
Morgan merasakan ada pergerakan di atas tempat tidur, Morgan juga tahu jika saat ini Rini sedang membantu melepaskan pakaiannya yang basah karena keringat. Tapi matanya masih terpejam efek dari obat yang diminumnya.
Morgan tidak lagi mendapati tubuh atasnya berpakaian. Di saat dirinya memaksa untuk membuka kedua matanya, tatapan mereka beradu untuk beberapa saat hingga Morgan menurunkan pandangnya pada tubuh Rini yang ada didepannya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku hanya ingin membantu menurunkan demam mu." Ujar Rini seraya mendekati tubuh Morgan lalu menempelkan kulit mereka.
"Apa dengan cara ini akan efektif untuk menurunkan demam ku?." Tanya Morgan dengan deru nafas yang mulai tidak teratur.
"Makanya kita akan mencobanya." Jawab Rini ketus untuk menutupi perasaan hatinya yang saat ini malu.
Kulit bertemu kulit, Rini menatap dada bidang Morgan yang selama tidak pernah dilihatnya. Pun dengan Morgan bisa langsung merasakan kulit Rini padahal selama ini dia tidak pernah melihatnya sekali pun.
"Tutup mata mu!." Kata Rini saat Morgan menatap dirinya dengan begitu lekat.
__ADS_1
"Apa aku tidak boleh menatap mu?."
Rini segera menggeleng. "Kamu harus tidur biar cepat sembuh. Kasihan Mama yang harus ke kantor."
"Kamu tidak kasihan pada ku?." Rini kembali menggeleng lalu mulai memejamkan mata.
"Cepat lah tidur!, kau harus cepat sembuh." Ucap Rini penuh kelembutan.
Morgan tidak menuruti apa yang Rini perintahkan padanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memandangi wajah istrinya yang terlihat begitu sangat cantik.
Tapi rupanya dorongan hati lebih kuat dari pada rasa takut di tolak, tangan Morgan sudah mendarat pada pipi Rini.
Membelai lembut permukaan halus kulit dari istrinya. Dirinya begitu bodoh telah mengabaikan wanita sebaik dan secantik Rini yang beruntungnya sudah menjadi istrinya. Sehingga dia berjanji untuk mencintai dan menyerahkan seluruh jiwa raganya hanya untuk Rini. Walau pun saat ini Rini masih bersikap acuh padanya.
__ADS_1
Tidak mendapatkan penolakan dari sang istri, dia jadi lebih berani untuk semakin mendekat kearah bibir Rini. Menyentuh dan menelusuri bibir itu dengan ibu jarinya. Seakan ada sesuatu yang menarik dirinya untuk semakin mendekat dan menyentuh bibir Rini.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Rini mendapatkan perlakuan yang begitu intim dari pria yang sudah berstatus suaminya. Mungkin Morgan juga sudah mendengar kerja dari detak jantung Rini yang begitu kencang. Terlebih saat Morgan menempelkan bibirnya pada bibir Rini.
Morgan menarik wajahnya setelah menempelkan bibirnya cukup lama pada Rini, hanya menempel saja. Lalu menatap kedua mata Rini yang terbuka.
"Apa kamu marah?." Tanya Morgan sembari mengusap lembut bibir yang sedikit terbuka itu.
Rini menggeleng lemah dengan mata yang kembali terpejam seolah memberikan sinyal pada Morgan untuk melakukan apa pun yang Morgan inginkan pada tubuhnya.
"Buka mata mu!, aku ingin kamu melihat jika aku yang menyentuh mu dan hanya aku yang akan menyentuh mu." Ucap Morgan sangat takut jika Rini akan membayangkan Kevin yang sedang mencumbunya.
Bukannya membuka mata, Rini malah menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Morgan.
__ADS_1
"Aku malu." Aku Rini semakin menyembunyikan wajahnya sehingga bibirnya menyentuh dada Morgan.