
Adam sedang menikmati wine yang telah menemaninya hampir satu jam lamanya. Adam tidak pernah bosan untuk meneguk setiap tetas wine yang ada di dalam gelas.
"Kau tidak pulang?. Kalau mau pulang biar aku antar, kau tidak bisa menyetir sendiri." Tanya Yudi, sahabat baik sekaligus rekan bisnis Adam yang masih memilki hubungan kekerabatan yang cukup dekat.
"Nanti pagi saja, aku akan langsung ke kantor." Jawab Adam meneguk habis wine yang baru di tuang ke dalam gelasnya.
Yudi hanya mengangguk, kembali duduk di depan Adam.
"Kau yakin akan ke Semarang?."
"Hem, kau harus pastikan semuanya berjalan lancar. Jangan sampai ada yang mencurigai ku dan Mona, berada di dalam hotel yang sama. Kau harus bertanggung jawab untuk itu semua, aku tidak ingin ada kegagalan." Adam mulai menaruh gelas yang kosong itu lalu menatap ponsel yang baru dikeluarkannya dari saku jasnya.
"Aku adalah pria brengsek yang ada di muka bumi ini. Pernikahan ku tidak ada masalah, kehidupan kami sangat bahagia tanpa kehadiran anak sekali pun. Istri ku wanita cantik, baik hati dan tidak ada kekurangan yang bisa kau temukan dalam dirinya. Tapi kenapa hati ku bisa bergetar saat bersama wanita lain, yang bahkan usianya jauh di atas ku." Adam merutuki kebodohannya mengenai perasaannya.
__ADS_1
"Kalau kau tahu kau brengsek, kenapa kau tidak berhenti dan menjauh sejenak dari wanita itu?. Kau malah membuat sesuatu yang akan semakin membuat orang, mengecap kau memang pria yang paling brengsek." Yuda mengomentari apa yang dikatakan oleh Adam sebelumya.
"Aku tidak bisa berhenti dan menjauh dari wanita itu. Aku sudah jatuh dalam pesona wanita matang itu." Adam tidak berniat untuk menghentikan kegilaannya dalam mendapatakan Mama Mona.
"Kau sudah harus mempertimbangkan semuanya, Adam. Anggara dan Andreas tidak akan membiarkan kau hidup kalau sampai kau menyakiti wanita itu. Tapi kau juga bisa kehilangan banyak yang berharga karena ulah kau sendiri." Yuda cukup keras memperingatkan Adam yang terkena panah asmara Mama Mona.
"Hem, kau sangat benar. Aku siap mati dan kehilangan banyak hal karena wanita itu." Jawab Adam begitu mantap. Dia tidak peduli jika harus menyebrangi lautan berapi demi menggapai Mama Mona.
Yuda sudah tidak mengomentari lagi karena sudah tidak ada yang bisa dikatakannya lagi untuk menghentikan Adam.
Sementara itu di rumah Diandra, Mama Mona sudah berpamitan pada ketiga cucu dan anaknya untuk terbang ke Semarang. Ketiga cucu Mama Mona sudah membuat catatan untuk mainan yang akan di bawa Mama Mona dari Semarang nanti, sebagai oleh-oleh.
"Mama hati-hati ya."
__ADS_1
"Iya, Di. Kamu juga hati-hati. Jaga kandungan mu. Kalau perlu bantuan jangan sungkan telepon Rini atau Tiara."
"Iya Ma."
Mama Mona segera menaiki mobil yang di bawa supir perusahaan. Mobil itu sudah melaju meninggalkan kediaman Diandra menuju bandara.
.
.
.
Mama Mona sudah berada di Semarang. Dia di jemput oleh perwakilan dari perusahan klien yang ada di Semarang.
__ADS_1
"Mari, Ibu Mona. Saya akan mengantarkan ibu Mona ke hotel." Ucap pegawai yang dikirim oleh perusahan kliennya.
"Baik, Pak Jalal. Terima kasih." Mama Mona segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke hotel.