
Senyum kemenangan terukir di wajah tampannya, masakan yang semula terasa biasa di lidahnya kini berasa sangat nikmat. Dia benar-benar puas dengan sikap dingin Dila terhadap Satya. Lelaki tampan yang tak lain adalah Zian.
Zian baru saja menemui seseorang, karena ini lah dia tidak bisa makan siang bersama Dila. "Satya bukan seseorang yang patut aku cemaskan, sepertinya Dila sudah tak mempunyai perasaan apapun pada Satya," gumam Zian seorang diri sambil menikmati dessert.
"Zian?" sapa seseorang tiba-tiba di depan Zian. Wajah Zian yang semula ceria menjadi sinis.
"Felisia, ada apa?" Zian menyimpan berkasnya yang berserakan diatas meja.
Felisia duduk di kursi depan Zian, "sendiri? Wah, kebetulan."
"Aku mau pergi." Zian berdiri hendak keluar.
Felisia dengan cepat menarik tangan Zian, ia menatap Zian dengan wajah berbinar, seakan ia merindukan Zian bertahun-tahun. "Temani aku sebentar," ucap Felisia memelas.
"Zi???" Dila tiba-tiba muncul di depan Zian dan Felisia.
Dila menatap Zian dengan penuh tanya.
"Eh ada kamu, Dila, kebetulan kita abis makan siang," ucap Felisia sambil merapikan piring bekas makanan orang yang bersama Zian tadi. Seakan-akan dirinya yang telah makan bersama Zian.
"Kamu jangan salah sangka ya, kita cuma makan biasa kok," lanjut Felisia sambil mengambil lipstik dan kaca di tasnya dan mengoleskan lipstik ke bibirnya. Dia tak memperdulikan tatapan kesal Dila.
"Maksud kamu apa, Fel? Bahkan kita baru saja bertemu," ucap Zian, ia berjalan mendekati Dila yang masih berdiri mematung.
"Ini makan siang katamu tadi?" Dila tersenyum, senyum sinis.
"Sayang, ini nggak seperti yang kamu pikir." Zian mencoba meraih tangan Dila namun Dila menepis.
Dila tersenyum dan mendongak lalu menatap Zian, "aku percaya kamu, Sayang," ucap Dila, ia tersenyum meski terlihat terpaksa.
"Dila," gumam Zian.
"Aku ke kantor dulu, nanti jangan lupa menjemputku," ucap Dila, ia mencium pipi kanan Zian. Dila pergi tanpa memberi kesempatan Zian menjelaskan semuanya.
Zian dan Felisia menatap kepergian Dila, rahang Zian mengeras menahan amarah terhadap Felisia. Ia juga kesal karena tidak dapat menjelaskan pada Dila. Berbeda dengan Felisia, ia tersenyum karena berhasil membuat Dila kesal.
"Dia cemburu padaku? Hmmm, seharusnya dia berkaca, aku nggak pantas jadi saingaannya," ucap Felisia.
Zian mengambil berkasnya diatas meja beserta kunci mobil dan ponselnya, "tentu saja kamu nggak pantas menjadi saingaannya, dia jauh lebih baik daripada kau!" Zian menatap wajah Felisia sebentar dan berlalu pergi.
Felisia mendelik namun Zian tak memperdulikannya.
**
Dila masuk kedalam mobil Zian ketika pulang kerja, wajah Dila terlihat biasa namun dia tak berbicara saat di dalam mobil. Sengaja Zian memutar lagu Korea, lagu kesukaan Dila. Biasanya Dila akan bersenandung pelan menirukan, namun kali ini Dila hanya menatap jalanan lewat kaca mobil di sampingnya.
"Sayang, makan dimana?" tanya Zian lembut, ia ingin memecah keheningan.
"Terserah." Dila tak menoleh sedikitpun, ia masih terlihat asyik menatap luar mobil melalui kaca di sampingnya.
Zian menghela nafas panjang, ia tahu jika sedang menghadapi masa sulit jika Dila sudah mengatakan 'terserah'. Bagi Zian situasi ini lebih sulit daripada menghadapi lawan bisnis. Ia sadar jika ia salah bicara atau salah ambil tindakan maka akan makin rumit.
