Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Tiga belas


__ADS_3

Dila tersenyum menatap pantulan wajahnya  di cermin. Disana terlihat dirinya mengenakan gaun putih, gaun yang dipesan khusus Zian untuk Dila. Polesan make up makin mempertegas kecantikan Dila. Rambut panjangnya dihiasi mahkota indah.


"Ibu, hari ini semua orang datang ke pernikahanku, aku berharap ibu segera sembuh agar bisa bersama kami," gumam Dila sendiri di ruang kamar hotel.


Di ruang lain Zian mengenakan tuxedo berwarna hitam. Wajahnya yang tampan makin terlihat berkharisma. 


Hari bahagia telah tiba, saat yang membahagiakan bagi Dila dan Zian. Zian mengadakan resepsi di salah satu hotel di Surabaya. Mengundang banyak kenalan bisnisnya. Zian dan Dila memilih konsep pernikahan modern, Zian menunjuk WO terbaik sesuai kriterianya.


Keduanya berjalan beriringan di depan para tamu. Musik instrumental Canon in D mengalun saat keduanya berjalan di pelaminan. Tangan Dila melingkar pada  lengan Zian. Semua mata fokus pada Zian dan Dila.  Sesampai di pelaminan, Zian dan Dila berdiri saling menatap. Wajah cantik Dila tersenyum pada Zian. 


"Kamu cantik, Sayang," bisik Zian sambil menatap wajah Dila. Dila tersipu mendengar ucapan suaminya, jantungnya berdegup kencang, padahal ini bukan kali pertama Zian bersikap romantis padanya.


"Akhirnya tanganku bisa menggenggammu di depan banyak mata." Zian menggenggam tangan Dila yang terbungkus sarung tangan cantik, jemari mereka bersatu dan saling menggenggam.


"Pernikahan rahasia kita berakhir di pelaminan ini," ucap Dila lirih, ia mengeratkan genggaman tangannya, mengisyaratkan jika ia yakin dengan ucapannya.


Tak lama MC acara memandu acara mengatakan berbagai kalimat sambutan dan menjamu para undangan. Para tamu menyantap hidangan, beberapa yang lain bernyanyi dan menari bersama, beberapa yang lain berbondong menyalami pengantin. 


Ketika para undangan mendekat untuk mengucapkan selamat, Zian dan Dila tak pernah berjauhan, mata Zian dan Dila saling bertemu ketika menyapa para tamu. Mereka mencuri-curi pandang saat berbicara.


"Ayo kita berdansa! " ajak Zian.


"Jangan, aku malu," ucap Dila, ia meneguk minuman dari gelas yang ia pegang.


"Ikuti saja langkahku. nanti kamu pasti bisa, ayolah, sayang, aku ingin sekali berdansa denganmu dari dulu." Zian menarik tangan Dila dengan lembut, lalu keduanya menuju ke tempat para undangan berkumpul untuk berdansa.


Lagu lama unforgettable milik Nat king Cole  yang romantis membawa para tamu dan kedua mempelai ke lantai dansa. 


Zian memeluk pinggang Dila sambil matanya saling menatap, tangan kiri Zian meraih tangan kanan Dila, mereka bergerak sesuatu alunan musik. Dila bisa merasakan debaran jantung Zian, bahkan nafas hangat Zian juga terasa di wajah Dila.


"Sayang, aku bahagia sekali bisa memelukmu dan berdansa disini," bisik Zian, tangannya masih menggenggam tangan Dila mengikuti alunan musik.


"Aku juga, Sayang, ini hari membahagiakan dalam hidupku." Senyum Dila merekah.


Kini  Zian melepas genggamannya, ia memeluk Dila, sedangkan kedua tangan Dila melingkar di leher Zian. Wajah mereka berdekatan dan kaki mereka tetap mengikuti alunan musik. Mereka terhanyut untuk beberapa saat dalam melodi. Banyak mata memandang mereka, ada yang senang, ada yang iri, namun Dila dan Zian tak peduli.


Ucapan selamat untuk Dila dan Zian terucap dari para tamu, banyak yang tak menyangka jika Zian menikahi gadis biasa. Karena selama ini Zian dikenal dekat dengan banyak wanita kelas atas seperti Felisia salah satunya.


Satya datang bersama Adis, dia mendatangi tempat Dila berdiri. Dila sedang sendiri mencari minum karena kelelahan berdansa, dan Zian sedang berbincang dengan kolega bisnisnya.


"Dis, kakak mau ke toilet dulu ya, kamu ambil makan dulu," ucap Satya lalu berlalu meninggalkan Adis dan mendatangi Dila. Dia berbohong pada Adis agar Adis tak mencegahnya.


