Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 50 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Diandra melangkah mengikuti Anggara dari belakang, sambil dia memperhatikan sekelilingnya. Sungguh sunyi tidak ada orang yang lewat satu pun karena situasi saat ini memang sudah larut malam.


Diandra menghentikan langkahnya ketika Anggara sudah membuka lebar benda persegi itu. Mempersilakan dirinya untuk masuk.


"Cepat lah masuk!, atau mau aku gendong?." Senyum itu untuk pertama kalinya bisa Diandra lihat lagi.


"Kamu hanya bisa mengancam saja kerjanya." Ketus Diandra sambil melangkah masuk dan seketika pintu pun tertutup bahkan otomatis terkunci.


"Loh ko, kenapa di kunci segala?." Diandra memegang benda persegi itu. Berharap bisa membukanya tapi rupanya kendalinya sudah ada pada Anggara.


Anggara berjalan perlahan mendekati Diandra sambil membuka jas dan dasi, lalu meletakkannya di atas meja sebelah sofa.


"Kamu mau apa?." Diandra menghindar dan berpindah posisi ke belakangan sofa.


Anggara kembali tersenyum sembari melepas satu persatu kancing kemejanya hingga terlepas semua. Tubuh kurus itu terlihat jelas, sudah tidak sebagus dulu.


Diandra menelan saliva nya dengan susah payah ketika Anggara melanjutkan lagi aksinya dengan membuka celana dan kini hanya menyisakan boxer nya saja.


"Aku tidak pernah bergairah dan berhasrat lagi pada wanita mana pun. Sampai kita bertemu lagi, dan ternyata hasrat dan gairah ku muncul lagi karena diri mu." Ucap Anggara jujur mengakuinya.


"Jangan mendekat!." Diandra terus saja menghindar sebisanya dari Anggara, dan Anggara dengan gigihnya menggiring Diandra supaya masuk ke dalam kamarnya.


Berhasil, saat punggung Diandra menyentuh pintu dan Anggara segera mengungkung tubuh Diandra di sana.


"Aku sudah berusaha untuk tidak peduli pada mu, tapi aku tidak bisa." Suara Anggara begitu berat, deru nafas yang berhembus mengenai wajah Diandra.


"Tidak, jangan mendekat!." Tangan Diandra menyentuh dada bidang Anggara dan sedikit mendorongnya supaya memberi mereka jarak aman bagi keduanya.


Anggara menggeleng lemah, dia semakin mengikis jarak antara mereka sampai menempel sempurna.


"Jangan menolak ku, Di!." Kepala Anggara sudah tenggelam dalam ceruk leher Diandra. Menghirup aroma wangi tubuh wanita yang sudah menjadi ibu dari anak-anaknya. Wanginya begitu candu dan tetap sama dengan beberapa tahun silam. Begitu memabukkan dan dia sudah tidak bisa menundanya lagi.

__ADS_1


"Jangan lakukan lagi, cukup!." Diandra masih berontak dalam kesadarannya, meski dia pun sama, ikut hanyut merasakan gelombang kenikmatan belaian dan pelukan Anggara. Tapi dia harus sadar diri, sekarang siapa dirinya bagi kehidupan Anggara?. Setidaknya dia masih memiliki muka dan harga diri saat dia bisa menolak hasrat dan gairah yang ikut mengungkung tubuhnya.


Anggara membawa Diandra ke dalam kamar dan dia menjatuhkan tubuh keduanya ke atas tempat tidur.


Anggara mencium bibir Diandra dengan begitu lembut, karena dia ingin menikmati kembalinya momen indah mereka. Diandra hanya bisa diam, tanpa ikut membalas ciuman Anggara yang sudah mematikan saraf-saraf kewarasannya.


Hingga lambat laun, Diandra mencengkram rambut Anggara sambil menggerakkan bibirnya untuk ikut bergabung membalas setiap usapan, *******, hisapan dan pagutan yang dimainkan Anggara.


"Aku sangat merindukan mu, Diandra!." Anggara meremas kedua dada Diandra yang sudah tidak ada penyangga. Anggara bermain di sana dengan mulutnya.


