Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 53 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

"Apa kamu yakin?."


Diandra mengangguk sambil melangkahkan kakinya mendekati handle pintu.


Tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Diandra, Anggara kembali melancarkan aksinya. Secepat kilat dia menarik pinggang ramping Diandra, hingga membentur dada bidangnya.


"Ada bagusnya juga kamu meminum pil penunda kehamilan, jadi kita bisa kapan saja bercinta dan dimana saja." Ucap Anggara sembari menaikkan dress Diandra lagi.


"Hentikan!." Diandra menepis kuat tangan Anggara namun mustahil dia bisa melawan tenaga Anggara yang diliputi oleh hawa nafsu. Kembali dia pasrah merasakan tangan besar Anggara bermain di area intinya dengan begitu bebas dan sedikit kasar tapi tidak menyakitkan. Namun justru membuatnya melayang terbang ke puncak nirwana jika saja suara Monica tidak terdengar dari balik pintu.


"Anggara...Diandra....aku tahu kalian ada di dalam!. Cepat buka pintunya!, sebelum mereka menyadari ketidakhadiran kalian di sana!."


Anggara mengerem frustasi karena baru saja dia akan memasukkan lagi senjatanya pada liang kenikmatan Diandra.


Diandra dan Anggara sama-sama merapikan pakaiannya lalu Anggara yang membuka pintu, menyembunyikan Diandra di belakang tubuhnya.


"Kau mengganggu saja!." Ucap Anggara dengan kesal.


"Kau berhutang penjelasan pada ku! karena kau melakukannya di perusahan ku!." Monica sedikit mendorong tubuh Anggara untuk membawa Diandra pergi dari sana. "Kamu tidak di apa-apa kan oleh Anggara?."


Diandra menggeleng cepat, sebab dia tidak mungkin juga mengatakan kebenaranya pada Monica.


Usai perjamuan, Monica yang mengantarkan Diandra pulang ke apartemen.


Kepulangan Diandra ternyata ada yang menyambutnya di pintu apartemen.


"Kak Regina?."


"Maaf aku menggangu mu."


Diandra menggeleng sambil tersenyum lalu mempersilakan wanita itu masuk setelah pintu apartemennya terbuka.


Diandra segera membawa minuman kaleng untuk menemani mereka mengobrol di ruangan tengah.

__ADS_1


Hening untuk beberapa saat, Regina mengakui jika Diandra memilki daya pikat tersendiri selain umurnya yang masih muda. Tapi apa yang ada pada tubuh Diandra dan paras cantik serta kulit bersih nan mulus yang dimiliki Diandra memang lah sangat sempurna. Pantas saja Anggara bisa jatuh cinta pada Diandra dan bahkan mungkin sangat mencintai wanita itu.


"Pernikahan kami pada awalnya baik-baik saja, sampai masalah anak datang menghampiri kami." Ucap Regina buka suara.


Diandra menatap wajah cantik wanita itu, meski hampir seusia Mama Mona tapi dia tetap masih terlihat sangat cantik dan menarik.


"Aku adalah wanita pada kebanyakan. Aku marah dan aku begitu cemburu kala suami ku bukan hanya membagi tubuhnya saja melainkan cintanya juga.


"Bahkan kehadiran wanita lain dalam hidup kami adalah hal yang mustahil. Karena Anggara begitu sangat mencintai ku. Dan aku pun sangat percaya pada nya, tapi kehadiran mu sudah merubah segalanya. Terlebih dengan hadirnya anak-anak kalian membuat Anggara semakin jauh dari ku.


"Aku tidak memiliki apa pun selain rasa cinta Anggara, yang itu pun sudah diambil semuanya oleh diri mu. Kini aku tidak memiliki apa pun lagi.


"Sekarang, tidak mungkin aku bisa mengambil hati dan cinta Anggara karena sampai saat ini dia masih sangat mencintai mu. Maka dari itu terima lah perjodohan antara diri mu dan Morgan dan aku menjamin ketiga anak mu akan aku kembalikan. Yang aku inginkan hanya Anggara, Diandra!." Tutur Regina sangat panjang lebar yang diakhiri dengan Isak tangis.


Diandra menghela nafas dengan jari jemari yang saling bertaut, memfokuskan pandangannya pada Regina yang menangis.


