Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 31 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Gerakan calon bayi-bayi mereka sudah sangat bisa dirasakan secara langsung, baik oleh Diandra atau pun Anggara. Karena saat ini kehamilan Diandra sudah memasuki usia lima bulan.


Anggara begitu excited dengan semua hal baru yang terjadi dalam hidupnya karena Diandra.


Saat ini mereka sedang merasakan ada gerakan menendang atau pun seperti sedang membuat sebuah gelombang.


"Terima kasih sudah memberikan pengalaman yang tidak akan pernah ternilai dengan apa pun." Berulang kali Anggara menghujani wajah Diandra dengan kecupan yang penuh dengan kasih sayang.


"Kata Daddy sendiri tidak ada kata terima kasih untuk cinta." Ucap Diandra sambil menirukan gaya bicara Anggara.


Anggara tersenyum dengan mata yang terus saja fokus pada perut Diandra. Dimana ketiga bayi mereka sedang melakukan atraksi.


"Halo bayi-bayi ku. Aku Anggara, aku Daddy kalian." Ucapnya lembut di depan perut Diandra yang tanpa penghalang.


Diandra mengusap rambut kepala Anggara dengan sesekali menariknya karena gemas.


"Apa anak kita akan memiliki rambut seperti Daddy?. Pasti mereka akan sangat lucu dengan rambut seperti ini." Rambut yang bergelombang namun tetap rapi. Diandra terkekeh karena geli saat membayangkan anak mereka memiliki rambut seperti Daddy nya.


"Itu pujian atau sebuah ledekan, Mommy Di?." Anggara menggelitik pelan perut Diandra sampai Diandra tertawa sambil mengeluarkan air mata.


Anggara menghapus air mata yang secara tiba-tiba membasahi pipi Diandra.


"Ada apa?. Apa yang membuat mu bersedih di saat kita sedang bahagia seperti ini?." Bukannya Anggara tidak mengerti dengan kesedihan Diandra yang secara tiba-tiba ini. Tapi dia ingin mendengar langsung keluh kesah istri mudanya.


"Apa nanti mereka akan mengingat ku?, apa nanti mereka akan mengenali ku saat kami diberi kesempatan untuk bertemu lagi?." Diandra menutup wajahnya dengan bantal yang ada di sofa. Dia meredam suara isak tangisnya yang begitu memilukan hati.


Anggara memeluk lalu mengecup pucuk kepala Diandra. Memberinya kekuatan untuk bisa menerima, melewati semua ini. Hati Anggara begitu terenyuh dengan pertanyaan sang istri yang tidak sanggup dijawabnya.


"Apa Daddy bisa membatalkan perjanjian kita?." Diandra menurunkan bantal itu dengan wajah yang begitu kuyu. Kesedihan ini begitu mendalam dirasakan oleh Diandra.


"Kita akan bersama-sama membesarkan anak kita dan Kak Regina juga bisa ikut membesarkannya." Ucap Diandra kembali menutup wajahnya karena dia tidak bisa membayangkan jika pada akhirnya harus kehilangan ketiga bayinya.


Bukannya Anggara tidak ingin menjawab pertanyaan Diandra yang satu ini, namun dia tidak bisa memberikan harapan terlalu tinggi pada Diandra. Karena di sini juga Regina sudah sangat terluka harus membiarkannya dirinya dengan wanita lain. Padahal Regina merupakan wanita yang sangat setia selama masa pacaran dan pernikahan mereka.


Anggara tidak pernah menyangka kerumitan datang menghampiri hidupnya dengan kebahagian yang sedang menantinya.


Hati Diandra semakin hancur ketika Anggara terdiam, dia mengerti dengan diamnya Anggara. Berarti dia sudah harus bersiap dan harus belajar mempersiapkan diri dari sekarang untuk kehilangan mereka semua dari hidupnya.


Diandra tidak membayangkan akan sesedih ini saat dia sudah bisa sangat merasakan kehadiran Anggara dan ketiga bayi mereka.


Dia sudah terjatuh begitu dalam, dalam pesona dan rasa yang Anggara bawa dalam dan untuk hidupnya.


Dari Diandra yang tidak peduli dan tahu rasanya kehilangan, setelah dia kehilangan Papanya namun dia tidak terlalu menyadarinya. Karena Papanya sudah meninggal karena dia masih kecil .


