
"Kau tahu apa yang bisa kami lakukan jika kau masih mau mempertahan Diandra?." Ancam Dad Andreas dengan begitu serius pada Anggara.
"Aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan semua yang kau miliki jika sampai kau melukai hati Regina!." Begitu juga Dad Willy yang ikut mengancam Anggara.
"Aku tidak takut, silakan kalian lakukan apa pun sesuka kalian. Tapi yang jelas aku tidak akan pernah meninggalkan Diandra lagi apa pun alasan dan kondisinya." Anggara tidak gentar dengan ancaman dari kedua pria yang memiliki kuasa penuh atas semua yang dimiliki Anggara.
Mendapati Anggara yang tidak takut dengan ancaman yang diberikan, Dad Andreas meminta Regina untuk menyiapkan semua keperluan anak-anak karena besok pagi mereka akan kembali Paris.
Diandra hanya mampu diam, dia pasrahkan semuanya pada Anggara. Sebab dia pun masih belum percaya dengan apa yang sedang terjadi.
Lalu kalau konflik ini terjadi lagi, bagiamana dengan kontrak kerja sama mereka, usahanya untuk menyenangkan Mama Mona, tujuan hidupnya yang terpusat pada Mama Mona harus dia mulai dari mana lagi setelah kejadian ini. Diandra hanya mampu memijat pelipisnya.
__ADS_1
Anggara mengajak Diandra keluar dari rumah itu setelah Anggara berpamitan pada ketiga anaknya. Karena dia tidak akan ikut kembali ke Paris bersama mereka. Dan itu pun tidak lebih dari lima menit karena larangan dari Dad Andreas yang tidak ingin ketiga cucunya dipengaruhi oleh Anggara.
Anggara membawa Diandra pulang ke apartemen miliknya.
"Kalau aku tinggal di sini, bagaimana dengan Mama Mona?." Diandra menatap bingung pada pria yang berstatus suaminya.
"Kamu tenang saja, ada Tania dan Kevin yang menjaganya. Karena untuk sementara Mama mu akan tinggal bersama mereka." Anggara membuka jas lalu kemeja dan meletakkannya di atas sofa, menyisakan celana panjang.
"Sekarang pasti kamu sangat lelah, ayo kita tidur!." Anggara menggiring tubuh Diandra sampai di dalam kamar mereka. Tapi Diandra menahan dada bidang Anggara yang hendak menindihnya.
Anggara meraih tangan itu lalu mengecupnya berulang kali, dia sangat tahu dengan kekhawatiran Diandra.
__ADS_1
"Kamu tenang saja sayang, semuanya sudah ada dalam kendali mu. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan, apa pun itu. Hanya saja mungkin untuk Hayden, Jayden dan Katherine kita harus lebih bersabar dan kita masih membutuhkan banyak waktu untuk mendapatkan mereka kembali. Tapi setidaknya kita bisa sedikit tenang karena ada Mommy ku yang akan selalu mengawasi mereka." Anggara menjawab rasa khwatir Diandra, tapi tentunya Diandra belum seratus persen paham dengan apa yang dikatakan oleh Anggara.
"Sudah nanti kamu juga paham sendiri. Sekarang kita tidur dan membuat anak lagi." Lanjut Anggara melepas semua pakaian Diandra hingga tanpa sisa.
"Kamu tidak ingin melihat tatto ku yang lain yang ada nama mu?." Tangan Anggara menuntun tangan Diandra untuk melepas celananya.
"Memangnya apa lagi?." Tanya balik Diandra dengan tetap mengikuti apa yang perintahkan oleh Anggara.
"Lihat lah!."
Diandra menurunkan pandangannya menuju pusat inti tubuh Anggara, dia melihat ada yang baru yang belum dilihatnya.
__ADS_1
"Apa ini?." Diandra berjongkok tepat di depan inti Anggara guna melihat dengan jelas apa yang tertulis di sana.
"Ini milik Diandra!." Seru Diandra sambil meraba tatto yang berbentuk tulisan tersebut.