
Definisi cinta terdahsyat pada sesama Hambanya adalah melihat bahagia orang yang kita sayangi, meski kita tak sanggup memiliki.
******
Zian dan Satya memutuskan agar Dila dapat hidup seperti semula. Apalagi dengan kehamilan Dila, Dila tak lagi boleh stres, sehingga Dila di izinkan kembali pulang.
"Inget ya, kamu jangan keluar kalo nggak perlu-perlu banget, aku nggak mau kamu kenapa-napa," ucap Zian saat tiba di rumah.
Dila baru saja meletakan bokongnya di pinggir ranjang, mendengar Zian berkata diulang-ulang membuatnya jengah.
"Kenapa cerewetmu melebihi ibu-ibu pemilik kontrakan yang penghuninya bayar telat 2 detik?" Dila memasang wajah kesal.
Zian mengacak rambut Dila, tersenyum dan duduk di sisi Dila. "Sayang, aku takut ada sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku tak ingin kamu kenapa-napa."
"Iya, aku tau, udah ah, jangan diulang-ulang." Dila mencebik.
"Oke, pokoknya kamu..." Belum selesai Zian menyelesaikan ucapannya, Dila mencubit lembut bibir Zian dengan dua jarinya.
"Stop!" Dila tersenyum. Lalu keduanya tertawa bersama.
Dila menghambur ke dada bidang Zian, Zian membalasnya dengan memeluk Dila sambil tangannya membelai punggung Dila pelan, "aku ingin kamu dan anak kita hidup nyaman, Sayang," bisik Zian.
"Aku tahu, dan aku pasti akan menjaga diriku dan anak kita dengan baik." Dila mengeratkan pelukannya pada pinggang Zian. Tak ada kerisauan atau kekhawatiran pada hatinya, ia merasa beruntung karena memiliki Zian yang sangat menyayanginya dan akan selalu melindunginya.
Di tempat lain, seseorang tengah terduduk sedih menatap selembar kertas di tangannya. Wajah tampannya tampak begitu keruh, ada kepedihan dan kepiluan.
"Papa ngapain di depan kamar kakak?" tanya Adis saat melihat Tyo di depan pintu kamar Satya yang sedang tertutup.
"Ssstts... Jangan berisik!" Tyo mengisyaratkan jari telunjuknya di bibir agar Adis tak berisik.
Adis diam, meski wajahnya penuh tanda tanya. "Kenapa?" bisik Adis.
Tyo menarik lengan anak gadisnya, sedikit menjauh dari kamar Satya. "Jangan ganggu kakakmu, dia sepertinya ingin sendiri," ucap Tyo saat sudah tiba di ruangan lain.
Adis melihat kearah kamar Satya, "kakak putus cinta? Para hati?" tanya Adis.
"Entah, papa nggak tau, kamu pergi ke kamarmu saja, jangan ganggu kakak."
Adis mengangguk meski ia sendiri penasaran.
"Anak pintar, " puji Tyo, ia mencubit pelan pipi Adis dengan lembut.
"Tapi, Pa, emangnya kakak udah punya pacar? Kok putus?"
Tyo mengedikan kedua bahunya, lalu meninggalkan Adis penuh tanya.
__ADS_1
Tyo memasuki ruang kerjanya, meski sudah lelah, ia belum ingin beristirahat. Tyo duduk dan bersadar di kursi kerjanya, meski ia belum tahu hasil dari tes DNA Dila, Tyo tak ingin menanyakan pada Satya, ia ingin Satya menenangkan dirinya dahulu. Ia yakin ada sesuatu yang berat terjadi ada diri Satya.
"Pa, Satya tadi udah makan diluar kah? Kok sesampai rumah dia di kamar terus?" Rima tiba-tiba muncul di balik pintu dengan membawa secangkir kopi untuk Tyo.
"Sudah mungkin, aku nggak memerhatikan." Tyo membaca buku bisnis di depannya.
"Jangan kasih Satya banyak kerjaan, Pa, kasihan." Rima berdiri di belakang kursi Tyo setelah menaruh kopi. Memijit bahu Tyo.
"Jangan memanjakan anak, apalagi anak laki-laki."
"Tapi..."
"Aku tau apa yang harus aku lakukan, kalau kamu nggak percaya dengan cara mendidikku, didik sendiri saja!" ucap Tyo sinis, Rima hanya sanggup menghela napas panjang, terbiasa di pojokan dengan kata-kata kasar Tyo.
************
Esok hari, Satya pergi ke kantor seperti biasa, ia juga tak memperlihatkan perbedaan sikap.
"Kak, kakak kemarin kenapa?" tanya Adis di tengah sarapan.
"Kenapa gimana?" Satya memotong roti tanpa menoleh kearah Adis.
"Kenapa sepulang dari kantor nggak keluar kamar?" Adis menatap wajah Satya dari samping.
"Kakak capek."
"Apa?" Satya mendelikan matanya, membuat Adis memonyongkan bibirnya.
