
Diandra sudah berada di ruangan Monica dengan jantung yang masih berdebar kencang karena ternyata saat dirinya baru duduk, Anggara datang dengan wajah santai nan datar. Bersikap seolah tidak melakukan kesalahan apa pun padanya beberapa waktu lalu.
"Hari ini kita akan meeting di sini. Karena yang lainnya tidak bisa datang, jadi kita hanya tinggal menunggu Anggara saja." Ucap Monica memberitahu Diandra yang sudah sama-sama duduk di sofa.
Karena tadi hanya Morgan yang datang, tapi sudah langsung diminta untuk mengerjakan yang lain, jadi tidak ikut bergabung meeting kali ini.
"Iya, Miss." Jawab Diandra singkat sambil mengeluarkan kertas yang di dalam tas kerjanya.
"Wow...bagus sekali, Di. Anggara pasti akan sangat menyukai design mu yang ini. Dan aku bisa pastikan yang lain pun sama, akan sangat menyukai ini." Monica menatap takjub yang dikerjakan Diandra.
Perhatian keduanya beralih pada sosok Anggara yang baru masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Kamu jangan aneh pada orang yang satu ini, dia memang selalu begitu. Masuk ke sini selalu tanpa permisi." Celetuk Monica sambil menyerahkan hasil design Diandra. Kemudian dia berpamitan akan keluar sebentar karena ada yang harus diurusnya.
Diandra hanya bisa pasrah dengan situasi dan kondisi yang berduaan di sini bersama Anggara. Lagian mereka hanya dua orang asing, jadi seharusnya tidak ada masalah bukan.
Jantung Diandra kembali berdetak lebih cepat dari biasanya, ketika Anggara dengan seenak jidatnya duduk begitu dekat dengan dirinya. Padahal sofa itu masih panjang dan masih ada juga tempat duduk yang lainnya.
Anggara mengamati design gambar-gambar itu dengan seksama. Hingga menjadikan kesempatan Diandra untuk berpindah tempat duduk. Tapi secepat kilat tangan Anggara sudah menarik lengan Diandra, sampai Diandra kembali duduk di sebelah Anggara tapi dengan jarak yang lebih dekat lagi.
"Kamu mau kemana?." Tanyanya dengan tatapan mata yang begitu tajam.
"Aku harus menjaga jarak aman dari mu." Jawab Diandra ketus sambil berusaha bangkit untuk menjauh, tapi lagi-lagi Anggara menahannya.
"Aku tidak tahu kalau kamu memiliki bakat yang sangat luar biasa seperti ini." Ucap Anggara kembali menatap Diandra secara intens.
Diandra menggeleng lalu menjawabnya singkat. "Aku juga tidak tahu."
Anggara meletakkan semua design Diandra di atas meja, lalu mereka saling tatap begitu dalam.
Seperti ada dorongan kasat mata, hingga keduanya mendekatkan wajah. Tatapan Anggara beralih pada bibir Diandra yang begitu menggoda, begitu juga dengan Diandra.
__ADS_1
Keduanya memiliki naluri alami, terlebih mereka sebagai mantan pasangan yang sudah mengenal nikmatnya bercinta dan saling mencumbu.
Tapi sayang gerakan keduanya harus terhenti berbarengan dengan pintu yang terbuka karena Monica kembali.
Dengan wajah yang penuh selidik, Monica mendekati keduanya. "Aku tidak mengganggu kalian 'kan?."
"Ah...tidak, Miss. Kami hanya sedang membicarakan hasil design ku, tapi mungkin posisi duduk kami yang cukup dekat saja." Jawab Diandra seraya bangkit menjauh dari Anggara. Sementara Anggara sendiri terlihat santai dan tidak memungkiri jika kedatangan Monica sangat mengganggunya.
"Oh, ok. Sekarang mari kita lanjut lagi untuk membahas beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan sebelum Diandra kembali ke Jakarta." Ucap Monica mengambil duduk di dekat Anggara yang diikuti oleh Diandra. Supaya tetap berjalan aman detak jantungnya yang kembali berdebar cukup kencang.