"Kamu cantik Dila," ucap Satya saat sudah di depan Dila. Dila yang sedang mengambil minum karena kelelahan berdansa sedang tak bersama Zian, dan kebetulan tempat Dila berada sedang sepi.


Dila terkejut melihat Satya, namun ia berusaha tampak santai meski peluhnya mulai keluar karena takut. "Oh, Al... Eh Satya, terima kasih, tapi aku sarankan kamu memanggilku tante, nggak sopan jika kamu memanggilku dengan namaku," ucap Dila sinis.


Satya meraih tangan Dila sesaat setelah Dila menaruh gelasnya. "Ayo ikut aku!" Satya hendak berjalan namun Dila menepis tangan kekar Satya.


"Jangan, Sat, jangan rusak pesta pernikahanku," ucap Dila sambil menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Satya.

__ADS_1


"Pernikahan apa? Pernikahan pura-pura?" bentak Satya. "Lihat itu!" Satya menunjuk kearah sisi gedung, disana terlihat Felisia sedang berbincang dengan Zian.


"Mereka pasti ada hubungan spesial, nggak mungkin mereka hanya teman biasa, lihat wajah Felisia yang sedang kacau itu! Dia pasti memohon pada Om Zian agar meninggalkanmu." Ucapan Satya membuat Dila merasa terkejut.


Dila melihat Felisia yang sedang merajuk pada Zian, "kamu jangan ikut campur, kumohon jangan masuk dalam kehidupanku lagi!" Dila menatap Satya sendu setelah melihat kearah yang dimaksud Satya. Wajah cantik itu terlihat sedih.


Satya menggenggam tangan Dila, "Dila, aku mohon, kembalilah padaku!" Tatatapan Satya menatap penuh permohonan.


Dila melepaskan tangannya, ia menampar pipi Satya, "jangan lancang!" bentak Dila. Tiba-tiba keberanian Dila kembali.


Satya memegangi pipinya yang ditampar Dila, mata Satu memancarkan kemarahan, "dua kali kamu menamparku, Dila!" bentak Satya sambil menatap tajam pada Dila, "kenapa kamu nggak sadar jika aku mencintai kamu!" Satya tiba-tiba meraih tubuh Dila dan memeluk Dila dengan paksa.


Dila berusaha memberontak namun tubuhnya tak bisa menahan kekuatan Satya. Apalagi Dila mengenakan gaun dan heels yang membuat dirinya kewalahan menghadapi serangan tiba-tiba Satya. Satya semakin kehilangan kewarasannya, ia  berusaha mencumbu Dila dengan kasar. Ia lupa jika yang di depannya adalah tante yang seharusnya ia hormati.


"Tolong!" teriak Dila. Ia tak dapat berterima dengan lantang.


Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik paksa tubuh Satya, Satya yang lengah tak dapat menghindar, sebuah pukulan bertubi-tubi mengenai wajahnya. Satya berusaha melawan, ia berhasil meninju wajah orang itu, saat Satya hendak menghajar lagi justru tangannya ditarik ke belakang dan berakhir dengan tubuh Satya jatuh terjengkang.


Darah Satya menetes, ia mengusap darahnya dengan kasar, ia berusaha berdiri namun lelaki yang menghajarnya tadi mendatangi Satya dan naik diatas tubuh Satya sambil mencengkram kemeja Satya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya meninju wajah Satya tanpa ampun.


Satya menggeram menahan sakit namun orang yang menghajarnya tak peduli. Seketika ruangan penuh orang, mereka bergegas menarik tubuh orang yang menghajar Satya, beberapa lagi menarik tubuh Satya agar Satya tak mati konyol. Namun keduanya masih ingin berduel, tampak dari cara Satya menolak di tarik orang-orang.


Dila menutup mata dengan tangannya, tubuhnya bergetar karena sikap Satya. Perlahan mata Dila terbuka, tampak banyak orang menatapnya penuh tanda tanya.


Sebuah lengan melingkar memeluk Dila, "jangan dilihat! Dia pantas mendapatkannya." bisik seseorang yang Dila kenal yaitu Zian.


Teriakan Adis memanggil kakaknya membuat Dila membuka matanya, Satya sudah diamankan oleh beberapa orang dan dibawa pergi . Dila baru menyadari jika bukan Zian yang berkelahi dengan Satya, melainkan orang lain. Tubuh Dila masih dipeluk Zian, namun mata Dila berusaha menemukan siapa penolongnya. Ya, pasti bukan Zian, Zian berada dengannya.


Mata Dila tertuju pada sebuah sosok yang sedang terduduk dengan setelan jas abu-abu tua yang kini tampak berantakan.


"Dokter Indra?" pekik Dila membuat Indra yang masih bernafas tersengal-sengal karena habis berkelahi menoleh kearah Dila.