"Ada yang sedang terbakar sepertinya,"gumam Zian menatap jalanan di depannya. "Tapi aku juga senang, tadi ada keponakan resek yang sudah diabaikan." Senyum Zian merekah. "Ah, meski aku ini Om-nya, tapi memang aku lebih tampan dari keponakanku."
Dila mencebik. "Ish,, PD banget," gerutu Dila tanpa menoleh kearah Zian.
"Buktinya, wanita yang diinginkan keponakanku lebih memilih aku, bahkan wanita itu selalu cemburu jika aku dekat dengan wanita lain."
__ADS_1
Dila masih tak mau menatap Zian, namun ketika Zian melirik sekilas, terlihat Dila menahan tawa.
Zian meraih tangan Dila, sambil tetap melajukan mobilnya. "Sayang, jangan berpikiran aku ada apa-apa dengan Felisia, aku tadi nggak sengaja ketemu dia, sebenarnya saat kamu melihat kami tadi, kami baru saja bertemu."
"Aku memang makan dengan seseorang, tapi dia bukan Felisia, ada urusan dengan seseorang," lanjut Zian.
"Aku juga nggak maksa kamu buat percaya, aku nggak bisa memaksakan apa yang kamu pikirkan." Zian mengecup punggang tangan Dila.
Dila masih melempar pandanganannya keluar kaca mobil, berusaha memahami tiap kata demi kata Zian. Ia sebenarnya sudah tahu jika Felisia baru memasuki resto, karena ketika Felisia masuk kebetulan Dila sedang melihatnya. Dila hanya ingin melihat Zian menjelaskan betapa pentingnya dirinya bagi Zian.
****
Mata Dila menjelajahi seisi ruangan kerja Tio kakak iparnya. Ruangan berwarna putih pucat itu berhiasakan beberapa piagam penghargaan dan foto keluarga. Tampak foto Tyo dengan Rima beserta Adis dan Satya saat masih kecil. Terlihat sekali jika keluarga mereka berbahagia.
"Wah, ada angin apa Nyonya Zian Abiyaksa mampir di kantor kami," ucap Tio saat Dila baru saja masuk.
Dila tersenyum, "maaf kak, eh Pak, saya mengganggu waktu anda."
"Sudahlah, jangan memakai bahasa formal, pakailah bahasamu sehari-hari, bagaimanapun kamu adalah adik iparku." Wajah Tio tampak ramah, meski hubungannya dengan Zian tak bagus, namun Tio selalu bersikap ramah di depan Dila. Hal ini membuat Dila bertanya-tanya, kenapa Zian begitu membenci Tio.
"Terima kasih."
"Duduklah, kamu mau minum apa?" Lelaki berusia hampir setengah abad itu mengangkat telepon hendak memesan minuman pada pegawainya.
"Terserah kakak saja."
"Hmm,, baiklah, apa kamu mau coffee latte?"
"Wah, ternyata selera kita sama, saya sangat suka coffee latte." Dila membuka berkasnya.
"Saya ada waktu luang hingga sore nanti, kamu bisa tanyakan apapun yang kamu butuhkan." Tio melihat jam tangan di tangannya setelah memesankan minum Dila.
"Tugas dari kantor membawa saya kemari, tentu saja Zian tidak mengetahui hal ini." Dila tampak sedikit ragu mengatakan.
"Kamu bekerja di Firma hukum Pak Aldo, ya?" tanya Tio dsn di jawab dengan anggukan.
"Wah, berarti kamu calon pengacara hebat!" puji Tio sambil merentangkan tangannya ke udara.
Dila hanya menanggapi dengan senyuman tipis, Dila menyerahkan sebuah kertas pada Tio. Dia membacanya dengan cermat. "Hmm,, jadi masalah lama sedang di angkat kembali."
"Saya meyakinkan Pak Aldo sebelumnya, jika mengangkat permasalahan ini hanyalah membuang-buang waktu, saya yakin Kak Tio tidak ada urusan dengan mafia manapun."
Tio melepas kaca matanya dan meletakakannya diatas meja. Tio mengusap matanya yang lelah. "Minumlah dulu sebelum dingin."
Dila menyesap kopinya perlahan karena masih panas.