Namun sangat berbeda dengan sekarang, saat usianya yang sudah cukup matang dan mengerti dengan apa yang terjadi dan dijalaninya, kini dia mulai serakah untuk memiliki Anggara dan ketiga anaknya.

__ADS_1


Keheningan pun terjadi di rumah Tania. Karena Morgan sudah meminta Diandra secara langsung pada Mama Mona saat ini. Mama Mona yang sudah berbicara banyak dengan Regina dan Tania mengenai Diandra kini hanya saling pandang dengan keseriusan Morgan yang begitu terang-terangan.


"Aku akan tetap menunggu Diandra sampai dia bisa menerima ku." Ucapnya lagi dengan penuh kesungguhan.


"Aku berterima kasih dengan keseriusan mu, Morgan. Tapi berikan aku waktu untuk menjawab kesungguhan mu pada putri ku." Mama Mona tidak bisa gegabah untuk menyerahkan Diandra setelah nantinya kehilangan Anggara dan ketiga anaknya.


Kevin pun sudah bukan menjadi pilihannya, karena Kevin juga memiliki hubungan dengan Anggara dan Regina.


"Iya Tante Mona. Aku sudah memberitahu Mommy dan Daddy ku tentang keseriusan ku pada Diandra."


"Iya aku percaya itu, Kakak mu sendiri sudah banyak bercerita pada ku tentang itu. Tapi aku minta waktu untuk berbicara pada Diandra sebelum aku membuat keputusan besar ini."


"Iya Tante Mona, aku akan sabar menunggu hari itu."


Mama Mona memijat pelipisnya pelan, belum selesai masalah satu, sudah datang masalah satunya lagi. Padahal yang dia butuhkan saat ini adalah solusi untuk masalah Anggara dan Diandra. Supaya dia bebas membawa pergi putri semata wayangnya itu. Tak masalah jika mereka harus kehilangan bayi Diandra karena itu merupakan konsekuensi dari kecerobohan putrinya sendiri.


Setelah berlama-lama dengan ketiga wanita itu, Morgan pamit undur diri dari hadapan mereka semua. Ada kelegaan tersendiri bagi Morgan tentang hubungannya dengan Diandra. Entah memiliki keyakinan dari mana, sehingga Morgan begitu yakin akan bisa mendapatkan Diandra seutuhnya.


Morgan belum tahu saja dengan kondisi Diandra saat ini, bahkan tentang hubungannya dengan Anggara dan Regina.


"Kau tidak memberitahu Morgan tentang Diandra dan Anggara?." Tanya Tania menatap Regina.


Regina tidak langsung menjawab Tania, dia menatap Mama Mona dan Tania secara bergantian. Entah apa yang dipikirkannya.


"Aku rasa justru akan baik jika Morgan mengetahui hal tentang Diandra. Karena dia akan membantu Diandra untuk melupakan Anggara dan bayi mereka." Tania memberikan usulannya terkait masalah Diandra.


"Kau tahu kan maksud aku dan Anggara apa?. Jadi aku tidak bisa gegabah memberitahukan Diandra pada Morgan."


Regina memegang tangan Mama Mona.


"Aku sangat mencintai Anggara dan mereka bayi yang dikandung oleh Diandra. Jadi aku mohon bawa Diandra pergi jauh dari kehidupan kami setelah Diandra melahirkan. Jangan biarkan Diandra melihat mereka karena takutnya pendirian Diandra akan goyah.


"Aku akan pastikan ketiga cucu mu akan hidup aman bersama kami, aku akan merawat dan membesarkan dengan sepenuh hati."


Regina tidak mau jika harus sampai kehilangan Anggara dan bayi yang sudah ada dalam perjanjian pernikahan Anggara dan Diandra.


"Ok, untuk sekarang kau harus bisa menyakinkan Anggara untuk mau menceraikan Diandra."


"Apa kau tidak bisa menunggunya sampai Diandra melahirkan?."


"Kalau sampai terpaksa mau bagaimana lagi. Tapi diusahakan secepatnya, karena itu akan lebih baik, menurut ku."


Begitu berat perbincangan malam ini, antara Tania, Mama Mona dan Regina.


Mama Mona akhirnya memberanikan diri untuk bicara terlebih dulu pada Regina sebelum dia mendapatkan jalan keluar dari Paman Usman.

