
Rini yang sudah dua hari ini tinggal di Villa Anggara, mulai mengemasi semua barang yang ada di kamarnya.
Sementara Rini memilih untuk tinggal di sana karena diminta oleh Tania. Supaya memberikan keleluasaan pada Morgan untuk berbicara pada kedua orang tuanya. Tapi sore ini Morgan akan menjemputnya kembali ke rumah Tania.
"Aku masih belum menyangka kalau aku menikah dengan Morgan karena Kevin." Ucap Rini di sela-sela dirinya merapikan beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas berukuran kecil.
Diandra tersenyum tipis sambil mengusap rambut kepala Rini. "Kita tidak tahu akan seperti apa jalan hidup kita kedepannya. Kau dan Morgan harus menikah karena Kevin, mungkin itu jalan yang harus kau lewati untuk menuju kebahagian kau yang sebenarnya."
"Tapi kau tahu kan, Di. Aku begitu sangat mencintai Kevin. Aku sudah melupakan Morgan karena adanya Kevin. Yang jelas Kevin jauh lebih baik segalanya dari Morgan." Ucap Rini sambil menitikkan air mata. Dia belum bisa menerima kepergian Kevin yang terlalu cepat baginya.
Diandra memeluk Rini lalu mengusap lembut rambut kepalanya dengan sayang. "Kau pasti bisa melewati ini semua. Kau harus percaya dengan kemampuan sendiri. Ingat, bahagia itu kita yang harus menentukan sendiri. Karena Kebahagiaan itu tidak datang dengan sendirinya. Kau dan Morgan harus saling menguatkan."
"Kenapa Morgan menjadi suami ku saat cinta ku sudah aku curahkan semuanya untuk Kevin?." Rini menghapus air matanya. "Apalagi dengan kenyataan sekarang kalau Morgan memiliki kekasih yang sudah hidup bersama. Aku berharap Morgan akan melepaskan ku, jadi aku bisa menentukan kebahagiaan ku sendiri." Lanjut Rini kembali menghapus air matanya.
Diandra terkekeh sambil menutup mulutnya. "Bagiamana pun keadaan Morgan saat ini, kalian akan tetap bisa menemukan jalan sendiri untuk mencapai kebahagiaan kalian."
"Apa kau setuju kalau aku dan Morgan hidup bersama selamanya?." Tanya Rini memasang wajah serius.
"Pernikahan itu hal yang sakral, tidak seharusnya kau berpikir untuk berpisah. Belajar lah dari kesalahan ku dan Anggara." Rini terdiam mendengar keseriusan Diandra saat membicarakan pernikahan. Apalagi dirinya pun ingin sekali seumur hidup untuk menjalani pernikahan. Tapi dia pun tidak mengira jika akan menikah dengan pria yang sudah dilupakannya.
Morgan yang baru sampai di villa Anggara segera meminta bicara berdua bersama Anggara. Anggara pun mengajaknya ke ruang kerja. Dan mereka sudah duduk saling berhadapan.
"Ada apa?."
"Aku ingin mengatakan keseriusan ku untuk tetap mempertahankan pernikahan ku bersama Rini. Aku pun sudah memberitahukan pada Mommy dan Daddy serta Eliana. Mommy dan Daddy menyerahkan semua keputusan itu pada ku."
"Lalu?."
"Jadi kau tidak perlu takut kalau aku akan merebut Diandra dari kau dan juga anak-anak."
__ADS_1
"Tetap saja aku harus waspada, siapa tahu saat kami lengah kau akan mengambil Diandra dari kami. Dan kalau sampai itu terjadi, aku akan menghabisi kau dengan tangan ku sendiri." Morgan hanya tersenyum tipis.
"Aku sudah tidak ingin bertikai apa pun dengan siapa pun." Morgan menyerahkan satu dokumen yang sedari tadi dipegangnya.
"Apa ini?." Tanya Anggara sambil meraih apa yang diberikan Morgan.
"Buka lah!." Perintahnya santai. Dia ingin memulai hubungannya bersama Rini dengan tenang. Tidak ingin ada keributan baik dari pihak mana pun yang telah mendukung pernikahan mereka.
