Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 96 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Siang ini, Rini memberikan kejutan pada Diandra. Setelah dirinya dihubungi dua Minggu yang lalu oleh Anggara dan Mama Mona. Rini begitu senang mendengar kabar kehamilan Diandra dan dia selalu senang jika ikut terlibat dalam kehamilan Diandra. Apalagi Rini diberitahu tentang kondisi Diandra yang lebih payah dari kehamilan sebelumnya. Terlebih Morgan memang ada pekerjaan di Jakarta dari Dad Andreas.


Diandra menangis haru di dalam pelukan sahabatnya tersebut. Tidak menghiraukan atau malu menangis di depan ketiga anaknya beserta yang lainnya. Diandra seolah mengungkapkan rasa rindu pada sahabat yang sekarang sudah memiliki kehidupan rumah tangga seperti dirinya.


"Terima kasih ya Rin, mau ke sini untuk menemani aku dan anak-anak. Nanti aku akan minta pada Anggara dan Dad Andreas supaya kau mendapatkan bonus karena sudah menjaga kami." Ucap Diandra di sela isak tangisnya.


Mereka hanya tertawa mendengar ucapan Diandra.


"Tenang saja, Dad Andreas, Anggara dan yang lainnya sudah membayar ku dengan sangat mahal. Kau hanya perlu perhatikan calon kalian dan diri sendiri. Jangan terlalu banyak pikiran." Balas Rini sambil melepaskan pelukan. Keduanya duduk di sofa ruang tengah.

__ADS_1


Bukan hanya Diandra yang merasa senang dengan kedatangan Rini, melainkan ketiga anak Diandra dan Anggara juga begitu antusias menyambut kedatangan Rini yang sudah diketahuinya dari Mama Mona.


Rini akan menempati salah satu kamar yang ada di rumah besar itu. Tapi tidak dengan Morgan. Morgan akan tetap tinggal bersama Tania dan Paman Usman. Karena jaraknya yang cukup dekat, jadi jika sewaktu-waktu Morgan membutuhkan Rini, Morgan bisa langsung datang ke rumah Anggara.


Anggara dan keluarga besarnya sudah memberikan ajakan pada Morgan untuk tinggal di rumah itu bersama Rini. Namun demi menjaga semuanya dan Morgan tidak ingin gegabah meski sudah tidak memilki perasaan apa pun lagi pada Diandra. Tapi tetap dia harus menjaga semuanya, jadi lebih dia memilih untuk tinggal bersama Tania.


"Kau tenang saja, aku sudah terbiasa. Di sana pun kami masih tidur terpisah. Rini belum mau membuka hatinya untuk ku. Kami sering berbicara banyak hal, tapi itu hanya sebatas pekerjaan atau masalah kedua orang kami. Selebihnya tidak ada." Morgan sedikit menceritakan kondisi rumah tangganya yang seperti jalan di tempat. Walau sudah beberapa tahun lamanya hubungan mereka terjalin. Tapi belum ada perubahan yang terlalu besar.


"Kau harus lebih bersabar lagi." Ungkap Anggara memberikan semangat.

__ADS_1


"Iya kau benar, mungkin aku harus lebih bersabar lagi dalam hubungan pernikahan ini. Beberapa tahun ini mungkin tidak ada artinya jika dibandingkan dengan perasaan Rini yang dulu sudah aku abaikan." Ucap Morgan selalu mengingat ke sana untuk menguatkan hatinya.


"Iya semoga saja penantian kau selama ini membuahkan hasil yang baik untuk hubungan kau dan Rini."


"Iya, terima kasih."


Makan malam kali ini rumah Diandra dan Anggara sangat ramai. Interaksi yang terjadi diantara anggota keluarga begitu hangat dan akrab. Terdengar canda, gelak tawa yang begitu lepas. Di tambah lagi dengan sambungan telepon melalui video call bersama keluarga yang ada di Jerman semakin membuat pecah suasana di rumah besar itu.


Sampai akhirnya Mama Mona, Tania, Paman Usman dan Morgan pamit dari sana. Meninggalkan Rini bersama keluarga kecil Diandra.

__ADS_1


__ADS_2