
Regina dan Anggara sama-sama kompak untuk tidak hadir dalam pertemuan yang diadakan di Singapore. Dengan alasan yang sangat di terima yaitu wanita yang sedang hamil dilarang untuk bepergian, apalagi harus sampai mengunakan perjalanan udara yang dapat mengakibatkan ganggang pada calon bayi mereka.
Meski agak kecewa namun Dad Andres tentunya tidak ingin juga membahayakan calon penerus dan pewaris keluarga besar mereka.
Tapi setelah perjalanan mereka selesai di Singapore, Dad Andreas dan yang lainnya akan mengunjungi Regina dan Anggara di Indonesia. Dan mereka sudah harus matang-matang mempersiapkan kehamilan untuk Regina.
"Kau harus selalu ada di sisi ku ketika mereka ada di sini. Aku tidak ingin menghadapi ini sendiri." Ucap Regina saat Anggara berkunjung ke kantor.
Ya, hari ini Anggara ke kantor sebagai ganti dia tidak bisa datang ke Singapore untuk mengelabui Dad Andreas. Karena ada Rini juga masih menemani Diandra.
"Iya, kau tenang saja." Ucap Anggara terdengar biasa saja di telinga Regina.
"Bagaimana keadaan bayi-bayi kita?." Tanya Regina penuh selidik.
"Mereka semua baik-baik." Jawabnya lagi tanpa ekspresi.
Regina berjalan menuju Anggara yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Sebelum Regina duduk di pangkuannya, Anggara sudah menolaknya dengan halus dengan mengatakan maaf karena dia harus meeting lima menit lagi.
Kemudian Anggara bangkit dan meminta Regina untuk ikut meeting bersamanya, namun Regina menolaknya. Dari pada dia harus ikut meeting mending dia shopping bersama Tania dan teman-temannya yang lain.
Anggara bisa bernafas lega ketika Regina sudah meninggalkan kantor, untuk meeting yang dikatakannya, dia menyerahkan pada Paman Usman, Mario dan Carlos.
Anggara sendiri lebih memilih pulang ke Villanya untuk menemani Diandra dan ketiga bayi mereka.
Sedangkan di Villa, Diandra dan Rini baru membuka kotak yang diberikan Morgan untuk Diandra beberapa hari lalu. Untung saja semua coklat itu tidak lumer. Ya, kotak yang diberikan Morgan untuk Diandra lewat Rini isinya coklat.
"Bagaimana bisa aku lupa?." Rini menepuk jidatnya berulang kali. Kalau saja dia tidak siap-siap untuk pulang. Mungkin hari pun kotak coklat itu masih belum di buka.
"Enggak apa-apa Rin. Enak juga coklatnya, Rin. Nih kau harus mencobanya?." Diandra langsung memakan coklat tersebut lalu menyodorkannya pada Rini supaya ikut memakannya.
"Emmm....enak juga." Rini menimpali karena rasanya memang enak.
"Morgan dari mana mendapatkan coklat ini, kayanya di sini enggak ada jual?." Diandra memutar kotak untuk mencari nama merk dari coklat tersebut. Tapi sayang tidak tertera di sana.
"Masa enggak ada, Di?."
Diandra menggeleng lalu menyerahkan pada Rini, supaya Rini bisa mencarinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak ada." Rini ikut menggeleng.
"Ko bisa enggak ada ya, sumpah ini enak banget, Rin." Diandra kembali memakan coklat itu.
"Apa yang sangat enak, Mommy Di?." Tanya Anggara yang baru saja sampai di Villa. Dia langsung ikut bergabung dengan istri dan sahabatnya.
"Coklat ini, Dad. Apa Daddy tahu coklat ini beli diman." Diandra menyerahkan kotak coklat itu lada Anggara.
Kening Anggara berkerut dengan wajah datarnya.
"Dari mana Mommy Di mendapatkan coklat ini?." Bukannya menjawab, Anggara malah balik bertanya dengan tatapan sedikit kurang suka.
"Morgan, Dad." Jawab Diandra acuh, mau dari siapa pun ini coklat sangat enak dan lumer di dalam mulutnya.