__ADS_1


Siang ini Charles kembali berkunjung ke Villa Anggara, guna memeriksa kandungan Diandra. Karena Anggara melihat Diandra yang begitu kelelahan dengan kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke enam.


Anggara dan Diandra sudah sama-sama menunggu kedatangan Dokter Charles. Setelah pembicaraan mereka berapa waktu lalu, Diandra kesulitan untuk mengembalikan mood nya lagi. Rasa takut kehilangan dan bersalah sudah mendominasi hati dan pikirannya. Sehingga itu merupakan penyakit yang harus segera diatasi sebelum menimbulkan gangguan yang cukup fatal bagi Diandra dan bayi-bayinya.


"Semuanya sehat, baik, tidak ada gangguan apa pun. Air ketubannya saja yang sudah mulai sedikit." Ucap Dokter Charles di salah satu rumah sakit besar yang ada di kota Bogor.


Diandra dan Anggara sama-sama menyimak apa yang dikatakan oleh Dokter Charles.


"Berpengaruh tidak pada bayi kami?."


"Seharusnya tidak, semuanya masih aman, tapi nanti kita liat satu Minggu lagi."


"Tapi sepertinya ada yang kurang baik dengan hubungan kalian berdua?."


Diandra berusaha tersenyum namun setelahnya dia menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan.


Tapi Anggara melayangkan tatapan yang begitu tajam pada Dokter Charles usai menebak hubungan mereka saat ini.


"Aku akan mengambil vitamin karena vitamin ku sudah habis." Ucap Diandra pamit undur diri dari ruangan tersebut.


Anggara hanya mampu diam menatap kepergian Diandra.


"Apa yang terjadi?, tidak bagus untuk kesehatan Diandra jika hubungan kalian dingin begini. Kau harus berusaha lebih keras lagi untuk mengembalikan mood Diandra."


"Sudah aku coba, tapi sepertinya sekarang sedikit susah. Tidak seperti awal-awal Kehamilan." Keluh Anggara karena sudah mencoba berbagai hal untuk mengembalikan mood sang istri.


"Kau harus berusaha lebih keras lagi." Ucap Dokter Charles sebelum mereka meninggalkan ruangan Obgyn itu.


Anggara dan Charles melihat interaksi yang terjadi antara sesama wanita hamil . Anggara dan Charles sama-sama bisa melihat senyum tulus dan kebahagiaan saat Diandra berbicara dengan dua orang wanita hamil yang sama-sama sedang menunggu vitamin.


Cukup lama interaksi itu terjadi, hingga Diandra wanita hamil yang masih menunggu antrean vitamin.


Senyum kebahagiaan itu redup bersama dengan wanita hamil yang lainnnya sudah pergi.


Anggara dan Diandra tidak langsung pulang, karena menerima ajakan Dokter Charoes untuk makan malam bersama di kamar hotelnya.


Karena permintaan Anggara, Dokter Charles harus stay di rumah sakit Bogor untuk mempermudah pemeriksaan kandungan Diandra.


Sesampainya di kamar hotel Dokter Charles, Anggara dan Diandra duduk berjauhan. Lebih tepatnya Diandra yang lebih memilih untuk menghindari Anggara. Dia lagi membiasakan diri untuk tidak bergantung lagi pada pria itu. Meski sebenarnya sampai saat ini pun Diandra masih sangat bergantung pada Anggara. Karena semua kemudahan yang sudah diberikannya.


Masih ada waktu dua jam sebelum makan malam. Dokter Charles sudah memesan makanan ringan untuk cemilan mereka. Karena Dokter Charles mengajak Anggara dan Diandra untuk menonton film drama romantis.


Film pun sudah di putar, saat akan mendekati scene yang berbau-bau romantis, Dokter Charles beralasan ada panggilan telepon dari rumah sakit. Sehingga dia harus keluar untuk menerima panggilan teleponnya.


Diandra fokus dengan adegan slow motion yang ada di layar besar itu, berbeda dengan Anggara yang sudah menatap Diantara dari atas ke bawah sampai beruang kali.

__ADS_1


Untuk beberapa saat semuanya masih aman dengan adegan film tersebut. Namun pada detik berikutnya baik Anggara mau pun Diandra sudah tidak bisa menolak ajakan tubuh mereka untuk saling menyatu.


^^^ ^^^


__ADS_2