Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 94 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Kedatangan Mama Mona dan Tania sangat membantu Diandra yang benar-benar merasa sangat payah di kehamilannya yang kedua, meski di dalam rahimnya hanya ada satu orang calon bayi. Tapi entah kenapa seolah menguras seluruh tenaganya.


"Tidak apa-apa Diandra kalau kamu merasa payah saat hamil yang kedua ini. Jangan dijadikan beban pikiran, yang nanti malah mempengaruhi janinnya." Ucap Mama Mona menasehati Diandra yang terlihat tidak nyaman dan berhasil menghilangkan semangatnya.


"Iya, Diandra itu hal yang sangat wajar." Sahut Tania memberikan kelegaan pada hati Diandra. Tapi tetap saja dirinya harus bisa bangkit dari keadaan ini meski sangat tidak mudah. Karena kalau bukan dirinya yang mengurus ketiga anaknya dan Anggara lalu siapa.


"Iya Ma, Tante Tania. Aku akan berusaha bangkit dan menikmati proses kehamilan ini." Jawab Diandra berusaha bangun dan hendak turun dari tempat tidur.


"Kamu mau kemana?." Tanya Mama Mona dan Tania bersamaan.


Diandra tersenyum, begitu besar perhatian yang diberikan oleh Mamanya dan Tante Tania.


"Aku harus menyiapkan makan untuk anak-anak dan Anggara." Ujar Diandra merapikan rambut lalu mengikatnya.

__ADS_1


"Sekarang kamu tenang saja, kami sudah memasak untuk anak-anak dan Anggara. Dan sekarang kamu yang harus makan, ayo kita keluar. Makan di luar lebih enak dan segar." Ajak Tania sambil membantu Diandra berdiri. Mama Mona berjalan keluar kamar terlebih dulu, diikuti oleh Diandra dan Tania. Ketiganya langsung ke meja makan.


Tania mengajak ketiga anak Diandra untuk bermain di dekat kolam renang, di sana ada lapangan jadi mereka bisa bermain puas di sana. Sedangkan Mama Mona, Diandra dan Anggara di meja makan menemani Diandra makan.


"Sayang, aku sudah bicara pada Mama Mona dan Tania. Kita akan tetap pindah ke rumah itu, tadi Paman Usman sudah melihat semuanya dengan detail. Biar kamu ada bisa dekat dengan Mama Mona, Tania dan kantor aku. Jadi mungkin besok kita sudah sudah bisa pindah ke sana. Bagiamana menurutmu?." Tanya Anggara pada Diandra yang merasa kesulitan untuk memastikan nasi ke dalam mulutnya.


"Jangan dipaksakan makan Mommy Di kalau kamu tidak bisa menelannya. Kamu mau makan apa selain ini?." Diandra meletakkan sendok dan garpu di pinggiran piring.


"Aku ikut saja apa pun keputusan Daddy, aku tidak bisa berpikir apa pun yang baik untuk kita. Aku merasakan tubuh ku saja sangat tidak bertenaga dan tidak bersemangat." Diandra menutup matanya karena benar-benar merasa lelah.


"Kamu mau Mama telepon Rini dan memintanya datang ke sini?."


"Mau Ma, tapi sekarang Rini sudah menikah jadi sudah tidak bebas seperti duku lagi Ma. Tidak usah lah Ma, aku bisa sendiri ada kalian ini." Tolak Diandra setengah hati. Sebenarnya sangat berharap jika Rini ada di sini bersamanya, membantunya dirinya melewati masa-masa kehamilan ini.

__ADS_1


Anggara dan Mama Mona saling tatap lalu Mama Mona mengangguk dan Anggara pun mengangguk.


.


.


.


Diandra dan anak-anaknya serta Anggara sudah menempati rumah barunya. Tentu saja di bantu oleh Mama Mona dan Tania. Bahkan ketiga anak Diandra dan Anggara diajak ke kantor karena ada meeting yang harus dihadiri oleh Mama Mona.


Ketiga anak itu selalu mengelilingi keberadaan Mama Mona meski sedang meeting sekali pun. Itu berhasil menarik perhatian salah satu kliennya.


"Semua anak-anak Nyonya begitu lucu dan sangat pintar." Ujar pria tampan salah satu dari kliennya, yang mungkin dari usianya lebih muda beberapa tahun dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2