Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 39 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Baku hantam sudah tidak dielakkan lagi untuk beberapa lama. Keduanya sama-sama mempertahankan Diandra versi mereka, tapi tentu saja Anggara lah yang keluar sebagai pemenang duelnya.


Reno membantu Morgan yang babak belur sebab dia tidak mau berhenti menyerang Anggara, meski Diandra dan Anggara sudah memintanya untuk berhenti.


Begitu juga dengan Anggara yang langsung merapikan rumah yang menjadi berantakan karena dipakai untuk arena berduel dirinya dan Morgan, padahal sebelum itu menjadi arena pacuan kuda untuk dirinya dan Diandra, sampai puncak kenikmatan mereka raih bersama.


"Pasti sangat sakit?." Diandra membersihkan wajah tampan Anggara yang terkena bogem mentah dari Morgan.


"Tidak, Mommy Di. Karana posisi kita yang menjadikan ku tidak sakit." Anggara terkekeh geli dengan kelakuan istrinya.


Bisa-bisanya Diandra minta penyatuan kala wajah dan tubuh Anggara yang sedang terluka. Tentu saja dengan alasan yang dibuat-buat oleh Diandra, katanya semua ini tidak akan terasa sakit kalau dia mengobati semua luka Anggara sambil menyatu. Ah, padahal bilang saja Diandra yang over dalam hubungan intim ini.


Diandra senyum sambil malu-malu dengan wajah yang memerah.


"Tapi bagaimana metode ku ini, Dad?. Daddy suka tidak?."


Pakai di tanya segala, ya pasti jawabannya akan sangat mengenakan, bukan hanya untuk Anggara saja tapi juga untuk Diandra.


Usai membersihkan diri dan sudah kembali lengkap dengan semua pakaian mereka. Anggara dan Diandra sama-sama terdiam untuk beberapa saat, menyadari semuanya sudah tidak akan mulus dan semudah ini untuk bisa berhubungan satu sama lain.


"Mungkin aku egois, tapi aku minta bertahan lah untuk ku di sini, di sampingku selamanya."


"Apa Daddy yakin meminta ku?."


"Iya, karena aku sudah tidak bisa kehilangan kalian lagi. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mempertahan kalian dalam hidup ku."


Diandra dan Anggara saling berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.


Selang dua hari dari kejadian kemarin, Morgan memilih terbang ke Jerman setelah mengalami patah hati yang sangat luar biasa.


Hubungan Anggara dan Diandra semakin tidak bisa terpisahkan. Tak ada jalan yang mempersulit keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Selama dua bulan kemarin setelah insiden itu terjadi, keadaan cukup aman terkendali. Tidak ada badai apa pun yang menerpa siapa pun akibat imbas dari masalah Anggara dan Diandra. Semuanya berjalan seperti biasanya.


Tapi siang ini, memasuki bulan ketiga setelah kejadian antara Anggara dan Diandra yang terbongkar oleh Morgan. yang bertepatan juga dengan bulannya Diandra yang mau melahirkan, tapi dia di tanggal pertengahan.


Ada yang membuat Mama Mona harus terdiam duduk di meja kerjanya. Karena bagaimana tidak, semua perusahaan yang sudah dibangunnya dari nol harus di tutup oleh pihak bank. Dengan alasan tidak sanggup membayar cicilan ke bank.


Dan memang benar adanya, karena selama dua bulan kemarin, semua perusahaan fashionnya tidak ada pemasukan sama sekali. Termasuk yang ada di Amerika sana.


"Ada apa di balik semua ini?. Kenapa semuanya bisa serentak begini?. Tanya Mama Mona pada dirinya sendiri. Dia bersiap untuk meninggalkan kantor yang selama ini dipakainya untuk bekerja.


Sudah tidak ada satu pun karyawan yang bekerja padanya satu Minggu sebelum semua perusahannya di tutup.


Mama Mona masih membawa kesedihannya saat sudah sampai di rumah. Melihat Diandra yang sedang menyiapkan semua keperluannya untuk melahirkan.


"Mama?." Diandra melihat jelas ada awan mendung yang memayungi sang Mama.