Anggara sangat terkejut dengan apa yang dibacanya. Sampai dia membacanya berulang kali namun sisanya tetap sama.
"Kau apa kau lakukan semua ini?." Tanya Anggara masih merasa heran.
"Daddy dan Mommy tidak tahu kalau aku sudah memindahkan kembali aset Dad Andreas dan beberapa yang menjadi milik kau."
"Tapi untuk apa?." Tanya Anggara lagi.
"Sebagai syarat aku ingin tetap mempertahankan pernikahan ku bersama Rini. Aku bukan lagi keluarga mereka, aku tidak membawa apa-apa dari mereka. Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kalian."
"Tidak masalah. Kalau pun mereka marah itu saat mereka sudah ada di Miami. Tadi mereka sudah terbang ke sana sebelum aku ke sini. Dan Eliana mungkin dia akan memberi masalah pada ku di masa depan. Karena aku sudah meninggalkannya."
"Semua ini kau yang harus serahkan langsung pada Dad Andreas." Anggara menyerahkan kembali dokumen berharga tersebut pada Morgan.
"Tapi ngomong-ngomong, apa kau yakin mau belajar menerima dan mencintai Rini serta melupakan istri ku?."
Morgan kembali tersenyum tipis lalu mengusap kasar wajahnya.
"Mungkin untuk sekarang kau akan sulit percaya pada ku. Tapi tidak apa-apa, setidaknya dengan mengembalikan semua hak kalian itu sudah membuktikan keseriusan ku untuk memulai segala sesuatunya bersama Rini dengan cara baik"
"Apa kau mulai membuka hati untuk Rini dan sudah mulai belajar mencintainya?."
__ADS_1
"Mungkin ini terlalu cepat untuk mengatakan hal itu. Tapi yang jelas aku sendiri menginginkan pernikahan ini." Jawab Morgan serius.
Anggara mengangguk paham, setidaknya mereka memerlukan waktu berdua untuk saling memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan dan inginkan.
Setelah selesai, Anggara dan Morgan sudah menghadap Dad Andreas yang ada di ruang keluarga untuk menyerahkan dokumen.
Reaksi Dad Andreas pun sama, tidak berbeda jauh dengan reaksi Anggara. Namun Dad Andreas sangat berterima kasih niat baik Morgan yang ingin memulai semuanya dengan biak.
"Daddy salut pada kau, Morgan. Berani mengambil tanggung jawab sebesar ini. Padahal bisa saja kau meninggalkan Rini tapi kau tidak melakukannya, meski pun Rini belum tentu mau menerima pernikahan ini."
"Iya, Dad. Setelah ini paling aku akan banyak menyusahkan Daddy dan keluarga yang lain."
"Tidak ada anak yang menyusahkan orang tuanya, Morgan. Kau tahu aku sudah menganggap kau seperti anak ku sendiri. Jadi datang lah pada kami kapan pun kau mau. Pintu rumah dan perusahaan kami selalu terbuka untuk kau dan Rini."
Morgan tidak bisa lagi manahan rasa harunya, hingga dia berhambur kearah Dad Andreas dan memeluknya erat sambil menitikkan air mata..
"Aku sungguh sangat beruntung memiliki kalian semua." Ucap Morgan penuh rasa syukur.
Rini dan Diandra dan anggota keluarga yang lain pun ikut menyaksikan momen bahagia itu.
Dad Andreas mengajak Rini dan Morgan untuk berbicara empat mata di ruang kerja.
Anggara dan Diandra menunggu di ruang keluarga bersama Mommy Isabel dan Mama Mona serta ketiga anak mereka.
"Aku melihat kejujuran dari apa yang dikatakan oleh Morgan. Tapi tetap saja aku harus waspada terhadap Morgan." Ucap Anggara menatap serius wajah Diandra.
"Mungkin kita akan sedikit sulit untuk mempercayainya. Tapi lama-lama kita juga pasti akan bisa melihat keseriusan dan ketulusannya."
"Iya, sayang..."
__ADS_1
"Iya, Sayang..." Ucap ketiga anak mereka bersamaan sambil tertawa bersama.