
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika dia memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub.
Menutup seluruh tubuhnya dengan air hangat yang sudah diberi aroma terapi dan sedikit kelopak bunga mawar.
Menenangkan pikiran yang telah dia gunakan satu harian ini, untuk mengenal rekan bisnis dan perusahan yang sudah bekerja sama dengan dirinya.
"Hanya untuk Mama, aku mau bekerja keras dan berjuang sampai sejauh ini. Aku tidak boleh mengecewakannya."
Diandra bangkit berdiri lalu mengambil kimono yang menggantung kemudian dia pakai untuk menutup tubuhnya.
Diandra segara naik ke atas tempat tidur setelah membaca pesan dari Rini, jika besok Rini dan Kevin akan sampai di Paris saat sore hari.
Dengan mudah Diandra memejamkan kedua matanya sambil memeluk foto Mama Mona yang selalu dibawanya kemana-mana.
Sekitar pukul tujuh pagi, Diandra sudah berada di perusahan besar itu. Kali ini dia meeting bersama semua designer profesional yang dimiliki oleh perusahaan itu. Semuanya menunjukkan bakat yang didukung dengan kemampuan yang sangat luar biasa. Diandra tidak menyesal sebab sudah berada di sini karena Mama Mona.
Kembali Diandra berbincang dengan Monica, tapi kali ini hanya sebentar. Diandra harus segara ke bandara untuk menjemput Rini dan Kevin sekalian makan malam bersama di apartemen milik Kevin. Yang jaraknya cukup jauh dari kantor dan apartemen Diandra.
Kepergian Diandra kali ini tanpa supir yang dipersiapkan oleh perusahaan. Diandra lebih memilih menaiki bus yang hanya satu kali sampai bandara. Sebab dari sana Kevin akan mengendari mobilnya sendiri.
Bus yang ditumpangi Diandra baru saja sampai di bandara. Seharusnya Rini dan Kevin sudah keluar dari pesawat. Tapi mereka belum terlihat sama sekali.
Diandra duduk di tempat yang bisa dengan mudah terlihat oleh Rini dan Kevin jika mereka keluar. Dia membuka ponsel dan membaca email yang masuk dari beberapa perusahaan lain.
Benar saja, Rini dan Kevin yang baru keluar bisa langsung melihat keberadaan Diandra yang duduk dengan pakaian yang sangat cantik.
"Diandra!." Panggil Rini setengah berteriak.
Diandra bangkit dari tempat duduknya sambil tersenyum pada Rini dan Kevin, tapi seketika senyum itu hilang. Berbarengan dengan datangnya sosok pria yang masih sanggup menggetarkan hatinya.
Seolah dunianya berhenti saat ini, ketika pandangan mereka saling bertemu untuk beberapa detik. Segala rasa tercurah melalui sorot mata keduanya, tapi dengan cepat Diandra mampu menguasai hatinya. Menunjukkan dirinya yang tetap baik-baik saja setelah kepergian mereka yang tanpa pamit.
Sementara Anggara hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi yang terbaca sedikit pun.
__ADS_1
Rini dan Kevin mengikuti pandangan Diandra yang tertuju pada apa yang ada dibelakang mereka.
"Anggara."
"Kak Anggara!."
Ucap lirih keduanya, yang mungkin tidak akan terdengar oleh Anggara.
Rini menarik lengan Kevin untuk menyingkir dari jalanan, membiarkan Anggara untuk berjalan melewatinya. Dan mereka ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya pada Anggara dan Diandra.
Anggara berjalan melewati Rini dan Kevin dengan wajah datar tanpa ekspresi apa pun. Sampai dia berada dekat dengan Diandra, bau parfum yang masih sanggup dihirupnya. Namun tidak menjadikan Anggara datang pada Diandra, melainkan pada sosok wanita yang berada tidak jauh dari posisi Diandra saat ini.
"Ayo, sayang!." Ucap Anggara pada wanita itu setelah melewati Diandra seolah tidak mengenal atau pun melihat kehadiran Diandra di depan matanya.
Dia pria dewasa yang harus bisa menjalankan logikanya ketimbang harus memakai perasaanya untuk berhadapan dengan wanita yang bernama Diandra.
