
Umpatan Mama Mona telah berganti menjadi des@han dan lenguh@an dari beberapa menit lalu. Adam begitu mampu menguasai beberapa titik sensitive Mama Mona sehingga penyatuan itu pun kembali terjadi.
Adam juga sudah terang-terangan meminta Mama Mona untuk menjadi istrinya, walau dilakukan secara siri. Dan bodohnya Mama Mona menerima tawaran tersebut, karena hanya dengan alasan dia takut sampai hamil karena perbuatan mereka yang tanpa kendali dan pengaman.
Usai penyatuan untuk yang kesekian kalinya, kini Mama Mona dan Adam sudah berada di rumah salah satu pemuka agama yang telah menikahkan mereka beberapa menit lalu.
Hubungan itu sudah memiliki ikatan halal untuk berhubungan seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Namun belum cukup kuat untuk urusan yang lainya. Tapi Mama Mona tidak mempermasalahkannya karena dia wanita pintar yang tidak harus bergantung masalah keuangan pada pria.
Pernikahan ini dilakukan karena Adam memang ingin memiliki anak dari Mama Mona. Dan Adam juga sudah berencana untuk secepatnya mendaftarkan pernikahan mereka tanpa sepengetahuan siapa pun. Karena dia tidak ingin hanya memanfaatkan Mama Mona saja karena sejatinya Adam sudah mencintai Mama Mona.
Kalau sampai Mama Mona benar-benar mengandung anaknya nanti, Adam tidak akan segan-segan untuk melimpahkan semua aset pada anaknya dan Mama Mona. Tidak peduli jika dia harus menjadi seorang gelandangan.
__ADS_1
"Kamu sekarang sudah menjadi istri ku." Adam tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia langsung mengecup bibir Mama Mona saat sudah masuk di dalam mobil, setelah memberikan uang pada beberapa orang yang sudah dimintai tolong untuk mempersiapkan pernikahan yang bisa di bilang sangat rahasia.
Tapi sayang, sebenarnya Anggara sudah tahu pernikahan siri yang terjadi pada ibu mertuanya dengan Adam. Hanya saja anak buah Anggara datang terlambat untuk menggagalkan pernikahan itu. Dan untuk sementara ini, Anggara tidak bisa melakukan apa-apa sampai berbicara langsung dengan Adam dan Mama Mona.
Anggara segera menghapus semua informasi yang selalu dikirimkan oleh anak buahnya mengenai Mama Mona dan Adam. Sebab ponsel dirinya suka di pegang Diandra jika ada hal-hal yang mencurigakan dari anak buah Anggara. Hanya saja, beberapa hari ini Anggara meminta pada anak buahnya untuk mengirimkan semua informasi lewat email yang baru dibuatnya.
"Dad!." Seru Diandra dari luar, sebab suaminya pamit hanya untuk megambil berkas di ruang kerja. Tapi kenapa sudah lama sekali belum ada kembali ke ruang tengah?.
"Kenapa lama sekali Dad?."
"Berkasnya ke selip sayang, makanya agak susah di cari." Anggara mengangkat berkas yang di maksud lalu menaruhnya di atas meja samping kaki Diandra.
__ADS_1
"Paman Usman mau ke sini?."
"Iya, sayang. Nanti berkas ini akan di urus oleh Paman Usman. Karena Paman Usman yang mengerti pekerjaan Daddy yang satu ini."
Diandra mengangguk paham, karena tidak mudah untuk mencari orang yang sudah terampil seperti Paman Usman.
"Mama mu jadi pulang besok?." Anggara memijat kaki Diandra yang sedikit bengkak.
"Di undur Dad, mungkin Minggu depan baru pulang. Anak-anak saja sudah menanyakan neneknya." Diandra menyodorkan minyak zaitun pada Anggara, supaya di oles di kaki Diandra.
"Pasti ini ulah dari Adam." Ucap Anggara begitu kesal tapi hanya mampu diucapkannya dalam hati saja.
__ADS_1