
Dad Andreas yang mendengar dari balik pintu begitu tergetar hatinya, melihat ketulusan Diandra untuk putranya. Tidak seperti yang dia pikirkan, bahwa Diandra akan melepaskan Anggara demi mencapai tujuannya untuk mengembalikan perusahan Mamanya.
Dad Andreas meninggalkan ruangan, dia menemui Paman Usman di ruang kerjanya.
Diandra dan Mommy Isabel kembali berpelukan. Kali ini Mommy Isabel yang memeluk Diandra terlebih dulu. Betapa baik wanita yang dinikahi Anggara secara rahasia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dad Andreas dan Diandra sama-sama melimpahkan kekuasaannya atas nama Dad Willy. Kalau Dad Andreas sudah pasti semua asetnya yang dimilikinya, tapi kalau Diandra, dia menyerahkan hak cipta dari semua designnya pada Dad Willy. Diandra akan selamanya terikat dengan perusahan Dad Willy tanpa dibayar sepeser pun.
"Kau tidak menyesal harus menukar Anggara dengan semua jerih payah untuk mengembalikan perusahan Mona?."
Dengan cepat Diandra menggeleng lalu tersenyum tulus. "Mama pasti bisa mengerti kenapa aku melakukan ini. Lagian Anggara bukan orang lain bagi kami, dia keluarga kami, dia ayah dari ketiga anak ku."
Kembali hati Dad Andreas bergetar hebat, ada wanita baik meski sudah pernah disakitinya.
Bukannya membalas rasa sakit mereka di saat yang tepat seperti ini, namun justru malah ikut menyelamatkan putra mereka.
"Kapan kita bisa menjenguk Anggara?."
Pertanyaan Diandra menyentak lamunannya. Dia kembali fokus menatap Mommy Isabel dan Diandra.
__ADS_1
"Secepatnya."
"Apa kau akan membawa anak-anak?."
"Pastinya, aku ingin Anggara cepat sembuh untuk kami yang selalu menyayangi dan mencintainya. Seperti kalian juga."
"Baik lah, aku akan segera minta Usman untuk membawa anak-anak ke sini."
Diandra hanya mengangguk sambil tersenyum pada Mommy Isabel yang tersenyum padanya.
"Maaf aku dan suami ku karena sudah banyak membuat mu menderita." Diandra menggeleng namun tidak bersuara karena Mommy Isabel masih melanjutkan lagi ucapannya. "Mungkin ini hukuman untuk kami, tapi kami juga malu pada mu, justru kami malah mendapatkan bantuan mu yang sangat berharga."
"Mommy dan Tuan Andreas adalah keluarga ku, apa pun pasti akan aku lakukan juga."
.
.
.
Tiga hari sudah Diandra dan ketiga anaknya berada di rumah Dad Andreas dan Mommy Isabel. Namun selama itu juga Diandra belum bertemu dengan Anggara. Karena Dad Willy belum mengizinkannya. Karena masih menunggu hasil dari kekuatan hukum yang akan memperkuat semua aset kekayaan atas nama dirinya.
__ADS_1
Dad Andreas cukup emosi karena merasa dipermainkan oleh sahabat, rekan bisnis, mantan besannya sendiri. Namun ada Mommy Isabel yang selalu menenangkannya dan tentunya dengan kehadiran Katherine, Jayden dan Hayden. Yang selalu membuatnya tersenyum.
Dan akhirnya, setelah menunggu lagi selama dua hari. Sore ini Dad Andreas dan Diandra sudah bisa memindahkan Anggara ke rumah sakit lain.
Mommy Isabel dan Dad Andreas berdiri di sebelah Anggara setelah mereka memeluknya terlebih dulu. Kini waktunya bagi Diandra untuk melepas rindu dengan suaminya.
Senyum manis terukir jelas dari wajah cantik Diandra ketika melihat Anggara yang masih bisa mengenali dirinya.
Anggara merentangkan tangan meminta Diandra untuk berada di dalam pelukannya.
"Anggara..." Ucap Diandra menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Anggara yang terbaring.
"Diandra...cinta ku, hidup ku." Berulang kali Anggara mengecup pucuk kepala Diandra dengan begitu sayang.
Tidak ada air mata yang jatuh dari mata keduanya. Keduanya berusaha untuk saling menguatkan. Apa lagi Diandra harus lebih kuat demi Anggara, ketiga anaknya dan juga Mama Mona.
"Kamu pasti akan cepat sembuh dan segera bisa berjalan lagi."
Anggara menggeleng namun dengan senyum tulus.
"Aku sudah kehilangan kedua kaki ku, Di!. Mereka sudah mengamputasi nya satu Minggu yang lalu." Ucapnya tanpa memperlihatkan kekecewaan atau pun kemarahan pada siapa pun.
__ADS_1
"Masih ada kedua kaki ku yang bisa berjalan, yang akan membawa mu kemana pun kamu mau. Kamu masih memiliki aku, kami dan mereka semua yang begitu menyayangi dan mencintai mu."