Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 67 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

"Kau lihat ketulusan yang dimiliki Diandra untuk putra kita?." Dad Andreas mengangguk. "Aku sangat menyesal sudah menyakitinya."


Anggara sudah dibawa pulang oleh Dad Andreas ke rumah mereka yang masih tersisa. Rumah yang sederhana namun cukup untuk menampung mereka. Bukannya Dad Andreas dan Mommy Isabel tidak stress, atau frustasi, atau pun putus asa atau bahkan bisa sampai gila dan memilih jalan kematian. Tapi dengan bermodalkan mental kuat yang mereka miliki hingga mereka menjadikan Diandra sebagai patokan mereka dalam menghadapi permasalahan dalam hidup ini. Diandra saja masih bisa tersenyum dan waras setelah bertubi-tubi kejadian buruk yang menimpanya. Jadi mereka berusaha berdamai dengan keadaan mereka yang sekarang.


Sekarang sudah tidak ada lagi nama besar Dad Andreas di Negera Jerman dan beberapa kota lainnya karena sekarang semua perusahaannya sudah atas nama Dad Willy. Nama besar itu kini hanya menjadi kenangan manis yang terlalu menyakitkan karena sifat kesombongan dan keserakahan yang dimiliki oleh Dad Andreas.


"Karena aku kalian harus banyak kehilangan, maaf aku sudah banyak menyusahkan."


"Bukan karena kau, kami harus kehilangan semua harta kami. Itu memang murni karena kecerobohan Daddy, sudah memelihara ular di perusahaan kita. Karena kau pun dan anak-anak serta Diandra merupakan harta kami juga yang sangat berharga."


"Terima kasih, Dad. Terima kasih sudah menganggap kami bagian dari keluarga." Anggara begitu terharu, semua yang terjadi membawa hal positif untuk Dad Andreas dan mereka semua.

__ADS_1


Keberadaan Diandra di kota Paris, sudah terdengar sampai Monica. Saat ini Monica sedang dalam perjalanan rumah Dad Andreas. Tapi Monica cukup terkejut dengan tinggal mereka yang sekarang.


"Apa yang bisa aku bantu untuk kalian?." Tanya Monica setelah duduk dan memangku Katherine.


"Tidak ada, kami akan ikut bersama Anggara dan Diandra." Balas Dad Andreas. Meski pun dia harus ikut dan menggantungkan hidupnya pada Anggara dan Diandra, tapi itu lebih baik karena mereka bisa melihat pertumbuhan ketiga cucunya.


"Aku turut prihatin atas apa yang terjadi. Tapi aku harap kalian akan baik-baik saja dimana pun berada. Dan tolong jangan pernah sungkan untuk meminta apa pun pada ku, karena aku begitu menyayangi kalian." Monica mengecup pipi Katherine dengan begitu gemas.


"Iya, terima kasih atas perhatian kau pada keluarga kami."


"Kau sendiri bagaimana sekarang?." Monica mendekati Anggara setelah memberikan Katherine pada Mommy Isabel.

__ADS_1


"Sudah lebih baik lagi, apa lagi ada istri ku di sini."


"Percaya, kau sangat terlihat lebih baik." Mereka tersenyum setelah mencairnya suasana.


"Kapan kalian berangkat ke Jakarta?."


"Mungkin dalam waktu dekat. Karena ada beberapa hal yang harus aku dan Isabel urus."


"Ok. Karena sudah malam aku harus segera pulang. Kalian juga perlu istirahat". Pamit Monica pada semuanya. Lalu dia meminta izin pada Anggara untuk berbicara berdua dengan Diandra sebelum pulang.


"Ada apa, Miss Monica?." Tanya Diandra setelah berada di teras rumah dan hanya ada mereka berdua.

__ADS_1


Monica mengeluarkan amplop coklat berukuran kecil nan tipis. Lalu dia meletakkannya di dalam telapak tangan Diandra. "Tolong jangan pernah menolak bantuan dari ku, anggap saja ini royalti atas semua design-design yang telah kamu buat. Jadi kamu tak perlu merasa berhutang budi. Aku benar-benar menyayangi kalian semua. Aku akan berusaha mencari jalan untuk sedikit memulihkan perusahaan Andreas."


"Terima kasih banyak, Miss Monica. Miss Monica begitu baik pada ku dan keluarga ku." Balas Diandra lalu mereka saling berpelukan.


__ADS_2