Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 36 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Morgan dan Reno belum berhasil menemukan keberadaan Diandra.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?. Pasti sekarang ini Diandra akan sulit untuk ditemui karena perutnya." Tanya Reno duduk di sebelah Morgan.


"Aku belum tahu." Jawab Morgan merasa semua jalan menuju Diandra sudah buntu dan sudah tertutup untuk selamanya.


Pikiran Morgan mulai dihantui beberapa pertanyaan umum yang melintas dibenaknya.


"Diandra...." Gumamnya lirih sambil mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa aku tidak tahu selama ini jika Diandra menjalin kedekatan dengan orang lain?. Tapi siapa kira-kira?." Karena dari teman satu sekolah mereka tidak ada yang berani mendekati Diandra karena ancaman darinya. Tapi kini, tiba-tiba saja Diandra sudah berbadan dua.


"Diandra tidak memiliki taman pria atau wanita yang bisa kau mintai keterangan?." Reno mencoba membantu memecahkan masalah Morgan. Karena dia tahu jika Morgan begitu mencintai Diandra.


"Rini?." Ucap Morgan sembari menyambar ponsel untuk menghubungi Rini ketika nama Rini yang menjadi satu-satunya yang akan bisa membantunya.


"Tunggu, Morgan!." Reno menahan tangan Morgan yang sudah menghubungi Rini dengan tidak sabarannya.


Untung saja Rini tidak mengangkat teleponnya, sehingga Reno bisa menyusun rencana untuk mengorek informasi dari Rini.


"Apa yang sudah aku lewatkan?." Morgan terus saja menatap layar ponselnya dimana Diandra begitu jelas dengan perut besarnya.


"Mungkin sebenarnya kau tahu, tapi karena kau menutupinya karena rasa cinta yang begitu besar untuk Diandra. Maka kau tidak mau untuk melihat kenyataan itu."


"Tapi aku benar-benar tidak mencurigai siapa pun. Karena memang aku tidak melihat dia dekat dengan siapa pun."


"Siapa yang sudah melakukan ini pada mu, Diandra?." Morgan mengepalkan tangannya, bukan karena dia sudah didahului mendapatkan tubuh Diandra, tapi apa pria itu betangung jawab, apa pria itu mencintainya seperti dia sangat mencintai Diandra.


"Aku harus tahu siapa yang sudah melakukan ini pada Diandra?." Morgan melirik pada Reno.


"Apa menurut mu Mama nya Diandra tahu tentang ini?."


Morgan jadi merasa curiga dengan Mama Mona yang mengatakan jika Diandra pergi di saat dia dan kedua orang tuanya datang. Berarti Mama Mona masih tinggal bersama Diandra dan pasti tahu karena perut Diandra yang sangat terlihat jelas.


"Mungkin." Balas Reno cukup prihatin melihat Morgan yang sangat terpukul dengan keadaan Diandra yang sangat membuatnya syok.


"Ok, aku akan membantu mu. Tapi kau harus sedikit bersabar jangan terburu-buru."


Morgan mengangguk mengiyakan sambil dia mendengar dengan seksama apa yang disampaikan oleh Reno terkait rencana yang sedang mereka susun.

__ADS_1


Sementara itu di lain tempat, Anggara dan Diandra tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk saling menyatukan tubuh mereka.


Anggara memanjakan tubuh berisi Diandra dengan sentuhan tangan, bibir dan lidahnya.


Buah dada yang semakin berisi menjadi incaran mulut dan tangan Anggara. Diandra begitu menyukai apa yang dilakukan oleh Anggara dan selalu berhasil membuatnya melenguh dan meneriakkan nama Anggara.


Semakin liar Anggara bergerak di tubuh Diandra, perlahan, pelan namun sangat pasti. Hingga ini merupakan pelepasan keduanya yang ketiga kali semenjak percintaan mereka.


"Kenapa Mommy Di tidak pernah mempertimbangkan, Morgan?. Morgan pria tampan dengan segudang prestasi. Bahkan aku pernah melihat beberapa wanita pada berdatangan ke rumah." Anggara mengelus buah dada Diandra yang selalu menantangnya.