"Biarkan saja semua orang berpikiran sesuai isi hati mereka." Tio menatap wajah Dila. "Kerjakan dan periksa apa yang kamu butuhkan."
Dila menghela nafas lega mendengar ucapan Tio. Setidaknya Tio tidak memberikan kesulitan padanya.
"Kamu bisa hubungi aku atau asistenku jika butuh info apapun." Tio memberikan dua kartu nama pada Dila.
"Maafkan saya."
Tio tersenyum, "sudahlah, ini memang pekerjaanmu, aku akan membantu sebisaku." Tio menyesap kopinya bersama dengan Dila.
*****
__ADS_1
Peristiwa itu sudah lama terjadi, tepatnya dua puluh tujuh tahun yang lalu. Saat itu seorang pebisnis muda sedang membuat perusahaan. Namun karena dia bukan berasal dari keluarga kaya, ia merintis usahanya dari nol. Dia merintis usaha dengan Hendra. Dia menjalin kerja sama dengan Fauzan Abiyaksa, yang mana adalah ayah dari Zian dan Rima. Pengusaha sukses yang lebih senior dari pengusaha muda tadi , Agus Bramantyo.
Tio dikenal sebagai lelaki yang pantang menyerah dan tangguh. Dia memiliki rekan kerja sekaligus sahabat baiknya, Hendra. Namun saat nama Tio melejit setelah menikah dengan anak dari Fauzan, Rima. Sosok Hendra bak ditelan bumi, padahal Hendra adalah pendiri perusahaan Tio. Sejak saat itu Tio memegang kendali atas perusahaan hubungannya dengan Hendra, dan nasib baik bagi Tio karena ia mendapat warisan dari Fauzan.
Fauzan meninggal ketika Zian masih duduk di sekolah menengah. Fauzan membagi hak atas Rima dan Zian, saat itu Zian masih anak-anak, sehingga perusahaan diberikan sementara pada Rima dan kemudian diurus Tio.
Namun ternyata Zian menuruni bakat ayahnya, sejak sekolah menengah atas, Zian sudah mulai belajar bisnis. Sehingga ketika kuliah dia sudah memahami banyak hal tentang perusahaan ayahnya.
Setelah lulus kuliah, Zian langsung terjun di perusahaan yang di kelola Tio. Sejak diambil alih oleh Tio, perusahaan tak bisa berkembang, bahkan hampir bangkrut. Namun Zian tak bisa langsung memiliki perusahaan ayahnya, hal ini dikarenakan ayahnya memberikan Zian syarat yaitu bisa memiliki hak lebih besar dari Rima jika Zian menikah.
Dan ketika Zian menikah dengan Dila, perusahaan yang sudah diujung tanduk itu dipegang oleh Zian, tentu saja Tio tak terlalu mempermasalahkan karena perusahaannya jauh lebih baik dari milik Zian. Dengan berbekal ilmu yang ia dapatkan sejak remaja, Zian dengan cepat mengembangkan perusahaannya.
Selain perusahaan warisan ayahnya, Zian juga memiliki saham atas namanya yang ditanamkan ayahnya sejak Tio meminta Fauzan bergabung dengan perusahaan Tio dulu. Dan tanpa sepengetahuan Rima dan Tyo, Zian sejak kuliah sudah mulai bermain saham di berbagai perusahaan. Selama ini ia selalu meminta banyak uang pada kakaknya dan dibuat seakan-akan foya-foya, namun ternyata uang itu digunakan Zian untuk menanam saham.
Tio sempat terkejut melihat perubahan drastis pada perusahaan yang di pimpin Zian, dia sebenarnya menyesal karena membiarkan Zian memiliki perusahaan itu dengan utuh. Tio pikir Zian tidak memiliki kecakapan dalam bisnis dan tak memiliki saham lain di perusahaan lain. Tio juga tak mengira jika ternyata Zian dengan mudah menyanggupi syarat untuk memiliki istri.
Namun Tio tak dapat berbuat banyak, ia ingin membalas dengan cara lain namun mengingat Rima dan anak-anaknya begitu menyayangi Zian sehingga Tio mengabaikan Zian.
