Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 38 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Morgan terus saja mengingat apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu saat di kantor Anggara. Walau pun hanya sekilas dia melihat layar ponsel milik Anggara tapi dia cukup mengenali siapa pemilik senyum dan wajah itu.


Reno masih diam menunggu Morgan yang begitu asyik dengan lamunannya sejak tadi. Dia tidak ingin menganggu Morgan dengan pikirannya yang sedang fokus pada kehamilan Diandra dan penemuan terbarunya.


"Rasanya tidak mungkin jika aku salah lihat dengan wajah itu?."


Morgan menarik rambutnya frustasi sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tapi rasanya juga tidak mungkin jika Anggara bersama Diandra. Kalau itu sampai terjadi, berarti Anggara sudah mengkhianati kakak dan keluarganya.


"Apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Anggara dan Diandra?."


"Aku belum menemukanya, karena frekuensi pertemuan kami pun tidak banyak. Hanya saja..." Morgan mulai mengingat malam dimana Anggara hadir diantara dirinya dan Diandra.


Morgan segera mengajak Reno pergi untuk menemui sang kakak karena ada yang ingin ditanyakan olehnya.


"Aku tunggu di mobil saja." Reno menolak masuk ke rumah Regina yang sepi. Karena Daddy Willy, Mommy Lydia, Dad Andreas dan Mommy Isabel sudah pulang.


"Apa yang ingin kau tanyakan?." Tanya Regina to the points saat Morgan masuk ke dalam kamarnya.


Morgan duduk di sofa dengan tatapan yang fokus.


"Sepertinya serius sekali, ada apa?." Tanya Regina lagi.


"Kak Regina masih menempatkan orang untuk mengawasi kak Anggara 'kan?."


"Hem, masih. Ada apa?. Kau melihat Anggara berbuat aneh di luar sana atau bagaimana?." Regina menegakan tubuhnya karena cukup tegang apa yang mereka obrolkan.


"Tidak, Kak. Aku hanya ingin bertanya dan memastikannya saja. Aku tidak pernah melihat Kak Anggara bersama wanita lain atau pun berbuat aneh di luar sana." Jawab Morgan berusaha bersikap tenang, padahal hatinya bergemuruh karena ada nama Diandra yang sangat menganggu kinerja detak jantungnya.


Dan berharap dia salah dalam melihat wajah itu yang ada dalam layar ponsel Anggara.


"Aku bahkan sudah menempatkan orang baru untuk bisa mengawasi Anggara, baik di kantor pun saat di luar kantor." Ucap Regina bangkit lalu mengambil ponsel karena ada panggilan masuk.


"Baik lah, Kak. Aku pulang. Hanya itu saja yang ingin aku bicarakan."


"Ok, Morgan. Hati-hati." Ucap Regina sebelum dia mengangkat telepon dari Tania.


Pikiran Regina sedikit teralihkan sebelum dia memulai obrolan dengan Tania.


"Apa Morgan mulia curiga tentang, Diandra?."


Morgan dan Reno masih ada di dalam mobil depan rumah sang kakak.


"Tapi sepertinya Anggara tidak mungkin. Karena orang-orang Kak Regina sudah ada dimana-mana."


"Kau bisa memastikan mereka tidak bekerja juga untuk Anggara?."

__ADS_1


Morgan menoleh kearah Reno, membenarkan apa yang dikatakan oleh Reno.


"Kenapa hal itu bisa tidak terpikir ku?."


"Apa pun bisa terjadi."


Reno dan Morgan kembali diam, banyak hal yang sanggup menutupi kehamilan Diandra. Dan pasti ini dilakukan bukan orang sembarangan. Atau mereka saja yang terlalu gampang untuk bohongi.


"Kemarin aku sudah ke rumah Diandra, tapi Mamanya bilang Diandra sedang keluar. Berarti Diandra memang sedang bersembunyi dan hanya orang tertentu saja yang bisa menemani Diandra."


Morgan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Regina. Kini rumah Kevin lah yang ingin didatanginya.


Morgan harus kecewa karena pada saat sampai di rumah Kevin, tidak ada satu orang pun yang bisa dijumpainya. Karena baik Kevin atau pun Tania sedang pergi.


Sementara itu Regina yang merasa cukup terganggu dengan pertanyaan Morgan, dia segera ke kantor Anggara.


Regina tidak langsung turun dari mobil setalah sampai di kantor Anggara, sebab dia melihat Anggara sedang tergesa-gesa masuk ke dalam mobilnya.


Regina mengikuti Anggara dari jarak yang cukup aman.