"Adis, Satya, makan jangan banyak bicara," sahut Tyo tegas.
Keduanya melanjutkan sarapan, tak berani membantah ucapan Tyo. Rima hanya menggelengkan kepala melihat kedua anaknya dan suaminya.
Setelah sarapan pagi, Tyo pergi ke kantor bersama Satya, sengaja Satya tak membawa kendaraan sendiri, ia ingin semobil dengan Tyo, tentu saja alasan capek membuat semua orang percaya.
"Kalau kamu ingin bolos kerja, bolos dulu, biar kerjaannya di handle Firman, sekretaris papa," ucap Tyo saat di mobil bersama Satya.
"Nggak, Pa, Satya nggak pa-pa." Satya memeriksa tas kerja yang ada di pangkuannya, mengeluarkan selembar kertas. "Papa baca." Satya menyerahkan kertas pada Tyo.
Tyo menerima dan membaca kertas dari Satya, matanya berkaca-kaca setelah beberapa menit membacanya.
"Papa terlambat mengetahuinya, bodoh sekali." Suara Tyo terdengar parau dan bergetar. Satya tak berani menatap papanya, ia memandang keluar jendela mobil, melihat keluar untuk meredakan sesak di hatinya.
****
Suasana rumah sakit tampak lenggang, Dila berjalan di koridor rumah sakit bersama Zian.
__ADS_1
"Nggak sabar aku untuk bertemu ibu," ucap Dila sambil berjalan beriringan dengan Zian.
Zian menggamit lengan Dila, "jangan jalan cepat-cepat, inget, kamu sedang hamil anal dari Zian Abiyaksa, jaga baik-baik!" Zian memasang wajah galak, namun justru membuat Dila tertawa.
"Gini amat ya kalau hamil anak bos," seloroh Dila.
Mereka tertawa bersama, lalu keduanya masuk kedalam ruangan dimana Ratna dirawat. Aroma obat-obatan tercium saat pintu terbuka. Terlihat Ratna berbaring, tak ada yang berbeda dari pertemuan Dila terakhir dengan ibunya.
Dila mencium kening ibunya, kerinduan yang lama ia pendam kini terbayar sudah. Dila duduk dan menggenggam ibunya. Zian melihat sambil tersenyum, ia lebih memilih duduk di sofa dekat pintu, membiarkan Dila menghabiskan waktu dengan ibunya.
Zian membaca beberapa majalah dan koran yang berada di ruangan Ratna, tak lama pintu terbuka, tampak dokter Indra dengan seorang perawat masuk. Indra melemparkan seulas senyumnya pada Zian, lalu berjalan mendekati Ratna di rawat.
"Selamat siang," sapa Indra lalu memeriksa Ratna.
"Siang, dok, apa kabar?" Dila berdiri memberi ruang pada Indra dan perawat agar leluasa memeriksa ibunya.
"Baik, lama ga berjumpa." Indra menoleh sejenak kepada Dila, lalu melanjutkan pemeriksaannya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, dok?" tanya Dila.
Indra memerintahkan mengganti cairan pada perawat. "Tak ada perubahan, sama."
Dila dan Indra berjalan kearah Zian. "Setidaknya jantung ibu masih berdetak, itu sudah cukup bagiku." Wajah Dila tampak sedih.
"Berdoa saja, keajaiban bisa saja terjadi." Indra tersenyum, "Baiklah, saya keluar dulu, ada pasien lain yang harus saya periksa," ucap Indra saat perawat sudah selesai mengganti cairan infus Ratna.
"Jaga diri baik-baik." Indra menatap Dila sebentar, lalu melirik kearah Zian dengan tersenyum.
"Terima kasih," ucap Dila sambil tersenyum. Lalu Indra dan perawat itu keluar.
"Udah, jangan senyum-senyum ke lelaki lain," ucap Zian dengan wajah kesal.
"Apaan, sih, aneh." Dila meninggalkan Zian dan kembali duduk di samping ranjang ibunya.
Ponsel Zian berdering, Zian mengambilnya diatas meja di depannya. Deretan nama terpampang di layar ponselnya terlihat.
"Ada apa?" Zian tampak malas mengangkat panggilan itu. Zian mendengarkan suara penelpon, wajahnya tiba-tiba menegang. Zian segera berdiri dan keluar ruangan, melanjutkan teleponnya.
Dila menoleh sekilas, namun ia tak peduli, ia memahami jika Zian adalah orang sibuk.
"Sayang, ayo kita pulang." Beberapa saat kemudian Zian masuk.
"Sekarang?" tanya Dila, ia tampak enggan meninggalkan ibunya.
"Besok lagi kita kesini." Zian menghampiri Dila, menatap Dila penuh harap.
__ADS_1
"Baiklah, ayo." Dila tak ingin berdebat, lalu ia kembali menatap ibunya, memberikan kecupan dan pelukan untuk ibunya. "Sampai bertemu besok, Bu, Dila pulang dulu," ucap Dila lalu beranjak meninggalkan ruang rawat ibunya.
****