Diandra menyodorkan tissue ke hadapan Regina.


Regina mengambil tissue lalu menyeka air matanya.


Regina pamit undur diri setelah mencurahkan perasaannya pada Diandra. Cukup lega juga dia mengetahui Diandra tidak menginginkan apa pun lagi yang dimiliki oleh Regina sekarang, selain kebahagian untuk Mama Mona nya.


Diandra masih betah duduk di sofa kala mengingat pertemuan pertamanya dengan ketiga anaknya. "Maaf kan Mommy harus menomorduakan kalian, karena Mama Mona. Karena Mommy, Mama Mona, nenek kalian harus banyak kehilangan dari hasil kerja kerasnya selama ini."


Diandra beranjak dari sana, dia segera masuk ke kamar lalu mandi.


Usai mandi, Diandra langsung naik ke atas tempat tidur. Dia menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Menyiapkan tenaga dan tubuhnya untuk perjalanannya menuju Jakarta.


Entah sudah berapa lama Diandra tertidur, hanya saja dia merasakan berat pada tubuhnya. Tapi Diandra masih mengabaikannya.


Usapan lembut pada area sensitifnya, membawa sinyal pada matanya untuk segera terbuka supaya bisa melihat jelas siapa yang berada di dalam kamarnya.


"Kamu!." Diandra beringsut namun Anggara menahan pergerakannya. Anggara mengungkung tubuh wanita yang selalu dirindukannya selama ini. Jadi dia tidak ingin membuang waktu sedikit pun untuk tidak menyentuhnya.

__ADS_1


"Iya, ini aku!." Bisik Anggara mengungkap selimut beserta kimono yang melekat pada tubuh Diandra.


"Aku mohon jangan lakukan ini lagi!. Kalau kamu masih melakukannya, aku akan menerima Morgan!." Ucap Diandra menatap berani pada Anggara.


Terlihat rahang Anggara yang mengeras dengan suara gigi yang beradu. Memancarkan kilatan amarah yang tidak bisa disembunyikan oleh Anggara.


"Kamu tidak akan menerima siapa pun selain aku!." Anggara membuka lebar kedua paha Diandra, perlahan wajah Anggara turun menyentuh inti Diandra.


"Aku bisa menerima pria mana pun yang aku mau dan membiarkan mereka menyentuh ku seperti yang kamu lakukan sekarang." Diandra berhasil menyulut emosi Anggara. Sampai Anggara mengangkat wajahnya guna menatap Diandra.


"Sekali saja kamu melakukan itu, akan aku hancur kan tubuh pria yang sudah berani menyentuh milik ku!."


Anggara menenggelamkan lagi wajahnya pada inti Diandra dengan lembut, hingga sekeras apa pun Diandra bertahan untuk tidak mendesah namun pada akhirnya dia harus menyerah dengan permainan Anggara.


"Ah..."


Lidah Anggara tidak berhenti menyentuh, menjilat dan mengulumnya sampai Diandra terus saja mendesah hingga pelepasan pun Diandra dapatkan.


"Masih berani untuk menerima Morgan atau pria lain selain aku?." Diandra mengangguk berbarengan dengan Anggara yang merangkak naik di atas tubuh Diandra. Hingga pada detik detik berikutnya milik Anggara sudah masuk memenuhi inti dari pada Diandra.


"Ah...."


Lagi-lagi Diandra mendesah, dia tidak bisa menampik setiap kenikmatan yang disuguhkan Anggara.


Anggara semakin menggila di atas tubuh Diandra kerena Diandra masih saja mengangguk untuk menerima pria lain selain dirinya. Hingga pada saat gelombang pelepasan akan datang, tiba-tiba saja Anggara mencabut miliknya, wajah frustasi terpancar jelas dari wajah cantik Diandra.


"Masih mau untuk menerima pria lain?."


Diandra menggeleng dengan wajah yang begitu memelas untuk segera menuntaskan hasrat yang sudah di ubun-ubun.


"Apa kamu yakin meminum pil penunda kehamilan?."


Diandra menggeleng lagi setelah menelan saliva nya.

__ADS_1


"Bagus..." Kemudian Anggara menghentak Diandra sampai mendesah.


__ADS_2