"Entah lah Dad, aku tidak tahu kenapa aku tidak menyukai Morgan seperti wanita lain?. Selain karena Rini sudah menyukai Morgan lebih dulu, mungkin juga Morgan bukan tipe aku." Diandra menepis tangan jahil Anggara yang memelintir ujung buah dadanya.


Anggara terkekeh pelan, begitu gemas dengan apa yang ada pada tubuh sang istri yang sedang berisi semua karena kehamilannya.


"Lalu pria seperti apa yang menjadi tipe, Mommy Di?." Anggara menarik dagu Diandra untuk menatap wajah cantik istri kecilnya.


"Seperti Daddy." Jawab Diandra cepat tanpa ada keraguan sedikit pun.


"Benar kah, Mommy Di?."


"Hem."


Ada perasaan senang yang menyapa hati Anggara dengan pernyataan Diandra atas perasaannya.


Anggara melepaskan ciumannya lalu mengusap bibir Diandra.


Diandra mengecup namanya yang masih tertera pada dada bidang Anggara.


"Berapa lama tatto ini akan ada di sini?."


"Selamanya."


Anggara langsung memposisikan Diandra di atas tubuhnya dengan tangan yang terus mengusap lembut perut Diandra. Dimana bayi-bayi mereka ikut bergerak.


"Mommy Di?."


"Mereka begitu senang saat kita bisa dekat seperti ini, Dad."


"Selamanya kalian akan ada di sini."

__ADS_1


"Daddy tidak sedang membuat ku senang 'kan?."


"Tidak kah Mommy Di lihat di mata ku?."


Diandra menundukkan wajahnya untuk mengecup bibir Anggara.


"Aku melihatnya Dad, tapi aku ingin mendengar dari mulut Daddy sendiri."


"Aku mencintai mu Diandra, aku juga mencintai anak-anak kita."


Mereka kembali mengarungi nikmat dunia untuk kesekian kalinya. Setelah mereka menyatakan perasaan keduanya.


Anggara sudah tidak menyembunyikan perasaan yang selalu menarik dirinya jauh pada pesona Diandra, hingga secara tidak langsung dia akan mengikat Diandra dalam hubungan yang belum pasti bisa mereka jalani dengan mulus.


Tapi biar lah hari ini, momen ini menjadi milik hati dan tubuh mereka. Apa pun yang akan terjadi esok hari biar lah takdir yang menentukannya.


Paman Usman sudah menunggu Diandra dari setanah jam yang lalu, tapi Diandra baru saja keluar rumah bersama Anggara dangan wajah yang begitu segar.


"Kamu pulang lah bersama Paman Usman, Daddy akan langsung ke kantor." Anggara mengecup kening lalu turun pada perut Diandra untuk mengecup perutnya juga dengan ungkapan yang membuat Diandra meleleh.


"Daddy kerja dulu sayang, kalian baik-baik sama Mommy. I Love you Mommy Di, I love you anak-anak Daddy."


Diandra menyambutnya dengan senyum tulus yang selalu tersemat dari bibir yang sudah manjadi candu baginya.


"I Love you too, Dad." Balas Diandra mengalungkan tangannya pada leher Anggara lalu mengecup bibirnya sebentar.


Usai berpamitan, Diandra segara masuk ke dalam mobil dan Paman Usman segera melajukan kendaraannya.


Tidak lama kemudian, Anggara pun langsung berangkat ke kantor.


Sampainya di kantor, Anggara langsung diminta meeting bersama beberapa klien yang datang dari Singapore.


Hingga pukul lima sore Anggara baru keluar dari ruang meeting bersama klien yang lain. Kerja sama yang sudah ada ditangannya. Kontrak kerja sama yang tidak pernah gagal dijalankannya.


Anggara segera pulang ke rumah setelah menelpon Diandra. Karena sebelum dia menelepon Diandra, Mommy Isabel sudah memintanya pulang untuk makan malam bersama mereka di rumah.


Padahal malam ini rencananya Anggara ingin menghabiskan waktunya lagi bersama Diandra dan bayi-bayi mereka yang masih di dalam perut Diandra. Tapi sayang dia harus kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarganya.


Kurang dari satu jam, mobil Anggara sudah terparkir di halaman rumah. Kemudian dia berjalan menuju rumah, namun langkahnya harus terhenti karena ada yang memanggilnya.

__ADS_1


"Kak Anggara...."


"Kevin?."


__ADS_2