
Rini masih diam dengan ungkapan perasaan Morgan. Antara percaya dan tidak percaya, Rini menanggapinya. Sebab yang dirinya tahu begitu besar perasaan cinta Morgan untuk sahabatnya.
"Pasti kamu tidak akan mudah percaya pada ku." Morgan menebak diamnya Rini atas pernyataannya tersebut. Aku juga butuh beberapa tahun untuk tahu dan meyakini perasaan ku pada mu." Morgan merapikan rambut Rini yang sebagian menutupi wajah cantik yang selalu ingin dipandangnya.
"Maaf, karena baru sekarang aku menyadari dan mengatakannya pada mu. Aku mencintai mu, Rini." Morgan kembali menyatakan perasaannya. Tapi kali ini Morgan melabuhkan sebuah kecupan pada bibir Rini yang sedikit terbuka.
Seketika Rini mengikuti Morgan untuk menutup matanya, menikmati ciuman mereka yang begitu hangat dan lembut, namun itu tidak berlangsung lama. Karena lidah Morgan menerobos masuk ke dalam rongga mulut Rini yang begitu memabukkan. Sampai-sampai Rini dan Mirgan lupa jika di luar ads yang menunggunya.
Rasanya Anggara ingin menggedor pintu kamar Morgan dan Rini jika tidak ingat mereka adalah pasangan suami istri. Kalau saja pasangan mesum sudah mereka gerebek dari setengah jam yang lalu.
"Mau tante Rini!." Katherine sudah tidak sabar dan terus saja mau menghampiri kamar Rini kalau tidak dilarang oleh Diandra.
"Iya sayang, nanti tante Rini keluar. Tante Rini lagi menyiapkan obat untuk Om Morgan." Diandra kembali menenangkan Katherine yang kembali merengek.
__ADS_1
Dengan tidak sabarannya, Anggara segera mengetuk pintu dengan cukup kencang dan satu kali gedoran bukan ketukan.
Rini segera merapikan blouse dan menurunkannya, tidak lupa menyangga kembali buah dada yang tadi tanpa ada penghalang. Supaya mempermudah Morgan untuk menyentuh dan menikmatinya.
"Aku lupa." Rini mengikat rambut asal.
"Di ruang tamu Diandra, Anggara dan Katherine sudah menunggu ku. Kamu diam di sini saja, biar aku yang keluar menemui mereka." Ucap Rini setelah rapi dan hendak mendekati pintu.
"Aku ikut, takutnya mereka akan berpikir yang aneh-aneh." Sahut Morgan segera menghampiri Rini.
Dan benar saja, pemilik rumah dan juga anaknya sedang menatap kearah mereka.
"Maaf aku lupa."
__ADS_1
Rini segera menggendong Katherine dan memeluknya. "Maafkan Tante Rini, sayang. Sekarang kita bobo ya." Rini segera hendak membawa Katherine masuk ke dalam kamar guna menghindari tatapan Diandra dan Anggara yang sangat mengintimidasi.
Diandra menarik lengan Rini dengan pelan lalu berdiri dihadapannya.
"Memang kau setelah memberi minum obat Morgan, melanjutkan kegiatan lain apa sampai lupa pada kami di sini yang sudah menunggu hampir dua jam?." Ucap Diandra dibuat semarah mungkin namun hanya untuk menggoda sahabatnya.
"Em...tidak ada, Diandra. Kami tidak melakukan apa pun."
"Mana mungkin mau mengaku, sayang. Yang jelas yang enak-enak lah makanya mereka lupa sama kita." Anggara semakin menggoda Rini dan Morgan lalu segara meninggalkan Rini dan Morgan yang hanya tersenyum malu.
Morgan mengelus punggung Rini saat Katherine sudah tertelap di samping Rini. Sementara Morgan berada di posisi belakang Rini. Sehingga mempermudah akses Morgan untuk menyentuh setiap inci tubuh istrinya.
"Ada Katherine!." Rini menahan tangan Morgan yang hendak meleapas pengait kacamatanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Katherine tidak akan terganggu sedikit pun dengan gerakan kita."
Perlahan Morgan membalik tubuh Rini dan kini mereka sudah tertidur dengan menghadap. Morgan meminta Rini untuk sedikit lebih memiringkan tubuhnya lalu bebasnya memainkan buah dada Rini yang sudah tidak berpenghalang.