Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 65 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Pagi ini Diandra sudah bertolak ke Jakarta, hanya seorang diri tanpa Mama Mona sesuai apa yang disarankan oleh Paman Usman.


Sesampainya di kantor Anggara, terlebih dahulu Diandra di sambut oleh Mommy Isabel namun tanpa kata-kata. Hanya pelukan hangat penuh kerinduan. Lalu selanjutnya Diandra di persilakan untuk duduk sambil menunggu Dad Andreas yang masih berbicara di telepon bersama Dad Willy.


Sorot mata Mommy Isabel memancarkan adanya kesedihan, tapi Diandra tidak bisa menebak apa. Atau mungkin kesedihannya karena dirinya.


Tidak lama kemudian Dad Andreas masuk dengan wajah yang menahan amarah. Dia menatap Diandra yang duduk tenang didepannya.


"Aku tidak ingin basa-basi, Diandra. Kau sudah tahu bagaimana kondisi perusahaan ku. Ketiga cucu ku ada pada kalian. Yang artinya itu kau dan Anggara berada di atas angin. Tapi sekarang keadaan sepertinya akan berbalik lagi. Tapi bukan untuk keuntungan ku melainkan orang lain. Sudah bisa dipastikan kau dan aku yang akan kehilangan semuanya."


Diandra masih bergeming dengan pemikirannya sendiri. Apa ada hal lain yang membahayakan. Tapi apa?, siapa?.


Diandra belum mengerti arah pembicaraan Dad Andreas, hingga dia bertanya lagi pada Dad Andreas.


"Apa Tuan Andreas bisa mengatakannya lebih jelas lagi pada ku?. Karena jujur saja aku tidak mengerti dengan apa yang Tuan Andreas katakan sebelumnya."


Anggara..."

__ADS_1


"Biar kan aku yang bicara pada Diandra, Dad. Kau cari udara segar saja di luar."


"Diandra..." Mommy Isabel mendekat, lalu dia duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Dad Andreas sebelum dia pergi dari ruangannya.


"Ada apa Nyonya dengan suami ku?."


Diandra menggenggam erat tangan Mommy Isabel. Menguatkan hatinya jika sampai hal buruk terjadi pada suaminya.


"Jangan panggil aku, Nyonya. Tapi panggil aku Mommy, Di. Aku Mommy mu juga."


Lalu Mommy Isabel memberitahukan kejadian yang menimpa Anggara dan Regina. Genggaman Diandra semakin mengerat mendengar cerita Mommy Isabel. Padahal itu belum sampai akhir. Bagaimana jika Diandra tahu kondisi Anggara yang sebenarnya.


Mommy Isabel melanjutkan lagi ceritanya karena Diandra yang mendesak. Kemudian Mommy Isabel memberitahukan Regina yang harus kehilangan nyawa dalam kecelakaan tersebut. Diandra turut prihatin atas apa terjadi pada Regina.


"Lalu bagaimana dengan suami ku, Mom?."


"Kedua kaki Anggara yang paling parah dari kecelakaan itu. Dan ada kemungkinan untuk diamputasi."

__ADS_1


Diandra langsung memeluk Mommy Isabel karena sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi. Tangis Diandra pecah dalam pelukan Mommy Isabel dan Mommy Isabel mengeratkan pelukannya pada tubuh Diandra. Sama-sama saling menguatkan satu sama lain.


Hening untuk sementara waktu, hanya suara Isak tangis dari kedua wanita itu terdengar memenuhi ruangan Dad Andreas.


Keduanya begitu bersedih karena pria yang sama-sama mereka sayangi sedang tidak berdaya di kota nun jauh di sana.


Diandra melerai pelukannya, dia menatap Mommy Isabel dengan begitu intens. Menghapus sisa-sisa air mata Mommy Isabel yang membasahi pipinya.


"Kapan kita bisa menjenguk Anggara, Mom?."


Mommy Isabel menggeleng lalu menundukkan kepalanya.


"Ada apa lagi, Mom?." Diandra menyentuh lembut bahu Mommy Isabel. Berharap tidak terjadi apa-apa lebih dari sekedar mendengar kaki Anggara harus diamputasi.


"Wily dan Lydia menuntut ganti rugi atas kematian Regina dan juga mereka akan melaporkan Anggara jika kita tidak segera memenuhi tuntutannya. Jadi sementara waktu kita tidak diperbolehkan untuk mengunjungi Anggara sebelum kita melakukan kesepakatan dengan mereka."


"Apa pun akan aku berikan untuk suami ku, Mom. Bahkan nyawa ku juga akan aku serahkan. Asalkan Anggara tetap baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2