
Cinta memang belum hadir di dalam hati Mama Mona untuk Adam, meski tubuh selalu memberikan respon yang sangat luar biasa terhadap sentuhan Adam. Karena mau bagaimana mencintai Adam?, jika Mama Mona tidak atau belum melihat sesuatu pada diri Adam selain selalu bertindak dengan apa yang dia inginkan. Dan dia seorang suami juga dari wanita lain.
Satu Minggu sudah berlalu, kebersamaan dalam rangka honeymoon Mama Mona dan Adam di Semarang harus berakhir. Karena besok mereka akan pulang ke Jakarta.
"Aku sudah menyiapkan satu rumah untuk kita." Ucap Adam saat membantu Mama Mona memasukkan beberapa barang ke dalam koper kecilnya.
"Tidak bisa." Jawab Mama Mona sambil menggeleng.
"Tidak masalah kalau kamu ingin pernikahan kita diketahui oleh semua orang. Bukannya kamu belum siap?."
"Selama tinggal di Jakarta, kita akan tinggal terpisah. Kamu tidak perlu datang menemui ku karena ku tidak akan pernah menemui mu."
Giliran Adam yang sekarang menggelengkan kepalanya. "Mana bisa begitu?."
"Kamu tidak tahu, Adam. Kekuasaan yang dimiliki oleh Anggara dan Andreas, pasti bukan perkara sulit bagi mereka mengetahui apa yang terjadi pada kita selama di sini. Jadi jangan banyak tingkah yang aneh." Balas Mama Mona memperingatkan Adam. Tidak lupa juga Mama Mona membelikan mainan yang sangat banyak untuk ketiga cucunya.
"Lalu bagaimana kalau aku merindukan mu atau sebaliknya?."
"Simpan saja rasa itu atau kamu bisa mencurahkan nya pada istri mu di rumah."
__ADS_1
"Tapi aku yang aku rindukan kamu, bukan Anggraini."
Mama Mona melihat tingkah konyol Adam yang menurutnya sangat memuakkan. Bagaimana bisa ada pria yang begitu jahat dan egois seperti kliennya itu?. Tapi sayangnya, pria itu sekarang sudah menjadi suaminya.
Tidak ingin memperpanjang perdebatan diantara mereka, Mama sudah bersiap untuk pergi terlebih dulu ke bandara. Lebih dirinya menginap di hotel yang dekat dengan bandara. Meksi Adam sudah memintanya untuk tetap berada di dalam kamar.
"Aku harus pergi." Mama Mona segara menyeret dua koper keluar dari kamar.
.
.
.
Untung saja ini hari Minggu, jadi mereka tidak harus memikirkan sekolah. Mereka begitu senang melihat banyaknya jenis mainan yang sudah di bawa oleh Mama Mona.
"Bagaimana pekerjaan Mama di sana?." Tanya Diandra sambil berdiri, mengusap perutnya karena pergerakan pagi yang membuatnya kurang nyaman untuk tetap berada dalam posisi duduk.
"Lancar." Jawab Mama Mona singkat, sebenarnya berharap Diandra atau Anggara tidak menanyakan apa pun tentang Semarang.
__ADS_1
Mama Mona segera menarik tangan Katherine untuk duduk di atas pangkuannya, entah kenapa dia menjadi gugup setelah bersitatap dengan Anggara yang hanya beberapa detik.
"Mama akan tinggal di sini dulu kan?, anak-anak sangat merindukan Mama." Tanya Diandra.
Walau sempat ragu untuk mengiyakan permintaan Diandra, tapi akhirnya Mama Mona menganggukkan kepala tanda setuju.
Mama Mona menempati kamar yang biasanya di tempati kalau di rumah Diandra. Dia melihat posnelnya yang terus saja berdering dari lima menit yang lalu. Siapa lagi kalau bukan Adam.
Mama Mona menatap keluar dari jendela lantai dua tempatnya saat ini dan betapa terkejutnya Mama Mona saat tahu ada mobil Adam yang terparkir di luar pagar rumah Diandra.
"Maunya apa sih tuh orang?." Geram Mama Mona namun belum ingin mengangkat teleponnya.
Tidak lama berselang, ketiga cucunya mengetuk pintu sambil memangil namanya.
"Nenek!, nek!."
Mama Mona menampar pipinya berulang kali, bisa-bisa dirinya menikah saat sudah memilki cucu dan bagaimana kalau dia nanti punya anak?. Maka semakin kencang dia menampar pipinya.
"Awww..."
__ADS_1