
Pagi ini, Diandra harus terbang ke Paris guna mengikuti meeting di sana bersama jajaran petinggi perusahaan yang membiayai produksi dari beberapa design yang dibuatnya.
Semua perlengkapan yang di bawa Diandra cukup untuk dirinya berada di sana selama selama dua Minggu. Dan itu akan dia gunakan untuk mengeksplor dirinya lebih berkembang lagi.
"Hati-hati, Di. Nanti kami akan menyusul." Peluk Rini yang mengantarkan Diandra ke bandara.
"Iya, aku akan menunggu kalian." Balas Diandra memeluk Rini.
"Jangan lupa hubungi kami kalau kau sudah sampai." Kevin ikut buka suara.
Diandra mengangguk setelah melepas pelukan dari Rini. "Iya, nanti aku akan menghubungi kalian. Aku titip kan Mama pada kalian."
Kevin dan Rini mengangguk kompak, "Iya, Di. Kami akan menjaga Mama Mona. Kau tenang saja. Kami sangat bangga pada apa yang kau dapatkan sekarang." Lanjut Rini dengan mata yang berkaca-kaca.
"Semua ini juga berkat kalian semua yang selalu mendukung ku." Diandra menghapus air mata Rini.
"Cepat lah masuk!. Nanti kau ketinggalan pesawat." Kevin menarik Rini lalu merangkulnya posesif. "Biar kan Diandra pergi untuk meraih kesuksesannya."
Rini mengangguk sambil menatap Kevin lalu memeluknya dari samping.
"Aku pergi ya, jaga diri kalian, jaga Mama ku ya!." Ucap Diandra sambil melambaikan tangannya dan mulai meninggalkan Rini dan Kevin yang melambaikan tangan juga.
Diandra menghilang di balik pintu, dia segera menuju ruang tunggu. Karena masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi sebelum masuk ke pesawat.
"Aku akan berjuang untuk mengembalikan apa yang sudah hilang dari tangan Mama karena aku." Diandra menatap kontrak kerja sama ekslusif dari Paris.
Setelah beberapa jam melewati perjalanan udara, kini Diandra sudah mendarat dan menginjakan kakinya di kota Paris.
Sampai di bandara, Diandra di jemput supir dari dari perusahan yang sudah mengontrak dirinya.
Supir akan mengantarkan Diandra ke apartemen yang akan ditinggalinya selama dua Minggu kedepan.
"Terima kasih." Ucap Diandra ketika supir itu sudah banyak membantunya sampai ke apartemennya.
"Sama-sama, Nona." Balasnya, kemudian dia pamit undur diri tanpa menerima apa pun dari Diandra.
Diandra hanya mengistirahatkan tubuhnya dengan rebahan di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
Di saat seperti ini semua kenangan itu kembali lagi di dalam ingatannya. Hanya dalam ingatannya, karena dia tidak memiliki benda berharga apa pun dari mereka yang sudah pergi. Hanya luka yang mereka torehkan sangat dalam, terutama dari mereka yang dicintainya.
Keesokan paginya...
Diandra sudah sangat cantik dengan balutan dress yang menutupi tubuhnya. Dia akan menghadiri meeting pertamanya.
__ADS_1
Memasuki gedung perkantoran yang begitu elit, dengan semua para karyawannya yang berpenampilan sangat super modis.
Diandra mengikuti langkah orang yang sudah berjalan didepannya, untuk membawanya pada puncak gedung tertinggi.
"Silakan masuk, Nona Diandra!. Semua orang sudah menunggu kedatangan Nona Diandra." Ucap orang yang membawa Diandra dengan begitu sopan. Sedikit membungkukkan tubuhnya sambil membuka sedikit pintu ruang meeting.
"Terima kasih." Balas Diandra ikut membungkukkan sedikit tubuhnya lalu dia masuk dari celah pintu tersebut.
Riuh tepuk tangan menyambut kehadiran Diandra yang masih diam mematung di dekat pintu.
"Selamat datang, Nona Diandra." Sambut wanita parah baya tapi dengan style yang terlihat seperti anak muda.
Wanita parah baya itu memeluk Diandra dengan begitu hangat, menerima kedatangan Diandra ke perusahaan mereka.
"Terima kasih." Balas Diandra sedikit sungkan.
Dengan senyum yang selalu mengembang dari wanita paruh baya, Diandra di ajak mendekat pada mereka yang sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Ayo kita duduk di sini!." Diandra segera menarik kursi untuk didudukinya sebelum wanita parah baya itu yang melakukannya.
"Kau sangat baik." Ucap wanita itu sambil duduk di sebelah Diandra.
Diandra duduk diantara orang yang baru dilihatnya hari ini, sampailah dia melihat pada sosok pria yang duduk di paling ujung sendiri, bersamaan dengan seorang wanita cantik dan seksi disebelahnya.
"Morgan." Batin Diandra.
"Bersabarlah dulu, Andreas. Mentang-mentang Sekarang pundi-pundi dollar sudah ada digenggaman kita, karena designer muda ini. Kau jadi tidak sabar untuk mengenalnya. Bersabarlah, tungg sebentar lagi" Balas Monica lalu menatap kearah pintu.
Ya, salah satu petinggi perusahaan yang hadir dalam meeting ini adalah Dad Andreas, ayahnya Anggara. Namun Diandra tidak mengenalinya sama sekali, karena memang dia belum pernah bertemu. Begitu juga sebaliknya.