******* dan lenguhan sudah terdengar dari mulut Diandra, tubuh mereka saling merindukan satu sama lain.


Penyatuan pun terjadi, Diandra sadar dengan yang dilakukannya sangat beresiko tapi apa lah daya jika tubuhnya sendiri merespon lain. Dia pun sangat menikmati penyatuan ini.


"Selamanya kamu akan tetap menjadi milik ku, tidak ada yang boleh menyentuh tubuh mu selain aku, Diandra!. Hanya aku yang akan selalu menyentuh mu sampai kita melayang bersama-sama." Setelahnya Anggara menciumi seluruh tubuh Diandra tanpa ada yang terlewati satu inci pun.


Gelombang pelepasannya mereka dapatkan bersama, Anggara tidak bisa menjelaskan begitu leganya setelah melepaskan ribuan benihnya pada rahim Diandra yang masih sangat subur.


Malam ini mereka habiskan di tempat tidur, entah sudah berapa kali Anggara melepaskan benihnya pada ladang Diandra.


Karena rasa lelah yang begitu mendera, Diandra sampai bangun kesiangan pagi ini, padahal masih ada meeting sebelum besok dirinya libur.


"Hah, aku kesiangan!." Pekik Diandra kaget, dia segera beranjak dari tempat tidur masih dalam keadaan polos.


"Mau kemana?." Anggara menangkap tubuh Diandra saat pintu kamar mandi terbuka. Dirinya juga baru membersihkan diri dari sisa percintaan mereka. Kalau saja tidak ada meeting lagi, ingin rasanya dia mengurung Diandra di dalam apartemennya.


"Aku sudah telat." Diandra mendorong tubuh Anggara namun tidak berhasil, yang ada mereka mereguk kenikmatan bersama-sama sebelum menyelesaikan ritual membersihkan diri mereka.


Anggara sendiri sudah memundurkan schedule meeting pagi ini karena dia tidak ingin membangunkan Diandra yang begitu lelah karena ulahnya.


Diandra yang sempat kebingungan dengan pakaiannya, kini bisa tersenyum lebar saat Anggara menenteng pakaian yang bisa dikenakannya pagi ini.

__ADS_1


"Kamu pasti akan semakin terlihat cantik dengan dress ini." Anggara mengecup bibir Diandra sebelum Diandra menerima dress itu beserta dalaman.


Diandra dan Anggara berangkat bersama menuju perusahan, meksi pun keduanya tidak terlibat obrolan. Namun gestur dan gerak gerik tubuh keduanya nyata terlihat jelas seperti kembali merajut kebersamaan mereka.


Hanya tiga puluh menit waktu yang Anggara butuhkan untuk sampai di perusahan.


Kedatangan Diandra pagi itu di sambut oleh sosok wanita yang di sebut Mommy oleh ketiga anaknya.


Deg


Diandra melihat mereka yang berlarian mengelilingi Anggara dan Regina dengan senyum yang terpancar bahagia.


"Itu kah mereka?."


Anggara menatap iba pada wanita yang tadi malam telah menemaninya di tempat tidur. Tapi pagi dia tidak bisa berdiri tegak di samping wanita itu untuk memperjuangkan ketiga anak mereka.


"Mommy....Daddy...." Celoteh ketiganya saling bergantian memanggil Anggara dan Regina.


Diandra sekuat tenaga menegakkan kedua kakinya dengan tangan yang meremas kuat ujung blazer yang menutupi dress bagian atas tubuhnya.


"Demi Mama Mona, Di. Ayo kamu pasti bisa." Batinnya menyemangati diri sendiri. Senyum perlahan dia perlihatkan kala Monica, Dad Andreas dan yang lainnya datang menghampirinya.


Monica berdiri di samping Diandra sambil menggandengnya. Kemudian Monica memperkenalkan wanita yang berdiri di samping Dad Andreas sebagai Mom Isabel dan mereka berdua merupakan kedua orang tua dari Anggara.


Tidak lupa juga Monica memperkenalkan Dad Willy dan Mom Lydia yang merupakan orang tua Morgan dan Regina.


Setelah bisa menguasai perasaan dan situasinya, Diandra menjabat tangan mereka satu persatu.


"Karena aku tidak memiliki anak laki-laki lagi, maka aku akan meminta Morgan untuk menikah dengan Diandra."


"Diandra?." Ucap Dad Willy dan Mom Lydia bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2