
Tania harus bisa mengambil sikap untuk kelangsungan kehidupan Rini setelah ini. Tania melihat jika Rini yang paling sangat dirugikan. Maka dari itu Tania meminta Morgan untuk berbicara di dalam kamarnya bersama Paman Usman.
"Sekarang kau sudah menikah, meski aku tahu itu semua terjadi karena Kevin. Tapi setelah aku melihat hubungan mu dan Eliana, aku jadi berpikir ulang untuk mempertahan pernikahan kalian. Jadi aku minta pada mu untuk bersikap tegas, kalau mau melanjutkan hubungan pernikahan mu dengan Rini, maka segera bicara pada kedua orang tua mu dan Eliana. Karena Eliana juga berhak tahu. Tapi kalau kamu mau mengakhirinya, akhirinya saja sekarang sebelum mereka tahu pernikahan mu dan Rini. Jatuh kan talak untuk Rini sekarang juga!." Ucap Tania panjang lebar namun penuh ketegasan.
"Meski aku tidak tahu kedepannya hubungan ku dan Rini akan seperti apa. Tapi, ini bukan hanya semata karena permintaan dari Kevin. Aku pun ingin mempertahankan pernikahan bersama Rini yang baru beberapa hari ini. Dan untuk hubungan ku bersama Eliana, aku akan bicara padanya dan tentunya pada Mommy dan Daddy, secepatnya." Morgan memberikan jawab yang sangat yakin.
Tania dan Paman Usman saling melempar pandangan lalu kembali fokus pada Morgan.
"Aku akan pegang ucapan mu, Morgan. Dan selama kau belum bicara pada Eliana dan kedua orang tua mu. Maka aku belum mengizinkan Rini untuk keluar dari rumah ini." Tania ingin menjamin semuanya akan baik-baik saja untuk Rini.
__ADS_1
"Iya, Ma. Aku akan bicara dengan kedua orang tua ku dan Eliana." Morgan menyanggupi untuk segera memberitahu mereka semua.
Ini semua sudah bukan lagi tentang Kevin, tapi tentang hatinya yang sudah mulai ikut campur urusan hidupnya bersama Rini. Dia ingin menjadi orang pertama yang melihat senyum Rini kala Rini sudah bisa menerima kepergian Kevin dan pernikahan mereka. Dia ingin menjadi pria pertama setelah Kevin yang kembali dekat dengan Rini, meski nantinya hanya sebagai seorang teman atau pun sahabat. Dia tidak akan pernah memaksakan kehendak.
Anggara yang sudah kembali ke Villa, sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka mengetahui kedatangan Dad Willy dan Mommy Lidya.
"Kau tidak ingin menemui Lydia?." Tanya Dad Andreas, mengingat hubungan keduanya masih baik-baik saja. Bahkan di belakang Dad Andreas dan Dad Willy mereka masih berkomunikasi dengan lancar.
"Kau yang benar saja, sayang. Bagiamana bisa aku bisa membiarkan hasil kerja keras kita dinikmati oleh mereka. Mereka tidak memikirkan saat mereka mengambil semua harta kekayaan kita. Jadi sampai kapan pun aku tidak mau dan tidak rela jika mereka bahagia menikmati yang seharusnya menjadi hak milik kita." Balas Dad Andreas masih menyimpan kemarahan
__ADS_1
"Tapi kan kita tanpa harta itu juga sudah sangat bahagia, Dad. Jadi apa lagi yang harus diributkan?."
"Itu menyangkut harga diri ku, kau tidak akan paham!."
Diandra dan Anggara hanya menjadi pendengar yang baik saja untuk Dad Andreas dan Mommy Isabel.
"Aku ingin saat aku mati nanti, meninggalkan harta yang banyak untuk kalian semua. Supaya kalian tidak kesusahan sedikit pun. Apalagi aku akan memiliki cucu yang banyak, jadi semuanya harus sudah diperhitungkan dari sekarang."
"Jangan pernah bicara begitu, Dad!." Ucap Mommy Isbale, Anggara dan Diandra bersamaan.
__ADS_1
"Daddy akan panjang umur sampai semua cucu Daddy besar." Lanjut Anggara.