
Diandra cukup aneh dengan kedatangan Adam malam-malam begini, apalagi di saat yang kurang pas. Karena saat ini merupakan momen yang genting bagi keluarganya. Di mana Mama Mona tidak bisa dihubungi atau pun di lacak keberadaannya. Baik itu oleh anak buah Anggara, Anggara sendiri atau pun Dad Andreas yang sudah ikut turun tangan.
"Sepertinya Pak Adam tidak memiliki kepentingan apa pun di sini Dad, lalu kenapa Daddy memintanya datang?." Diandra mengusapnya perutnya yang sudah terasa tidak nyaman.
Dari semenjak kabar Mama Mona menghilang, pikiran Diandra sangat kacau. Bagaimana bisa Mama Mona di culik?, sejak kapan Mama Mona memiliki musuh?, untuk alasan apa orang itu menginginkan Mama Mona?.
"Aku..." Anggara segera memotong perkataan Adam, dengan menatap tajam pada Adam tanpa sepengatahuan Diandra. Sebab Anggara sendiri tidak bisa membahayakan kandungan Diandra yang sudah mengeluh sakit di bagian perutnya.
"Sayang, mending kamu istirahat saja bersama yang lain di dalam kamar." Sebab di kamar ketiga anaknya sudah ada Tiara dan istrinya Morgan.
"Mana bisa aku tenang Dad, kalau Mama ku belum tahu di mana atau bagaimana kondisinya." Diandra tidak ingin meninggalkan Anggara yang sedang mengupdate informasi Mama Mona. Diandra tidak ingin kehilangan momen baik itu.
Anggara hanya mengusap wajahnya kasar ketika tidak bisa berbuat dan berkata leluasa pada Adam karena adanya sang istri tercinta.
__ADS_1
Kini perhatian mereka tertuju pada Anggraini dan Yuda yang masuk bersama pelayan rumah mereka.
Adam dan Anggara saling melempar pandang lalu kembali fokus pada Anggraini dan Yuda. Mereka berdua menangkap adanya sinyal bahaya yang sedang mengintai Diandra dengan niat Anggraini yang menyusul Adam sampai ke rumah Anggara dan Diandra.
"Maaf Adam, tapi aku tidak bisa menghentikan Anggraini." Ucap Yuda penuh sesal karena dirinya begitu gegabah dengan mengatakan apa saja yang dia ketahui tentang Adam dan pernikahan rahasianya.
Adam mengangguk karena dia berusaha mengerti posisi Yuda saat ini.
"Apa benar neneknya si kembar yang menjadi istri mu dan saat ini sedang mengandung anak mu?."
Adam sangat menyesal karena harus terjadi hal yang sangat dihindari Anggara di rumah ini. Tapi apa mau dikata, dia pun tidak bisa mencegah Anggraini.
"Lelucon gila macam apa ini Ibu Anggraini, Pak Adam?."
__ADS_1
"Sayang, kamu harus tenang dulu." Anggara membawa Diandra untuk duduk di sofa. Tapi Diandra sepertinya tidak bisa untuk menahan rasa sakit pada perutnya. Sampai lebih baik Diandra untuk berdiri saja.
"Perut ku sakit, Dad." Diandra mengalungkan tangannya pada leher Anggara, wajah Diandra sudah dipenuhi dengan keringat.
"Kita ke rumah sakit sekarang!."
Anggraini yang masih belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari Adam, dia kembali bertanya pada Adam sambil mendorong tubuh Adam namun Adam tidak bereaksi sama sekali.
"Kalau kamu diam, berati benar apa yang aku katakan?."
Dengan sangat terpaksa Adam mengangguk di depan Anggara dan Diandra yang hendak akan ke rumah sakit.
"Jadi benar Pak Adan dan Mama..." Diandra mengerang kesakitan sambil terus memegangi perutnya dan tidak berselang lama keluar lah darah dari paha Diandra.
__ADS_1
"Darah sayang." Ucap Anggara sangat panik.
Tiara dan Rini yang keluar pada saat itu bersama ketiga anak Anggara dan Diandra berusaha untuk menenangkan ketiganya dan mereka akan menyusul ke rumah sakit.