget kalau teman kita bisa dapat suami milyoner." Risa memeluk Dila.
"Aish, kalian ini kenapa? Iya, iya, aku emang istrinya Zian, puas?!" Dila melepas pelukan Risa.
Risa dan Giska sibuk membahas pernikahan Dila dan Zian, Dila merasa risih akhirnya memutuskan meninggalkan mereka berdua keluar ruangan, apalagi jam masuk kantor belum tiba.
Dila berjalan ke halaman kantornya, halaman yang juga berfungsi sebagai lahan parkir kantor memang luas, di setiap sudut terdapat pohon yang rindang, dibawah pohon ada kursi panjang.
"Dil, ada yang nyariin kamu barusan," ucap Agus teman kekantor Dila.
"Siapa?"
"Nggak tahu, baru aja aku mau manggil kamu, orangnya di halaman," ucap Agus sambil berlalu.
__ADS_1
"Oke, makasih ya." Dila menuju tempat yang dimaksud Agus.
Dila tertegen sejenak, di depannya sedang berada sosok yang dulu pernah berarti di hidupnya. Alvin.
Satya menoleh, dia menyadari kehadiran Dila. "Hai," sapa Satya.
"Ada apa?" tanya Dila dingin. Dia tak ingin bersikap lembut dengan Satya.
Satya duduk di kursi di bawah pohon, "duduk dulu," ucap Satya sambil tersenyum ramah. Dila mengikuti perintah Satya untuk duduk di sebelah Satya.
"Katakan! Aku buru-buru."
Satya tersenyum, dia tak peduli dengan sikap dingin Dila, bahkan Satya menatap wajah Dila dari samping meski Dila menatap lurus kearah depan.
"Kamu aneh Dil kalau bersikap seperti ini, tapi kamu terlihat makin cantik, pantas saja Om ku tergila-gila padamu."
"Aku tantemu, yang sopan kalau bicara!" bentak Dila.
"Dila, maafkan aku dulu tiba-tiba pergi ninggalin kamu, saat itu aku sedang tertekan Dila, aku malu sama kamu, aku berusaha melupakanmu, tapi tahukah kamu? Aku makin merindukan dan mencintaimu." Satya meraih tangan Dila, buru-buru Dila menepis.
"Alvin, eh... Satya, jangan membuatku marah!" Dila menatap Satya.
Satya tertawa, " bahkan kamu masih terbiasa memanggilku Alvin, bukankah itu berarti di hatimu masih ada aku Dila?"
Dila kembali menatap kedepan, dia kesal dengan sikap Satya.
"Tinggalkan Om Zian, kembalilah padaku, aku akan memberimu pernikahan sesungguhnya." Lagi-lagi Satya mencoba meraih tangan Dila.
Dila berdiri hendak meninggalkan Satya, "jika kamu kesini hanya untuk membicarakan masa lalu yang aku kubur dalam-dalam, lebih baik aku pergi!"
Satya meraih tangan Dila, kali ini Satya menggenggam erat sehingga tubuh Dila dan Satya berhadapan.
Satya menatap wajah Dila, "Dila, aku mencintaimu, tinggalkan Om Zian! Dia hanya menganggapmu sebagai wanita ******, dia hanya memanfaatkanmu untuk mendapat warisan, ayo hidup denganku!"
Dila menampar pipi Satya lalu menatap wajah Satya dengan penuh kebencian,"Vin, urusan kita sudah selesai di masa lalu, kamu hanya orang yang ku kagumi di masa kecil, bukan berarti aku mencintaimu, soal Zian, kamu nggak perlu ikut campur! " bentak Dila.
__ADS_1
"Aku bahagia atau tidak, bukan urusan kamu!" ucap Dila. lalu ia pergi meninggalkan Satya yang masih memegangi pipi kanan yang ditampar Dila.