Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 88 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Morgan dan Dad Andreas sudah berada di Miami. Bahkan mereka sudah tiga hari mencari langsung keberadaan Mommy Lydia tapi masih belum menemukan petunjuk apa pun. Sampai-sampai Morgan dan Dad Andreas tidak sempat untuk menemui Dad Willy yang masih berada di Miami dan masih berharap bisa memperbaiki hubungannya bersama Mommy Lydia.


Hingga sudah satu Minggu Morgan dan Dad Andreas melakukan pencarian, tapi masih belum bisa tahu dimana keberadaan Mommy Lydia. Sampai dering ponsel milik Dad Andreas berbunyi dan itu panggilan dari Anggara. Meski pun Anggara berada di Indonesia, Anggara tetap membantu dan memantau pencarian Mommy Lydia.


Dad Andreas segara bergegas dengan mengajak Morgan setelah mematikan sambungan teleponnya bersama Anggara. Anggara memberinya sebuah petunjuk tentang posisi Mommy Lydia saat ini.


"Bukannya itu tempat penampungan, Dad?." Tanya Morgan dengan perasaan yang bercampur aduk. Tidak pernah menyangka jika Mommy Lydia yang selalu hidup enak dan sangat berkecukupan kini berada di sebuah penampungan di negara orang lain.


"Keadaan Lydia yang masih hidup saja patut kita syukuri. Nanti kan kita bisa membawanya kembali ke indonesia."


"Dad Andreas tidak marah dan benci pada Mommy?."

__ADS_1


Dad Andreas menatap Morgan yang sudah berkaca-kaca. "Bagiamana aku bisa membenci wanita yang memiliki anak hebat seperti kau, Morgan?. Dengan berbesar hati kau mau mengembalikan apa yang menjadi hak ku dan keluarga besar ku . Padahal bisa saja kau yang akan menghabiskannya."


Morgan menundukkan kepalanya dengan begitu dalam. Menyesali semua kecurangan yang sudah dilakukannya saat dulu terhadap keluarga Dad Andreas. Padahal sekarang keluarga itu mau membantu mencari Mommy Lydia dan tetap menjaga hubungan baik diantara kedua keluarga.


Sampai di tempat yang dituju. Dad Andreas dan Morgan sama-sama menatap pilu wanita yang sedang mengantre untuk mendapatkan jatah makan siangnya.


"Biar aku yang akan menghampiri Mommy, Dad." Pinta Morgan karena takutnya Mommy Lydia akan malu jika Dad Andreas yang mendatanginya.


Setelah memantapkan hatinya, Morgan berjalan kearah Mommy Lydia, mendekatinya hingga wanita paruh baya itu menengok pria yang saat ini sangat dirindukannya.


"Mom..." Panggil Morgan dengan begitu lirih, air mata tidak dapat ditahannya, menetes begitu saja melihat kondisi Mommy Lydia saat ini yang sangat kurus dan tidak terurus.

__ADS_1


"Morgan..." Mommy Lydia keluar dari antrean dan menarik lengan Morgan untuk menjauh dari mereka.


"Untuk apa kau datang ke sini?. Aku sudah senang dan tenang tinggal di sini bersama mereka. Aku tidak memiliki apa pun lagi untuk kembali pulang ke Paris atau pun ke Jerman. Anggap saja kau sudah tidak memiliki seorang ibu seperti ku." Ucap Mommy Lydia, berusaha pasrah dan menerima jika dirinya lebih memilih untuk tinggal di tempat penampungan ini dari pada harus pulang.


"Mommy tidak akan tinggal di sini, karena aku akan membawa Mommy pulang." Ucap Morgan sambil meraih kedua tangan Mommy Lydia. Tapi sayang Mommy Lydia memberikan penolakan.


"Pulang lah cepat sebelum ada orang yang mengenali kau di tempat ini!. Aku tidak ingin membuat reputasi kau jelek. Kau baru saja membentuk keluarga kecil dan aku tidak ingin menganggu kalian. Cepat lah pergi dagu sini!." Usir Mommy Lydia sambil berpaling. Menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba saja menetes.


Mommy Lydia hendak masuk lagi dalam barisan antrean yang hanya tinggal sedikit. Namun sebelum hal itu terjadi, Dad Andreas sudah datang ditengah-tengah mereka berdua.


"Kau harus ikut pulang bersama kami!, Isabel sudah sangat merindukan kau, Lydia."

__ADS_1


__ADS_2