Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Enam


__ADS_3

Pov Dila


Hidup segan, mati tak mau! 


Iya, itu peribahasa yang pantas untukku, aku menjalani kehidupan getir sedari kecil. Aku tumbuh hanya diasuh oleh ibuku, ibuku merawatku dengan bekerja sebagai penjahit. Beliau sering sakit-sakitan sejak dulu, dan puncaknya adalah dua tahun lalu, ibuku drop dan tak sadarkan diri hingga kini.


Ayahku?


Entahlah dia dimana, tak banyak yang ku ketahui tentangnya, bahkan wajahnya saja aku tidak tahu. Kata nenekku dulu saat nenek masih hidup, ayahku pergi meninggalkan kami saat usiaku masih empat tahun. Awalnya ayahku hendak mengadu nasib di kota lain, namun entah mengapa hingga usiaku sekarang, ayah tak pernah pulang atau sekedar mengabari kami. Entah ia masih hidup atau tidak, aku tak tahu.


Berbagai kehidupan getir sudah aku jalani, dari kecil aku sering menjadi bahan olokan teman-temanku karena kepergian ayahku, mereka bilang, "ayah Dila minggat." 


Sakit hatiku mendengarnya, aku yakin jika memang ayah masih hidup, pasti ada suatu hal yang membuat ayah tak bisa menemui kami, namun aku tak tahu itu apa.


Sejak lulus SMA aku sudah mulai bekerja, aku bekerja paruh waktu sambil kuliah. Aku harus menang melawan peperangan kehidupan ini. Dan akhirnya aku lulus dan menjadi sarjana, tentu saja ibuku sangat bangga padaku.


Namun sikap pantang menyerahku ini sepertinya berakhir dua tahun lalu ketika ibuku kambuh dan tak sadarkan diri. Aku mencari berbagai cara untuk mendapatkan pengobatan untuknya. Dan ternyata biaya pengobatan ibu sangat mahal, aku tak mampu untuk mencarikan biaya. Aku benar-benar merasa tak ada solusi untuk semua masalah ini.


Hingga terjadilah pertemuanku dengan Zian, dia lelaki mapan dan tampan yang membantuku keluar dari permasalahan itu, namun aku harus membayar mahal untuk itu, aku harus rela menikah dengannya. 


Mungkin jika sebagian orang melihat Zian maka akan membayangkan jika Zian adalah lelaki idaman. Benar memang, dia memperlakukanku bak putri raja, semua yang kuinginkan dia penuhi. Dia sering melakukan hal-hal romantis yang membuatku melayang. 


Namun satu hal yang membuatku membencinya, dia menikahiku karena membutuhkanku sebagai syarat mendapatkan harta orangtuanya, dan dia memanfaatkan aku untuk memenuhi hasrat biologisnya. Dia memandang rendah diriku, aku bagaikan wanita ****** untuknya. Namun aku tak menampik kebenaran itu, itu memang benar adanya, aku menukar tubuh dan hidupku demi uang Zian. Ironis bukan?


Karena hal itulah aku sangat menjaga hatiku, tak kan kubiarkan diriku jatuh hati padanya, karena aku yakin jika dia sudah bosan padaku, dia akan membuatku bak sampah. Apalagi soal anak, aku takut jika mempunyai anak dalam pernikahan palsu ini akan menjadi masalah di masa depan, aku takut anakku tak mendapatkan kasih sayang papanya.


Namun entah mengapa akhir-akhir ini hatiku agak gusar, aku kesal melihat Zian dekat dengan Felisia, rasanya aku ingin melarangnya, namun aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa menahan perih saat Zian bersama Felisia. 

__ADS_1


Yang kutahu memang Zian tak pernah mencintaiku, jadi aku berusaha menepis rasa cemas ini, aku tak ingin berlarut-larut mengharapkan Zian benar-benar mencintaiku. Memang sering kali dia menanyakan apakah aku mencintainya, tentu saja aku tak menjawabnya, meski terkadang kulihat dia seakan-akan seperti mencintaiku. 


Tidak!


Dia pasti hanya berpura-pura, dia tak akan pernah mencintaiku, aku hanyalah barang baginya yang bisa ia beli dengan uangnya. Bukankah memang dari awal dia yang berniat membeli kehidupanku dengan uangnya?


Hubunganku dengan saudari Zian, Kak Rima juga tak terlalu baik, sebenarnya aku ingin sering-sering berkunjung kerumah kak Rima , namun entah mengapa kulihat Zian kurang suka, dia selalu melarangku kesana. Saudari Zian ini adalah satu-satunya keluarga Zian yang tersisa, karena orangtua Zian sudah tiada. Sepertinya ada dua alasan yang membuat Zian melarangku berhubungan dengan keluarganya.


Pertama, mungkin Zian menganggapku sebagai istri sementara baginya, karena itu maka akan percuma saja jika aku mempunyai hubungan sebagus apapun dengan keluarganya, toh cepat atau lambat hubungan ini akan diakhiri oleh Zian.


Kedua, karena Zian ada konflik dengan kakak iparnya, kak Tyo, Zian terlihat sangat membenci kakak iparnya, padahal kakak iparnya berusia jauh diatas Zian, seharusnya Zian bersikap hormat. Tapi entahlah, kurasa memang Zian yang terlalu berburuk sangka pada kak Tyo.


Pernah juga suatu  ketika kak Tyo menelponku mengajak makan siang saat jam istirahat kantor karena kata kak Tyo sedang berada di resto dekat kantor. Aku datang karena untuk menghormati kak Tyo sebagai adik iparnya, namun ketika pulangnya kuceritakan pada Zian, Zian marah-marah dan terlihat sangat kesal. Kukatakan padanya jika kami hanya makan siang biasa namun Zian tak mau tahu. Sejak saat itu aku dilarang berhubungan dengan kak Tyo. Aku mematuhi ucapan Zian, aku tak ingin berdebat dengannya, meskipun tahu jika kak Tyo memperlakukanku dengan sopan dan baik.