Diandra tidak sanggup berbalik badan untuk melihat wanita yang dipanggil sayang oleh mantan suaminya.
Turut mendengar dan menyaksikan apa yang tejadi, Rini berhambur memeluk Diandra yang memaksakan tersenyum.
"Ayo kita jalan lagi, mobil ku sudah menunggu." Kevin berusaha mencairkan suasana kedua wanita itu terutama Diandra.
Di dalam mobil pun, Diandra berusaha tetap bersikap baik-baik di depan Rini dan Kevin. Banyak hal yang dia tanyakan pada keduanya. Mulai dari keadaan Mama Mona, makanan kesukaannya yang sudah dipesan jauh-jauh waktu sampai Diandra menanyakan penerbangan mereka berdua.
Rini dan Kevin saling tatap di akhir setelah menjawab semua pertanyaan Diandra. Mereka sangat prihatin dengan Diandra yang seperti ini. Rini ikut sakit mendapati kenyataan Diandra yang masih berada dalam kesakitan.
Diandra langsung meminta ke kamar mandi setelah sampai di apartemen milik Kevin, sebab dia sudah ingin menumpahkan apa yang ingin dibuangnya.
Menangis pelan dalam diamnya untuk beberapa saat, sampai dia bisa menormalkan lagi perasaanya.
Di rasa sudah lebih baik, Diandra keluar dari kamar mandi. Menatap Rini dan Kevin yang sekarang sudah berdiri didepannya.
"Aku baik-baik saja." Ucap Diandra sambil menarik tangan keduanya menuju meja makan. Rini dan Kevin mengikutinya. Lalu mereka duduk mengelilingi meja makan.
__ADS_1
"Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar." Diandra segera membagikan piring pada Rini dan Kevin. Mereka mulai melahap makanannya.
Kevin menerima telepon dari Mama nya, ketika dia sudah menghabiskan makanannya tanpa sisa.
Sedangkan Rini dan Diandra masih di meja makan. Membereskan meja makan dari sisa-sisa makanan.
"Diandra..." Rini menggenggam erat tangan Diandra yang sedang memegang piring terkahir yang dibereskan.
"Apa aku terlihat sangat menyedihkan saat ini?." Diandra menarik tangannya dari genggaman Rini.
"Di!." Ucap Rini lirih.
"Bohong besar, Rin. Jika aku sudah melupakannya. Tapi aku sedang berusaha untuk tidak terjatuh lagi, karena ada Mama yang harus aku perjuangkan kebahagiaan dan hari tuanya. Jadi tolong berhenti mengasihani ku apalagi karena pria itu." Ucap Diandra panjang lebar lalu setelahnya Diandra pamit pada Rini dan Kevin untuk pulang ke apartemennya.
Kevin menahan tubuh Rini yang akan mengejar Diandra.
"Biarkan Diandra menyelesaikan masalah hatinya sendiri. Kalau pun dia sudah menyerah pasti dia akan mencari kita." Ucap Kevin sambil mengelus rambut kepala Rini dengan sayang. Rini pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Kevin.
Diandra sudah sampai di lobby apartemen. Kakinya dengan tergesa menuju lift yang terbuka tapi tiba-tiba saja tangannya ada yang menarik dari belakang. Posisi Diandra pun berbalik menghadap orang yang sudah menarik tangannya.
"Morgan!."
"Aku ingin bicara."
"Tidak malam ini, aku sangat lelah."
"Baik, pulang kantor aku akan menjemput mu."
Diandra hanya mengangguk untuk mempercepat langkahnya kembali setelah berjanji pada Morgan.
Sementara itu, Anggara yang baru pulang karena urusan pekerjaan. Kini dia mengurung diri di dalam ruang kerja yang bersebelahan dengan kamar ketiga anaknya.
Pertemuannya dengan Diandra harus berakhir dengan sangat dramatis. Dimana dia memanggil sayang pada sepupunya.
__ADS_1
Dan dia sangat yakin jika Diandra pasti akan mendengarnya.
"Apa itu akan melukai mu?. Lagi-lagi luka yang ku berikan pada." Anggara menyugar rambutnya kasar.