Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 117 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Adam cukup terkejut dengan kedatangan Anggara siang itu di kantornya. Entah urusan apa yang sanggup membawa Adam mendatanginya?. Karena selama ini perusahaan mereka memang tidak memiliki kontrak kerja sama apa pun.


"Aku tidak ingin basa-basi saat berhadapan dengan pria seperti mu. Kau pasti tahu kenapa aku datang ke sini?. Kau harus dengarkan baik-baik apa yang aku katakan."


"Hem, katakan lah." Tantang Adam, sepertinya Adam sudah tahu apa yang akan dibicarakan Anggara. Dan memang benar dugaannya.


"Kau harus segara memilih salah satu dari mereka. Apa kau akan tetap bersama ibu mertua ku atau bersama Anggraini?. Secepatnya aku ingin mendapatkan kepastiannya karena aku tahu model pria seperti kau." Ucap Anggara dengan tegas.


"Aku tahu, aku minta kau tenang saja dulu. Karena aku sudah mendaftarkan pernikahan ku dan Mona. Mengenai Anggriani, aku minta waktu untuk membicarakannya."


"Betapa lama?. Aku tidak ingin sampai ada masalah dulu baru kau bertindak. Karena bagaimana pun itu akan mempengaruhi istri yang sedang hamil. Kalau sampai ada apa-apa, kau yang akan aku cari dan aku habisi." Ancam Anggara dengan serius.


"Kau bisa pegang janji ku, aku tidak main-main dengan Mona. Aku minta kau tetap menempatkan orang-orang di sekitar Mona saat nanti aku mengatakan kebenaran ini pada Anggraini dan keluarga besar ku."


"Ok, tapi kau harus bergerak cepat karena tiga bulan lagi istri ku akan melahirkan."


"Iya, secepatnya."


Anggara segera keluar dari kantor Adam setelah menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia harus bisa menjaga Mama Mona dari siapa pun, karena cukup beresiko memiliki urusan dengan keluarga Adam.


Sementara itu di kantor Mama Mona sedang kedatangan Diandra, Rini dan Tiara. Jika Diandra mengunjungi kantor Mama Mona karena sekalian pulang dari rumah sakit. Tapi kalau Rini dan Tiara mereka hanya mau bertemu saja dan mereka yang menawarkan diri untuk menjemput si kembar ke sekolah.


Dengan senyum yang mengembang Tiara mengeluarkan bungkusnya dari dalam paper bag berukuran sedang dan ternyata itu adalah bungkusan rujak. Secara tidak langsung Tiara membagikan kabar bahagia pada Mama Mona dan Diandra kalau dirinya sedang berbadan dua.

__ADS_1


Mama Mona mantap tidak percaya sekaligus bahagia dengan kabar tersebut. Mama Mona segera memeluk Tiara dan mengucapkan selamat, begitu juga dengan Diandra.


"Berapa minggu kehamilannya, Tante?." Tanya Diandra setelah melepas peluaknnya.


"Dua bulan, Di." Jawab Rini dengan cepat. Tiara hanya senyum kala Rini yang menjawab pertanyaan Diandra.


Diandra mengangguk kearah Tiara, lalu menghampiri Rini dan merangkulnya. "Terus kamu kapan, Rin?." Tanya Diandra sambil mengusap perut datar ini.


Rini yang mendapatkan pertanyaan itu, Mama Mona yang baper sendiri. Dia langsung memegangi perutnya yang rata, mengingatkan kembali percintaan panas dirinya dan Adam di Semarang.


"Kenapa Mona, kau mau hamil juga seperti aku dan Diandra?. Maka cepat menikah lagi, Diandra juga tidak mempermasalahkan itu. Iya 'kan Di?." Tiara menatap Diandra dan Mama Mona silih berganti.


Mama Mona menelan ludahnya dengan kasar, bagiamana bisa Tiara bicara seperti itu?. Tapi bagaimana juga kalau dirinya ketularan Hamil dari Diandra dan Tiara. Secara percintaan dirinya dan Adam tidak ada memakai pengaman.


"Iya, Tante. Asalkan bukan pria yang masih memiliki istri." Jawab Rini dengan tegas sambil menatap intens kearah Mama Mona yang tersenyum tipis.


"Enggak mungkin lah Di, Mama mu kan sangat pintar dalam mencari pria sejati. Asalkan Mama mu mau saja pada salah satu dari pria-pria itu." Jawab Tiara meyakinkan Diandra, karena memang seperti itu lah Mona yang diketahuinya.


Mama Mona hanya diam, tidak menanggapi lagi apa yang dikatakan oleh mereka.


Tiara dan Rini berpamitan untuk menjemput ketiga anak Diandra lalu akan membawa mereka ke sana lagi.


Diandra melanjutkan pekerjaan yang di minta oleh Monica. Semantara Mama Mona ke ruang meeting karena ada yang ingin menemuinya di sana.

__ADS_1


"Adam?." Mama Mona cukup terkejut dengan kedatangan Adam ke kantornya, apalagi di saat ada Diandra dan yang lainnya.


"Kamu tenang saja, sayang. Aku ke sini karena urusan pekerjaan bukan pribadi. Ya, walau pun sebenarnya aku sangat merindukan mu." Ucap Adam setengah berbisik di dekat Mama Mona.


"Ada pekerjaan apa lagi?. Bukan semuanya berjalan lancar?."


"Memang tidak ada masalah, hanya saja aku merevisi beberapa model designnya."


"Kenapa?."


"Hanya menambahkan sedikit bukan merevisi yang bagiamana-bagaimana."


Mama Mona melihat design yang disodorkan oleh Adam, hanya ada aksen tambahan pada designnya.


"Ok, tidak masalah. Produksinya baru akan berjalan Minggu depan."


"Tapi aku minta kita ke pabriknya langsung untuk memantau."


"Kau tidak perlu pergi ke sana, cukup aku dan team ku saja yang ke sana."


"Justru itu, aku ingin ikut dan melihat bagaimana prosesnya."


"Tidak!." Mama Mona menggeleng dengan cepat. Sebab dia tahu, pasti ini merupakan akal-akalan Adam saja untuk bisa pergi bersama dirinya.

__ADS_1


__ADS_2