Mendapatkan panggilan, Mama Mona tersenyum sambil melangkah mendekati sang anak.


"Ada apa sayang?."


"Tidak, sayang. Mama baik-baik saja." Mama Mona melihat tumpukan baju bayi yang sudah di packing oleh Diandra. Ada yang berwarna pink atau pun biru. Karena terakhir Diandra melakukan USG kemungkinan dua bayinya laki-laki dan satu bayi perempuan.


Sementara itu, semua anggota keluarga dari pihak Regina dan Anggara sedang berkumpul untuk menentukan nasib rumah tangga Anggara dan Regina setelah peristiwa itu.


Meski pun ini rumah anak-anak mereka tapi karena ini menyangkut kebohongan besar mengenai pewaris dan penerus kedua perusahaan raksasa. Jadi kedua orang tua dari kedua belah pihak harus ikut menentukan.


Kecewa, jelas saja mereka semua merasakannya karena sudah dibohongi oleh pasangan suami istri itu.


"Kembali pada kesepakatan awal kau dan wanita itu." Tegas Dad Andreas.


"Tidak bisa, Dad. Aku tidak bisa meninggalkan dan memisahkannya dari mereka. Kesepakatan itu bisa aku rubah sewaktu-waktu. Di situ tertulis jelas." Timpal Anggara.


"Tidak, kau harus tetap menceraikan wanita itu. Aku tidak ingin ada wanita lain ada dalam hidup kita, selain bayi-bayi kalian." Tolak Regina dengan sangat tegas.

__ADS_1


"Sudah cukup!. Kami yang akan mengambil alih keputusan untuk kalian." Ucap Dad Andreas dengan tegas dan tidak ada yang bisa membantahnya.


Anggara terus saja menatap ponsel ketika sudah menutup sambungan telponnya bersama Diandra beberapa waktu lalu.


"Apa yang harus aku katakan pada mu, Mommy Di?." Batin Anggara.


Regina yang baru masuk ke kamar, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali mendekat dan mengambil hati Anggara lagi.


"Diandra pasti mengerti kenapa kamu melakukan ini pada nya." Regina duduk tepat di samping Anggara.


Regina meletakkan tangan pada paha Anggara lalu mengelusnya lembut.


Dengan pikiran yang kalut mengenai hubungan kedepannya bersama Diandra. Anggara begitu pasrah menerima sentuhan dari Regina yang masih merupakan istrinya.


Sampai mereka kini sudah berada di atas tempat tidur dengan tubuh yang masih polos.


Meski dengan segala kepedihan hatinya, dia harus bisa tidur bersama Anggara.


Dan berhasil, mereka bisa melakukan hubungan suami istri itu dengan api gairah yang tetap menggebu, apalagi beberapa kali Anggara meneriakkan namanya. Senyum kemenangan jelas terlihat pada wajah cantik Regina.


Hari ini, hari persalinan Diandra. Dia segera menghubungi Anggara namun tidak bisa tersambung.


"Mungkin Daddy kalian sedang dalam perjalanan ke sini." Ucap Diandra begitu excited menanti kelahiran buah hati mereka.


Yang menurut janji Anggara, mereka akan bersama-sama merawat dan membesarkan ketiga bayi mereka dengan mengabaikan kesepakatan mereka yang sebelumnya.


"Ayo, Di. Kita ke rumah sakit sekarang. Dokter Charles sudah menunggu mu." Mama Mona sudah membawa tas berisi perlengkapan bayi Diandra.


"Tapi tunggu Anggara dulu, Ma. Katanya dia mau menjemput kita." Diandra tidak ingin pergi tanpa suaminya.


"Apa bedanya, Di?. Bertemu Anggara di sini atau di rumah sakit. Mama sudah memesankan taksi online. Karena mobil Mama masih di bengkel. Ayo, Di!." Ajak Mona merangkul bahu Diandra lalu mengecup pipinya.


"Tapi bagiamana kalau Anggara datang ke sini, Ma?."

__ADS_1


"Ya, pasti langsung ke rumah sakit sayang. Karena dia tahu istrinya mau melahirkan."


__ADS_2