Usai meeting dan pekerjaan hari ini, Diandra berencana langsung pulang ke apartemen karena sudah tidak ada yang harus dikerjakannya lagi.
Tapi Monica mengajaknya untuk makan malam di apartemen miliknya. Karena merasa tidak enak hati untuk menolak, Diandra pun menerima ajakan Monica.
Diandra dan Monica terlihat sangat akrab, banyak pekerjaan yang mereka diskusikan. Tidak sedikit juga Monica membagi ilmu bisnis yang dimilikinya, sesuai dengan cara dan gayanya, sehingga Monica memiliki ciri khas tersendiri. Jadi orang akan mudah mengingat dan mengenalinya.
Tapi untuk hubungan asmara, rupanya Monica tidak jauh berbeda dengan Diandra. Tapi mungkin keberuntungan masih berada di tangan Diandra karena masih bisa melihat orang yang dicintainya walau bahagia dengan pasangannya. Karena Monica harus berpisah dengan suami dan anaknya karena sebuah kecelakaan yang sudah merenggut mereka dari hidup Monica.
"Tidak usah, Miss. Aku bisa pulang sendiri. Tidak perlu merepotkan." Tolak Diandra halus sambil berjalan kearah pintu.
"Tidak, Diandra. Biar kan Anggara mengantar mu. Aku akan merasa bersalah sekali kalau kamu sampai harus pulang sendiri." Ucap Monica sambil menahan Diandra sampai Anggara datang menjemput Diandra.
"Tidak masalah, Miss. Apartemennya juga tidak jauh dari sini. Jadi biarkan aku pulang sendiri." Diandra bersikeras untuk pulang tanpa diantar oleh Anggara.
Tapi Monica pun memiliki alasan yang masuk akal sehingga tetap menahan Diandra berada di dalam apartemennya.
Tidak berselang lama, pintu apartemen Monica ada yang mengetuk, sudah bisa dipastikan jika Anggara lah yang datang.
"Sekarang kamu sudah boleh pulang, sayang." Ucap Monica sambil mengecup pipi Diandra dengan hangat, lalu Monica membuka pintu dan menyerahkan Diandra pada Anggara.
"Terima kasih, Miss."
__ADS_1
"Sama-sama, Di."
Tatapan Monica berpindah pada Anggara yang masih tetap berpenampilan rapi walau sudah tengah malam.
"Tolong antar kan Diandra selamat sampai apartemen!."
"Hem..." Balas Anggara singkat.
Diandra berjalan mengekor di belakang Anggara dengan jarak yang cukup dibuat seaman mungkin. Untuk tetap menjaga aman semuanya.
Sampai di mobil, Diandra berencana untuk duduk di kursi belakang. Tapi perintah Anggara tidak bisa dibantahnya.
"Diandra, duduk di depan!. Di sebelah ku!, aku bukan supir mu!."
Diandra menutup pintu belakang dan berpindah ke depan. Lalu dia duduk manis di kursinya.
Anggara masuk dan duduk dibalik kemudi. Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Diandra dan Anggara sama-sama diam selama dalam perjalanan, hingga Diandra menyadari jika ini bukan jalan menuju apartemennya.
"Ini bukan jalan menuju apartemen ku?." Diandra mengamati sekitar dan memastikannya lagi. Tapi Anggara tetap diam, fokus dengan kemudi.
Tidak berselang lama, mobil Anggara sudah berhenti di basemen sebuah bangunan.
"Turun!." Anggara menyuruh Diandra untuk turun.
"Aku tidak mau, aku mau pulang ke apartemen ku." Tolak Diandra.
"Miss Monica menyuruh mu untuk mengatur ku pulang dengan selamat sampai apartemen ku." Lanjut Diandra tetap bergeming di dalam mobil.
"Baik kalau kamu tidak mau turun, jangan salah kan aku jika aku akan menggendong mu." Gertak Anggara setelah membuka pintu mobil untuk Diandra.
__ADS_1
"Tapi untuk apa kita ke sini?."