"Jangan pernah berhubungan dengan keluarga kakakku, aku nggak suka!" ucap Zian kala itu, terlihat amarah dimatanya.


Kupeluk untuk menenangkannya, "iya, maafkan aku, aku nggak akan berhubungan lagi, jika mereka menghubungiku, aku akan bilang dulu ke kamu," ucapku.


Namun Zian akan bersikap lunak pada anak-anak Kak Rima, Adis dan Satya. Adis gadis cantik yang baru menginjak bangku SMP, dan Satya ini aku belum pernah bertemu dengannya karena sedang kuliah di Jepang, namun mendengar cerita dari Zian, sepertinya Satya adalah anak yang baik dan Satya seumuran denganku, kata Zian dulu. Memang Zian dan kak Rima usianya bertaut sangat jauh, sehingga anak kak Rima seusia denganku.


Dua tahun berlalu, kehidupan rumah tanggaku dengan Zian berjalan tanpa ada masalah berarti. Dua tahun pula aku mencoba menahan hatiku agar tak jatuh hati padanya. Sikap manis dan romantisnya yang membuatku terbang sering menggoyahkan pendirianku. Namun tidak, aku akan mencoba menahan sebisaku agar aku tak sampai menjatuhkan hatiku padanya. Membayangkan akan perceraian kami di masa depan cukup membuatku sesak. Aku bahkan tak mampu membayangkan jika aku akan kehilangan Zian kelak. Meski dia terkadang sedikit emosional, namun sisi lain dari dirinya mampu membuatku terbuai.


Sebenarnya, jauh sebelum mengenal Zian aku pernah menyukai seseorang,dia yang ku kenal saat lomba antar sekolah di kotaku, aku masih begitu kecil. Namun entah mengapa aku sangat menyukai anak lelaki bernama Alvin. Aku kagum pada ketampanan dan kecerdasannya. Aku dan Alvin  bersaing ketat dalam olimpiade matematika. Awal perkenalan dulu dia sebetulnya sangat ramah padaku, bahkan dia mengatakan rela mengalah agar aku bisa menjadi juara satu. Hubungan kami begitu dekat meski tak ada kata cinta diantara kami. Namun entah mengapa, disaat terakhir dia mengatakan sesuatu yang sangat membuatku bingung karena dia terlihat sangat membenciku.


"Jangan terlalu percaya diri mampu mengalahkanku, jika aku mengeluarkan segenap kemampuanaku, aku yakin aku akan menjadi nomor satu," ucap anak lelaki itu padaku sebelum olimpiade babak akhir dimulai saat itu.


Aku menepuk bahunya, "kita bertanding secara sportif ya, aku juga tak akan bersedih jika aku yang kalah, aku juga pasti akan mengucapkan selamat padamu jika kamu yang menang," ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


Namun kulihat wajahnya tetap sinis padaku, dia menatapku dengan tatapan raja dan penuh kebencian, "aku mempunyai satu kesepakatan sebelum olimpiade ini dimulai," ucapnya.


"Katakan!"


Dia menatapku, "jangan pernah memanggilku dan mendekatiku ketika aku mampu memenangkan olimpiade ini! Anggap saja kita tak pernah saling mengenal!" ucapnya tegas hingga membuatku tercengang. 


"Ada apa ini?" tanyaku.


"Aku membencimu, Dila!" ucapnya membuatku sesak.


"Apa salahku padamu?" 


"Sudahlah, camkan kata-kataku tadi!" ucapnya sambil berjalan dan meninggalkanku.


Olimpiade telah selesai, saat olimpiade berlangsung, mataku berkali-kali mencuri pandang padanya, terkadang pandangan kami saling bertemu, namun dia segera melihat kearah lain.


Pengumuman pemenang olimpiade sedang berlangsung, saat itu ternyata aku yang menjadi juara satu, nilainya berada tepat dibawahku. Aku tersenyum, kupikir ini berarti ucapannya penuh kebencian tadi tak akan berguna karena milikku lebih unggul.


"Bagaimana? Bukankah nilai milikku diatasmu, apakah kita masih bisa berteman?" tanyaku padanya saat kami sama-sama membaca papan pengumuman.


Dia menatapku, "aku makin membencimu, Dila! Kamu terlalu ingin mengalahkan ternyata, hal ini makin membuatku membencimu!" ucapnya kesal.


Aku makin bingung akan sikapnya, aku merasa tak bersalah namun entah kenapa dia membenciku tiba-tiba. Bakalan kemarin-kemarin, kupikir dia juga menaruh hati padaku, namun ternyata kini ia seketika membenciku.


Dia berjalan meninggalkanku, aku mengejarnya, "Vin, ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu membenciku?" Aku meraih bahunya dari belakang agar dia menoleh padaku namun Alvin menepis tanganku dengan kasar.


"Dila, jangan pernah ada dihadapanku, aku muak padamu!" bentak Alvin lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Sejak saat itu, aku tak lagi melihatnya. Kudengar dari teman sekolahnya jika Alvin pindah sekolah di luar kota. 


Tak ada lagi Alvin dalam kehidupanku, dia seakan lenyap tanpa bekas. Dan perlahan aku melupakannya. Namun apa yang kurasakan pada Alvin dan Zian tentu saja berbeda, pada Alvin sepertinya karena aku begitu mengagumi ketampanan dan kecerdasannya. Dan pada Zian, rasanya berbeda, entah apa perbedaan itu. Terlalu rumit menjelaskannya.


__ADS_2