Lagipula meski perusahaan Tio dan Zian kini sudah sejajar, namun Tio masih punya usaha lain. Tio adalah anggota mafia besar di negara ini. Dia menyelundupkan obat-obatan terlarang di pasar gelap internasional.Tentu saja usahanya ditutup serapat mungkin meski rumor sudah mulai beredar. Rumor hanya rumor, banyak pihak berusaha membuktikan namun sia-sia.
Karena itu, Tio tak khawatir ketika Dila mencoba mengusik kehidupannya. Tio sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang penasaran akan kehidupannya.
Dan jika memang Dila sudah melebihi batasnya, dengan mudah Tio nanti akan melenyapkannnya.
******
Hari demi hari Dila lalui, ia disibukan dengan kasus Tio. Ia mencari tahu berbagai aliran dana Tio agar tahu kebenaran tentang rumor bisnis narkoba. Dila juga mencari jejak Hendra, selama ini Tio dicurigai membunuh Hendra. Banyak pihak berusaha membuktikannya selama bertahun-tahun namun hasilnya hanya berupa angan-angan. Begitu juga dengan perdagangan narkobanya, semua tertata sangat rapi sehingga tak ada bukti konkrit yang bisa menjerat Tio.
Dila ingin menghentikan penyelidikannya, ia merasa akan sia-sia saja waktu dan usahanya untuk mencari bukti kejahatan Tio. Lagipula, Zian juga tak akan membedakan izin. Dila sudah lelah menyembunyikan pekerjaannya yang sedang menagani kasus Tio.
Yang Zian tahu, Dila selama ini memang bekerja di firma hukum Aldo, namun hanya untuk kasus-kasus ringan. Bukan tentang kriminal, apalagi tentang Tio.
"Pak, sebenarnya siapa yang menginginkan kasus tentang perdagangan narkoba Tio ini terungkap?" tanya Dila saat di ruangan Aldo. "Saya merasa semua ini akan sia-sia saja, bukankah sudah banyak orang-orang lebih profesional yang memegang kasus ini dan tanpa ada hasil."
"Sudahlah, lakukan saja, soal siapa yang menggugat, serahkan padaku!"
"Apakah ini ada hubungannya dengan Hendra?" Dila tampak ragu.
Aldo berhenti membaca berkas di tangannya, ia menatap Dila. "Bahkan memang ini tujuan akhirnya, klien kita menginginkan hal yang diabaikan ini diperhatikan dan ditindak lanjuti."
"Klien? Siapakah klien kita ini?"
"Klien ini tidak ingin dipublikasikan namanya, namun ia membawa banyak bukti kejahatan Tio, terutama bisnis narkobanya."
"Namun bukti itu belum cukup akurat, selain itu, kita juga harus mencari tahu tentang hilangnya rekan kerja sekaligus pendiri perusahaan Tio yang masih menjadi misteri," lanjut Aldo.
"Apakah mungkin rumor yang beredar jika memang Hendra dibunuh Tio?" Dila bergetar saat mengatakan. Bagaimanapun Tio adalah kakak iparnya.
"Karena itu, tuntaskan kecurigaanmu, buktikan jika memang hal itu tidak dilakukan oleh Tio." Aldo menekankan kata dilakukan.
"Jika perlu, kamu juga harus mencari tahu lewat suami dan keluarga Tio, aku yakin kamu bisa, kan?" Aldo menatap Dila.
"Jadi ini , alasan Pak Aldo menyerahkan kasus ini pada saya?" tanya Dila.
Aldo tersenyum, "sepertinya memang hanya kamu yang mampu memecahkan masalah ini, lagipula bukankah kamu juga sudah bosan menangani kasus ringan? Kini saatnya kamu menangani kasus berbobot."
Dila menghela nafas panjang lalu keluar dari ruang kerja Aldo membawa beberapa berkas baru tentang Hendra.
__ADS_1
"Huft." Dila duduk di kursi kerjanya, ia membaca berkas yang ia diberikan Aldo padanya. "Melanjutkan penyelidikan ini bukan karena rasa penasaran terhadap bisnis Kak Tio, namun apa hubungannya ibuku dengan kak Tio?" gumam Dila saat membaca nama ibunya beserta foto ibunya saat muda bersama Tio. Meski foto itu diambil bertahun-tahun yang lalu, Dila tetap bisa menerka, itu adalah foto ibunya.
*