
Dad Andreas dan Mommy Isabel sudah berada di Jakarta. Pencarian anak buahnya belum juga membuahkan hasil apa pun. Sebab penjagaan yang dilakukan Anggara pun untuk ketiga anaknya dan Diandra sangat super ketat. Sehingga anak buah Dad Andreas tidak akan mudah menemukan mereka.
"Apa lagi kau ribut kan, Andreas?. Mereka cucu kita dan Diandra istri Anggara yang sah. Sudah lah akhiri ini semua." Untuk yang kesekian kalinya Mommy Isabel meminta Dad Andreas untuk menurunkan egonya. Sebelum ada korban yang berjatuhan karena kesombongan dan keegoisannya.
"Anggara yang sudah menyulut api emosi ku dan aku tidak bisa membiarkannya melakukan lagi apa yang dia ingin kan!."
"Anggara melakukan itu juga karena banyaknya tekanan dari kita. Anggara hanya menyelamatkan keluarga kecilnya saja. Seharusnya kau paham, karena kau juga seorang ayah!."
"Aku mau lihat sampai dimana keberanian anak itu!. Sewaktu bersama Regina, anak itu tidak pernah membuat ulah dan selalu menuruti perintah ku. Tapi kini saat Anggara bersama Diandra, dia mau menghancurkan perusahan yang sudah lama aku rintis dari bawah. Dia tidak tahu sudah banyak keringat dan air mata kita untuk membangun dan membesarkan semua perusahan yang kita miliki."
Jika sudah seperti ini, Mommy Isabel sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena benar adanya yang dikatakan oleh Andreas. Tapi tidak ada yang salah juga dengan apa yang dilakukan oleh Anggara. Karena untuk keluarganya.
Anggara yang masih berada di Paris bersama Regina, dia sedang berusaha mengikuti apa yang diminta oleh wanita yang masih berstatus istrinya.
"Kau sudah siap?." Regina menyeret satu koper besar yang berisi pakaian mereka berdua.
"Hem..." Anggara menjawabnya dengan sebuah deheman.
Anggara dan Regina sudah memasuki mobil dengan posisi Regina yang memegang kendali kemudi.
__ADS_1
Tidak ingin ada keributan lagi, Anggara duduk tenang di kuris sebelah Regina.
Mobil mulai melaju meninggalkan rumah kediaman Dad Andreas dengan kecepatan cukup tinggi. Tapi Anggara masih berusaha tenang.
"Kita mau pergi kemana?." Anggara sedikit mengalihkan konsentrasi Regina dengan mengajaknya berbicara.
"Aku kira kau tidak peduli kita akan pergi kemana?."
"Apa kau ingat tempat pertama kali yang kita sayangi saat pacaran dulu?."
"Hawaii."
Anggara terdiam sambil menarik nafas.
"Apa kau mencintai ku?."
Anggara tidak langsung menjawab, dia harus bisa mengambil hati Regina tanpa harus mengatakan cinta. Karena cinta itu sendiri sudah ada yang memiliknya, yaitu Diandra.
Andai saja dari awal, Regina mau berdamai dengan keadaan mereka saat itu untuk menerima Diandra. Mungkin saja hubungan mereka tidak akan serumit ini. Dan mungkin saja dia masih mencintai Regina karena kebaikannya.
__ADS_1
"Kau masih mencintai ku?." Regina mengulangi pertanyaannya.
"Apa yang kita lewati...."
"Aku tidak butuh alasan apa pun. Aku hanya ingin jawaban, apa kau mencintai ku?."
Regina sudah mula hilang kendali atas mobilnya, kecepatan mobil tersebut sudah menyentuh angka 120 km/jam. Dada Regina bergemuruh kala mengingat tatto yang dimiliki Anggara, semuanya bertuliskan Diandra. Dan sekarang untuk Anggara begitu sulit menjawab pertanyaan mudah itu.
"Awas, Regina!. Hati-hati!."
Mobil sudah melaju tidak beraturan hingga ada beberapa kendaraan yang sampai harus
menepi karena ulah Regina.
"Regina, turun kan kecepatannya!. Iya aku mencintai mu, Regina!."
"Semuanya sudah terlambat, lebih baik kita mati bersama. Supaya kita akan tetap terus bersama."
Dengan secepat kilat Regina menabrakkan mobilnya pada pembatas jalan dengan kecepatan penuh, hingga terdengar dentuman yang begitu kencang.
__ADS_1