"Mau kemana Anggara?." Gumamnya lirih.


Dia langsung menghubungi anak buahnya yang ada di kantor untuk bertanya kepergian suaminya. Tapi sungguh sangat disayangkan, Regina malah mendapatkan jawaban jika Anggara sedang berada di kantor karena urusan meeting. Padahal jelas-jelas dia melihat sendiri Anggara ada di depan matanya.


"Ada yang tidak beres." Regina melempar ponsel pada kursi disebelahnya.


Regina begitu tercengang ketika dia melihat Diandra dengan perut yang sudah sangat besar memeluk dan mencium Anggara. Begitu pun Anggara sangat hangat terhadap Diandra.


Dadanya yang bergemuruh dibarengi dengan rasa yang begitu sangat sesak, air mata yang hampir tidak bisa ditahannya dengan tangan yang terkepal.


Regina turun dari mobil setelah kedua orang yang yang sangat melukainya masuk ke dalam rumah.


Kaki yang dipaksakan untuk berjalan untuk lebih mendekati rumah yang saat ini di huni oleh Anggara dan Diandra.


Hati Regina semakin hancur ketika dia melihat dengan kepalanya sendiri dan begitu sangat jelas. Dimana Anggara begitu memuja tubuh Diandra dengan perut besarnya.


Regina segera meninggalkan rumah tersebut dengan luka yang begitu dalam atas pengkhianatan Anggara.


Disertai dengan amarah yang memuncak Regina meraih ponselnya.


Morgan dan Reno kembali mendatangi tempat yang sebelumnya pernah mereka datangi. Namun kali ini dia sudah pasti akan mendatangi rumah yang mana.


"Apa kau yakin?."


"Hem, aku yakin."

__ADS_1


Tidak lama mereka sudah sampai di sebuah rumah yang dimaksudnya.


Morgan dan Reno segera turun dangan posisi Reno berjalan didepannya.


Tok


"Mungkin itu makanannya sudah datang, Mommy Di." Anggara segera mengenakan pakaiannya lengkap.


Sebelum itu Anggara ******* pelan bibir Diandra yang cukup bengkak karena permainan bibir mereka.


Ceklek


"Morgan?."


"Kak Anggara?."


Keduanya saling tatap-tatapan untuk beberapa detik, hingga Diandra muncul dari belakang Anggara.


"Daddy mana makan..." Diandra menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh kekar Anggara.


"Masuk lah ke kamar, Mommy Di!." Diandra menggeleng dibalik punggung suaminya.


"Diandra?."


Bugh


"Awww..."


Anggara yang mendapatkan pukulan yang sangat keras dari Morgan, pukulan yang dibarengi dengan amarah yang memuncak. Namun Diandra yang menjerit kesakitan.


"Itu untuk wanita yang sangat aku cintai!. Kau sudah merusaknya, bangsat!.


Anggara mengelap sudut bibirnya yang sedikit robek sehingga mengeluarkan darah tanpa ingin membalas apa yang dilakukan oleh Morgan, karena dia sudah menganggap Morgan seperti adiknya sendiri.


"Morgan sudah hentikan!. Ini semua tidak yang kau bayangkan. Apa pun yang aku lakukan, tidak ada hubungannya dengan kau!." Diandra memegangi wajah Anggara dan mengelap sisa darah yang masih menempel dengan ibu jarinya.


Tindakan seperti itu jelas saja memancing Morgan untuk melayangkan kembali pukulannya. Hingga pada detik berikutnya Morgan kembali melayangkan bogem mentahnya dengan sangat keras hingga Anggara ambruk di kaki Diandra.


"Dad!." Teriak Diandra sambil membantu Anggara untuk bangun, tapi sejurus kemudian tangan Diandra di tarik supaya menjauh dari Anggara.


Tapi sayang, karena tarikan Morgan yang cukup kuat yang mengharuskan Diandra terpelanting ke belakang dan punggungnya membentur dinding.


"Awww...." Diandra menahan tangannya memegang pada dinding supaya tidak jatuh dengan posisi duduk yang dapat membahayakan kehamilannya.


Sontak saja Anggara langsung berdiri dan menghantam tubuh Morgan dengan pukulan yang tidak kalah kencang, sampai Morgan terhuyung ke belakang mengenai Reno.

__ADS_1


"Itu untuk istri dan calon anak-anak kami!."


Setelahnya baru dia segera membantu Diandra yang masih bertahan dengan kedua kakinya dengan susah payah. Untung saja Anggara bisa cepat memberikan pertolongan.


__ADS_2