"Putra ku tidak akan ikut meeting, dia lagi pergi jalan-jalan dengan anak-anak dan istrinya." Sahut Dad Andreas yang mengerti pasti Monica sedang menunggu putranya.
Sudah beberapa hari ini Anggara sudah jarang mengikuti meeting dimana pun. Karena ketiga anaknya yang tidak lain penerus perusahan besar milik Dad Andreas.
"Baik lah kalau seperti itu, perhatian semuanya." Ucap Wanita paruh baya itu, hingga bukan Diandra saja yang fokus menatap padanya, melainkan semua orang yang sudah hadir di sana.
Monica mulai memperkenalkan mereka satu pada Diandra, sehingga Diandra sebagai orang yang lebih muda dan sebagai bentuk rasa hormat terhadap mereka, para petinggi dari perusahan tempatnya bekerja sama. Dia menjabat tangan mereka satu persatu dengan sambil menundukkan sedikit tubuhnya. Tidak terkecuali pada Morgan sekali pun.
Suasana dalam ruang meeting pun menjadi hangat seketika, mereka berbicara sesuai dengan kapasitas mereka di dalam dunia bisnis yang sudah mereka geluti. Diandra hanya menjadi pendengar yang baik kala mereka menyampaikan harapan dan mimpinya pada Diandra lewat design yang akan dibuat Diandra untuk perusahan mereka.
Sampai tidak terasa hingga sudah waktunya makan siang, tidak segan-segan mereka mengajak Diandra untuk makan siang bersama. Dan Diandra pun menerimanya.
Hanya untuk merapikan riasan saja, Diandra berbisik pada Monica untuk berpamitan ke toilet.
__ADS_1
"Hai, Diandra." Sapa Eliana dari balik pintu toilet.
"Hai, Eliana." Balas Diandra.
"Aku salah satu orang yang sangat suka dengan semua design-design yang kau hasilkan." Puji Eliana dengan jujur, bahkan ada beberapa pakaiannya yang dibuat dengan menggunakan design Diandra, yang diambilnya dari internet.
"Oh terima kasih, Eliana." Diandra begitu senang jika ada orang yang mengapresiasi hasil karyanya.
"Selamat bergabung di perusahan ini, Diandra." Eliana menyambut baik kerja sama yang sudah terjalin antara Diandra dan perusahan tempatnya bekerja.
Setelah selesai, Diandra berpamitan pada Eliana untuk keluar terlebih dahulu. Eliana hanya mengangguk sambil memoles bibirnya.
"Diandra!." Panggil Morgan sambil berjalan kearah Diandra yang baru saja keluar dari toilet.
Diandra berdiri menunggu Morgan. Sampai pintu toilet terbuka berbarengan dengan Morgan yang sampai di depan Diandra.
"Morgan, kamu menyusul ku sampai sini?." Tanya Eliana dari balik tubuh Diandra.
"Eli..." Morgan tergagap menatap kedua wanita yang berdiri didepannya.
"Baiklah, aku permisi." Ucap Diandra pada Morgan dan Eliana, dia berjalan menuju ke tempat meja makannya.
Usia makan siang, Dad Andreas berpamitan untuk pulang lebih cepat karena ada urusan. Sedangkan Monica membawa Diandra untuk berkeliling di dalam gedung perusahan yang dipimpinnya. Memperlihatkan beberapa design pakaian orang dewasa serta beberapa koleksi lainnya.
"Kau masih muda, Di. Tapi bakat yang kau miliki sungguh sangat luar biasa." Puji Monica ketika mereka sudah berada di salah satu tempat yang bisa melihat pemandangan kota Paris dengan sangat jelas.
"Anda terlalu berlebihan, aku juga mendapatkan ini semua tidak mudah." Jawab Diandra sambil mengagumi keindahan kota Paris di sore hari dari tempat setinggi ini.
"Tapi kau akan menjadi seorang designer hebat, Di." Monica tidak ada hentinya memuji Diandra.
"Terima kasih, aku hanya bisa mengamini apa yang anda ucapkan."
Karena Diandra yang sebenarnya merasa sangat risih, karena harus memanggil wanita paruh baya itu tanpa embel-embel apa pun didepannya. Akhirnya Diandra meminta izin pada Monica untuk memanggilnya dengan sebutan Miss. Dan Monica tidak keberatan dengan alasan rasa hormat pada yang lebih tua. Hanya untuk Diandra saja.
Keduanya memandangi kota Paris yang sudah hampir gelap karena malam. Monica kembali buka suara sambil menatap Diandra.
"Di sini salah satu tempat favorit ku, Aku bisa menghabiskan waktu sampai berjam-jam, bahkan bisa sampai berhari-hari di sini, hanya untuk mendapatkan sebuah ide brilian. Atau hanya sekedar untuk menghilangkan rasa penat ku."
"Iya aku rasa tempat ini akan sangat banyak menginspirasi." Jawab Diandra sangat setuju dengan Monica.
"Kau sangat cerdas, Diandra." Lagi-lagi Monica memuji Diandra.
"Apa Miss tidak bosan untuk memuji ku terus?." Diandra tersenyum lebar menikmati angin yang sedari tadi menembus dress nya.
__ADS_1
"Kau sudah memiliki kekasih, suami atau semacamnya?." Tanya Monica berani.
"Aku tidak harus menjawabnya 'kan Miss!." Tolak Diandra sambil memandang jauh ke depan, kini dalam kehidupannya hanya ada Mama Mona, Mama Mona dan Mama Mona. Karena Mama Mona yang dia miliki dalam hidupnya.