
Pov Zian
Menjalani pernikahan rahasia seperti ini bukanlah keinginanku, entah kenapa Dila istriku menginginkan hubungan kami dirahasiakan, aku menuruti saja keinginannya, asalkan dia selalu ada untukku itu sudah cukup.
Pernikahan ini hanya diketahui oleh kakakku, memang aku berkata pada Dila jika aku menikahinya karena ingin memperolah saham dan warisan orang tua. Terlebih aku sangat membenci kakak ipar, suami kakakku, aku tak rela jika harta orang tuaku dimiliki kakak iparku, Mas Tyo. Aku begitu benci terhadapnya hingga aku melarang Dila berhubungan dengan kakakku dan suaminya. Bagiku, bukan hal baik jika Dila dekat dengan mereka meski mereka adalah keluarga.
Namun selain itu aku memiliki alasan lain, aku ingin menolong Dila, aku sempat melihatnya saat aku ke kantor rekanku. Dan pernah juga secara tidak sengaja aku bertemu Dila di jalan, saat itu dia mencari tumpangan ke rumah sakit, dia hendak membawa ibunya ke rumah sakit. Saat itu mungkin dia begitu panik sehingga tak memperhatikanku, padahal aku sudah mengantarkannya ke rumah sakit. Sempatku lihat wajah cantiknya yaang cemas akan keadaan ibunya,rasanya ingin sekali aku menenangkannya, namun aku tahu jika itu tidak mungkin.
Pertemuan dengan Dila sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Pertama kali aku melihatnya ketika aku baru saja kehilangan orang tuaku. Saat itu Dila masih baru saja menginjak remaja. Aku melihat Dila menangis karena di ejek teman-temannya karena ayahnya meninggalkannya. Saat itu aku menolongnya dengan cara mengusir teman-temannya. Aku melihat wajah sedih dan mata sayu Dila, entah kenapa hatiku berdetak lebih kencang saat melihatnya.
Tatapan matanya membuatku terhipnotis dan ingin memilikinya!
Sejak saat itu diam-diam aku memperhatikan Dila, aku mencari tahu semua tentangnya, dan dua tahun lalu aku tahu jika dia sedang kesusahan biaya karena merawat ibunya. Pucuk dicinta ulam pun tiba!
Dila dalam posisi terpojok dan tak mempunyai jalan keluar lagi akan biaya untuk ibunya, dan disaat itu pula aku menawarkan padanya untuk menikah denganku.
Seperti dugaanku, dia mau menikah denganku, namun aku tak habis berpikir akan syarat yang ia ajukan, dia menginginkan hubungan kami dirahasiakan. Demi lancarnya niatku, aku pun mengiyakan saja.
Begitulah caraku mendapatkan Dila, aku tak mampu mengatakan padanya jika aku menaruh hati padanya sejak pertama bertemu bertahun-tahun yang lalu. Kupikir lambat laun Dila akan menyukai juga.
Ada hal lain juga yang membuatku penasaran, entah mengapa Dila tak pernah mengatakan padaku jika ia sedang merawat ibunya, dia juga tak mengatakan jika uang yang kuberikan untuk biaya ibunya. Karena Dila tak berniat menceritakan padaku, maka aku pura-pura tidak tahu. Aku akan menunggunya bercerita sendiri padaku.
__ADS_1
Kuberikan ATM ku padanya, kupikir dia akan menggunakannya untuk kebutuhan pribadinya, namun hingga dua tahun pernikahan, tak pernah dia menggunakan uangku untuk kebutuhannya. Dia masih memakai pakaian sederhana, kulihat semua barang yang dikenakannya itu-itu saja. Baik itu tas, sepatu ataupun perhiasan.
Hingga aku pun membelikaannya sendiri. Kubelikan dia berbagai baju import, tas dan lain-lain. Aku ingin Dila bisa menikmati kehidupannya. Namun Dila sering kali mengatakan padaku, "jangan terlalu baik padaku!"
Oh Dila, jika bisa, inginku berikan seluruh dunia dan isinya jika kau mau.
Aku menyadari jika Dila bukanlah gadis matre seperti kata kakak, Dila adalah gadis yang jujur. Dia selama ini hanya menggunakan uangku untuk ibunya. Hal ini membuatku makin menaruh hati padanya.
Selain itu, Dila juga pandai bersikap, dihadapanku dia selalu menggodaku seperti wanita ****** yang haus akan uang. Namun aku tahu jika dia hanya bersandiwara. Dila melakukan semua itu hanya demi ibunya.
Ingin aku agar Dila mengatakan yang sebenarnya padaku. Aku kasihan padanya jika harus terlihat seakan dia budak cintaku, namun aku tak mampu untuk membuatnya terbuka padaku.
Jawaban ambigu, bukan?
Aku ingin Dila mengatakan perasaannya, karena aneh bagiku jika sudah dua tahun hidup bersamaku namun dia tak sedikitpun mencintaiku.
Dan karena hal ini, aku sengaja membuat Dila cemburu, aku ingin dia kesal melihatku dekat dengan wanita lain. Aku bersikap seolah- olah aku sedang dekat dengan wanita lain.Alih-alih melihatnya cemburu, justru dia membuatku kesal karena sekarang dekat dengan dokter yang merawat ibunya.
Dan hal inilah yang paling aku benci pada diriku sendiri, jika aku kesal pada Dila, aku akan memperlakukan dengan buruk di ranjang. Ku setubuhi dia dengan kasar. Aku memperlakukannya seakan dia benda tak bernyawa.
Setelah selesai aku selalu merasa menyesal, ingin ku meminta maaf namun bibir ini terasa sulit mengucapkan. Aku tahu dia marah padaku, namun dia selalu penampilan senyum manisnya di depanku seakan aku tak pernah menyakitinya.
__ADS_1
Seperti malam ini, Dila memunggungiku setelah selesai bersetubuh denganku, kulihat bahunya bergetar, aku yakin dia menangis, namun aku tak tahu harus bersikap bagaimana.
"Dila?" panggilku pelan.
"Ada apa?" jawabnya tanpa menoleh kearah ku.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku.
"Bolehkah aku istirahat?" tanya Dila. Suaranya terdengar parau.
"Ya."
Dan paginya Dila bersikap seperti biasa, menyiapkan sarapan dan kebutuhanku. Tak lupa senyum manisnya juga selalu tampak di depanku. Oh Dila, hatimu berbuat dari apa? Kenapa kamu tak memberontak atau memarahiku?
Rencanaku menikahinya ingin memberikan kebahagiaan yang selama ini terengggut dari kehidupannya. Memberikan apa saja yang pantas jadi miliknya. Aku ingin mengeluarkan dia dari berbagai kesulitan hidup yang ia alami sejak kecil.
Namun aku justru membawa luka baginya. Sikap arogan dan kasarku sering kali menyakitinya. Baik jiwa mauoin raganya. Bahkan aku memiliki sebuah rahasia, rahasia yang hingga kini aku tak pernah mengatakan pada Dila tentang siapakah ayahnya, padahal aku sudah mengetahuinya. Aku menunggu saat yang tepat, mungkin ketika ibunya kembali sehat nanti.
Dila, tunggu aku!
Aku akan memperbaiki sikapku padamu, aku juga akan memberikan semua hakmu yang selama ini hilang. Tapi tolong sekali saja Dila, katakan jika kamu mencintaiku!
__ADS_1