"Morgan?, kapan Morgan ke sini?." Anggara harus bersiap jika Morgan tahu keberadaan mereka di sini.
Diandra menggeleng sambil kembali memakan coklatnya.
"Morgan menitipkannya pada Rini."
"Kau sudah pastikan saat ke sini, Morgan tidak mengetahuinya?." Anggara tidak ingin membahayakan Diandra dan ketiga bayi mereka.
"Iya Dad, Rini di sini sudah ada tiga hari jadi seharusnya Morgan sudah ke sini kalau dia tahu keberadaan kita."
"Kamu benar, tapi tetap saja kita harus waspada."
"Iya Dad."
Karena Diandra sudah ada yang menemani yaitu suaminya sendiri, Anggara. Rini pun berpamitan pulang pada Anggara dan Diandra. Karena dia sudah cukup lama berada di sana bersama mereka.
Beberapa hari berlalu, dimana sekarang kedua orang tua dari pasangan suami istri, Anggara dan Regina. Mereka sudah sampai di bandara.
Anggara dan Regina yang menjemput mereka, tentunya dengan kondisi perut Regina yang sudah terlihat seperti orang hamil sungguhan.
Sementara Diandra kembali ke rumah Mama Mona atas permintaan Anggara dan Mama Mona sendiri.
Sesampainya di bandara, Anggara dan Regina mencari keberadaan Mommy Isabel dan Mommy Lydia.
Saat mereka bertemu Mommy Lydia dan Mommy Isabel begitu senang saat melihat perut Regina yang sudah mulai terlihat mengembang. Begitu juga dengan Dad Andreas dan Daddy Willy.
__ADS_1
"Nah begitu seharusnya, kau dampingi istri kau terus. Jangan mau bikinnya saja." Celetuk Dad Andreas menepuk pundak yang sang putra.
"Daddy!." Protes Mommy Isabel. Begitu lah kalau Dad Andreas bercanda. Tapi sekalinya serius semuanya begitu segan dengan sikap keras dan disiplinnya.
"Iya Dad, aku akan selalu mengusahakan selalu siaga untuk Regina. Iya kan, Baby?."
"Iya, sayang."
Mereka semua berjalan menuju mobil lalu Anggara yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil Regina menceritakan masa kehamilan yang sempat dibacanya, dari buku dan situs yang diaksesnya.
Regina bercerita dengan begitu pandai, sehingga dari mereka tidak ada yang mencurigainya. Terlebih Mommy Isabel dan Mommy Lydia pun hampir sama dalam menjalani masa-masa kehamilannya.
Morgan yang menyambut kedatangan mobil yang membawa mereka semua.
Dengan wajah yang semakin tampan, senyum manis yang menghiasi wajahnya. Morgan mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tuanya.
"Mommy...Daddy...."
"Morgan..."
Mommy Isabel dan Dad Andreas juga bergantian memeluk Morgan yang merupakan salah satu penerus perusahaan mereka.
"Uncle...aunty..."
"Kau semakin tampan Morgan, semua wanita pasti sudah mengantre di belakang kan?." Canda Dad Andreas sambil merangkul pundak Morgan mengajaknya ke dalam rumah.
"Yang antre banyak Uncle, tapi yang aku mau masih susah aku taklukan." Ungkap Morgan dengan jujur.
"Tenang saja, Morgan. Kau hanya tinggal tunjuk wanitanya siapa, biar lah Daddy kau dan Uncle yang akan mengurus semuanya." Balas Dad Andreas.
Telinga Anggara begitu panas mendengar penuturan dari Dad Andreas dan Morgan. Meski bukan nama Diandra yang meluncur dari bibir Morgan. Namun sejurus kemudian Daddy Willy bertanya nama wanita yang sedang disukai putra bungsunya itu.
"Katakan pada Daddy, Morgan. Siapa wanita yang sedang kau ingin dekati?."
Bukan Morgan yang menjawab pertanyaan Daddy Willy melainkan sang kakak, Regina.
"Namanya Diandra, Dad. Bahkan Morgan sudah memintanya langsung pada Mamanya Diandra, tapi masih belum ada jawaban."
__ADS_1
Anggara semakin tidak menyukai topik pembicaraan yang menyeret nama istrinya.