Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 43 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

"Di, bukannya kamu ingin mendedikasikan keahlian mu untuk mendesign pakaian atau apa pun itu untuk anak kecil." Tanya Mama Mona sambil melihat beberapa profil perusahan yang menawarkan kerja sama pada Diandra.


"Iya, Ma. Apa ada?." Diandra melongo ikut melihat layar laptop milik sang Mama.


Diandra memainkan mouse nya ke bawah untuk melihat lebih banyak lagi perusahaan yang begitu antusias dengan semua designnya.


Mama Mona dan Diandra begitu asyik dengan laptop didepannya, hingga dering ponsel mengalihkan perhatian Diandra si pemilik ponsel.


Diandra tidak lantas mengangkat teleponnya, karena dari no yang tidak dikenalnya dengan kode luar negeri.


"Kenapa tidak diangkat, Di?." Mama Mona melirik karena sudah tiga kali panggilan, Diandra masih belum menjawab panggilan teleponnya. Entah apa yang sedang Diandra pikirkan.


"Tidak apa-apa, Ma. No nya aku tidak kenal." Jawab Diandra menunjukkan layar ponselnya pada Mama Mona yang kemudian langsung mati panggilan masuknya.


Hingga sampai pada panggilan keempat baru Diandra mengangkat teleponnya.


"Halo..."


Mama Mona melihat dengan seksama reaksi Diandra yang hanya diam saja, lebih tepatnya Diandra sedang mendengarkan seseorang berbicara dari ujung sana.

__ADS_1


"Baik, besok saya akan datang ke alamat yang anda kirimkan."


Diandra menatap Mama Mona sembari meletakkan ponselnya setelah mengakhiri panggilan teleponnya.


"Ada apa, Di?."


Dengan wajah masih yang masih terkejut, Diandra memegang tangan Mama Mona lalu menggenggamnya sangat erat.


"Rumah model terbesar di Paris menerima design ku, Ma. Dan mereka sudah akan memproduksinya secara besar-besaran."


Diandra melompat kegirangan sambil berputar dengan tetap berpegangan pada tangan sanga Mama.


Diandra begitu sangat bahagia dengan pencapain yang sangat luar biasa dan ini merupakan mimpi terbesar sang Mama yang bisa di tembus olehnya.


Mama Mona mengangguk penuh haru dengan kemampuan sang anak yang ternyata memiliki bakat terpendam yang kini tampak terlihat sangat jelas.


Sementara itu, drama terjadi menjelang saat akan tidur. Dimana Jayden dan Hayden menyembunyikan boneka kesayangan Katherine. Sehingga gadis kecil itu tidak bisa tidur tanpa adanya boneka tersebut.


"Hiks...hiks...hiks..." Katherine menangis dari balik guling yang dipeluknya.

__ADS_1


Jayden dan Hayden hanya tertawa melihat Katherine yang menangis, bagi mereka berdua itu merupakan hiburan yang sangat mengasyikan.


Cukup lama Katherine menangis, hingga Anggara masuk ke kamar dan menyalakan lampunya.


"Daddy?."


Wajah kaget kedua putra tampannya begitu jelas terlihat, namun mereka masih bisa tertawa kecil sambil mengambil boneka Katherine yang disembunyikannya di dalam lemari pakaian Jayden.


Anggara mengambil boneka itu, kemudian meminta Jayden dan Hayden untuk cepat naik ke atas tempat tidurnya masing-masing.


Lalu dia duduk di atas tempat tidur Katherine.


"Ini boneka mu, sayang." Wajah Katherine menyembul dari balik guling lalu tersenyum manis pada Anggara.


Senyum yang selalu mengingatkannya pada sosok wanita yang masih sangat dicintainya.


"Dad..." Sebagai ucapkan terima kasih, Katherine memeluk tubuh Anggara yang semakin kursus dari dua tahun yang lalu.


Ketiga anaknya sudah dalam posisi mau tidur, Anggara selalu menemani mereka sampai tertidur lelap. Memperhatikan setiap detail wajah mereka yang begitu mirip dengan dirinya.

__ADS_1


"Apa kamu akan mengenali mereka, jika nanti suatu saat kamu bertemu dengan mereka?."


Itu yang selalu menjadi pertanyaan dari Anggara. Karena tidak sedikit pun Diandra melihat wajah ketiga anak mereka.


__ADS_2