
Baru juga tiga hari Rini tinggal di rumah Diandra, membantu ibu hamil dalam mengurus semua keperluan anak-anak dan dirinya. Rini sudah diminta pulang oleh Tania sebab Morgan yang sudah dua hari ini demam tinggi padahal sudah ke dokter.
"Pulang lah, Morgan lebih membutuhkan keberadaan kau di sana."
"Tapi ini pertama kalinya Morgan sakit. Biasanya hanya demam biasa, minum obat lalu sembuh."
"Mungkin itu artinya kau harus lebih memperhatikan dan mengurus Morgan." Timpal Anggara yang ikut bergabung dengan mereka di kamar Rini. Rini sudah menyiapkan tasnya. Hanya tinggal menunggu Paman Usman datang menjemputnya.
"Aku juga sekarang sudah lebih perhatian padanya." Aku Rini pada keduanya.
"Sekarang lebih pada kau sebagai istri dan Morgan sebagai suami. Bukan hanya sebagai rekan kerja saja. Mungkin sekarang sudah saatnya kau memberikan Morgan kesempatan untuk menunjukkan perasaanya."
Rini terdiam, tidak ingin salah mengartikan apa yang dikatakan oleh Anggara. Rini menatap Diandra, lalu Diandra mengangguk kecil.
"Memangnya apa yang kau ketahui tentang Morgan atau Morgan pernah mengatakan apa?." Tanya Rini pada suami dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Dari yang aku lihat, Morgan mungkin sudah menyadari perasaannya, hanya saja dia melihat kau yang selalu masih terfokus pada Kevin, sehingga Morgan mengurungkan niatnya untuk memberitahukannya. Atau mungkin Morgan sudah memberikan tanda-tanda tapi kau masih mengabaikannya." Jawab Anggara tidak secara langsung menggambarkan perasaan Morgan saat ini pada Rini.
"Apa kau yakin kalau perasaan Morgan sudah pada ku bukan pada Diandra lagi?." Tanya Rini ingin memastikan.
"Karena setahu ku Morgan masih memiliki perasaan pada Diandra." Lanjut Rini mengasumsikan sendiri tentang Morgan yang selama ini tidak berjuang keras untuk membuktikan perasaan padanya. Bahkan Morgan terkesan biasa saja.
Diandra tidak sedikit pun ingin buka suara terkait Morgan. Biar kan Rini tahu sendiri perasaan Morgan yang sekarang.
"Makanya sekarang kau dan Morgan harus bicara dari hati ke hati. Bicarakan masa depan kalian dan segera miliki anak untuk semakin mempererat hubungan kalian."
Rini dan sepasang suami istri itu keluar dari kamar karena Paman Usman sudah tiba dan akan langsung jalan lagi.
Rini memeluk Diandra sebelum masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya berpamitan pada ketiga anak asuhnya.
.
__ADS_1
.
.
Sampai di rumah, Tania menyambut Rini dan suaminya. Paman Usman langsung masuk ke kamar untuk mandi. Rini menyempatkan diri untuk duduk di ruang makan.
"Makan dulu Rin, Morgan sudah makan dan minum obat." Ucap Tania menyodorkan piring tapi Rini menolaknya.
"Aku langsung masuk kamar saja ya, Ma. Aku mau lihat keadaan Morgan. Terima kasih Mama sudah mau menjaga Morgan." Rini bangkit dan memeluk Tania.
"Iya Rin, Morgan anak Mama juga. Ya sudah kalau kamu tidak mau makan. Siapa tahu dengan kamu pulang, Morgan bisa cepat pulih." Senyum Tania begitu lebar lalu membiarkan Rini masuk ke dalam kamarnya.
Dengan perlahan Rini masuk ke dalam kamar, melihat suaminya yang sudah tertutup selimut tebal. Rini mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur di sebelah tubuh Morgan.
Rini menarik selimut lalu meletakkan tangganya pada kening Morgan dan ternyata masih demam namun berkeringat. Melihat hal itu Rini teringat Kevin yang sakit sebelum meninggalkannya. Tanpa pikir panjang lagi Rini melepas semua pakaian, menyisakan underwear nya saja.
__ADS_1
"Aku tidak mau kehilangan lagi." Gumam Rini begitu lirih seraya naik ke atas tempat tidur.