Indra berusaha berdiri dan berjalan kearah Dila. "Kamu nggak pa-pa?" tanya Indra tanpa memperdulikan tatapan tajam Zian.


"Astaga, kamu terluka karena aku, dok." Dila melihat sudut bibir dan pelipis dokter Indra berdarah.


"Panggil tim medis!" ucap Zian


Zian, Dila dan Indra duduk, tamu yang hadir disuruh kembali memakan jamuan agar tak menjadikan Dila sebagai tontonan.


"Astaga, kenapa pestamu menjadi kacau seperti ini, Zian?" ujar Felisia yang tiba-tiba muncul saat Indra diobati tim medis.


Dila mengacuhkan keberadaan Felisia, begitu juga Zian dan Indra.


"Ini dokter Indra kan? Ya ampun dok, kenapa bisa babak belur karena wanita ini sih?" Lagi-lagi Felisia berkata.


"Lain kali, tolong perhatikan istrimu, jangan sampai dia lepas dari pandanganmu," ucap Indra pada Zian.


"Terima kasih, aku akan memperbaiki sikapku lagi," ucap Zian.

__ADS_1


"Sepertinya memang ada yang nggak beres dengan istrimu, Zian, dia menggoda keponakanmu rupanya," gumam Felisia.


Zian dan Indra menatap Felisia dengan tajam,  Felisia merasa tersudut, "pikirkan kembali ucapanku tadi Zian, jangan sampai kamu hidup dengan orang yang salah." Felisia berkata lalu meninggalkan ruangan tempat dimana Dila, Indra dan Zian berada.


"Terima kasih, dok," ucap Dila. "Maaf membuatmu terluka."


Indra menatap Dila sebentar, lalu berdiri, "selamat menempuh hidup baru, semoga kamu bahagia," ucap Indra lalu beranjak pergi meninggalkan Dila dan Zian.


"Kalau kamu lelah, kamu bisa ke kamar dulu, aku nggak mau kamu nggak nyaman di resepsi kita," ucap Zian setelah Indra pergi.


"Kenapa kamu nggak nyelamatin aku? Lihat sekarang, gara-gara menyelamatkan aku, dokter Indra menjadi babak belur karena ulah Satya."


"Bukankah kamu nggak mau aku berkelahi lagi dengan Satya? Apalagi sudah kulihat ada yang menyelamatkanmu, jadi kupikir lebih baik aku menenangkanmu." Zian menatap Dila dengan tatapan menggoda.


"Dimana Satya sekarang?"


"Kenapa? Mungkin dia sudah dibawa polisi."


"Lepaskan dia, Zi, biarkan dia pulang, aku nggak mau menambah luka di hati Satya," ucap Dila sambil menatap Zian.


"Biarin, dia pantas mendapatkannya, bisa-bisanya Satya berbuat se-bren*sek itu ke kamu."


"Ah, sudahlah, bebaskan Satya, aku nggak mau pusing dengan kakakmu nanti," ucap Dila sambil menekan pelipisnya sendiri karena merasa pusing dengan kehadiran Satya.


Zian tersenyum, "oke, tapi kamu janji jangan beri celah sedikitpun untuk bertemu dengan Satya, ya?" 


Dila mengangguk, "aku juga takut, Zi, aku nggak nyangka Satya bisa seperti itu."


"Dia sepertinya sangat menyukai kamu, sama seperti dokter itu." Zian tampak tersenyum sinis.


"Terserah, yang penting aku nggak suka mereka, sama seperti kamu ke Felisia itu kan?"


"Kok bawa-bawa Felisia?" Alis Zian mengernyit tanda tak paham.


"Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu tadi mojok sama Felisia?" tanya Dila sambil menampilkan wajah kesal.


Zian tertawa, "suamimu ini terlalu tampan, wajar aja banyak yang menjadi bucinku," ucap Zian membuat Dila mengernyitkan alisnya karena merasa Zian terlalu PD.


"Ah sudahlah, terserah, sana kamu keluar temui tamu kamu dulu! aku rapikan dulu penampilanku."


"Kamu yakin nggak pa-pa keluar?" 


"Ini pesta kita, aku nggak mau tanpa menjadi bagiannya," ucap Dila sambil merapikan rambutnya.


Zian tersenyum, "oke, aku tunggu di depan," bisik Zian lalu ia melangkah pergi meninggalkan Dila yang kini ditemani beberapa orang untuk merapikan penampilannya.


Pesta tetap berjalan seperti rencana, tak ada lagi pengganggu yang hadir. Meski banyak para tamu yang penasaran dengan kejadian barusan, mereka memilih bungkam karena mereka tak mau Zian kesal dan marah. Bagaimanapun, ini adalah hari istimewa Zian dan Dila.


*********

__ADS_1


__ADS_2