Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 34 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Sepanjang sore ini, telinga Anggara begitu panas dengan percakapan yang masih seputar tentang Diandra, Diandra dan Diandra.


Bahkan yang membuatnya sampai harus mendengus kasar ketika dengan entengnya Dad Andreas dan Dad Willy mau mengajak Mama Mona dan Diandra untuk makan malam bersama. Dengan tujuannya untuk mengikat Mama Mona dan Diandra dengan kekuasaan yang mereka miliki.


Anggara yang sudah tidak tahan pun, hanya bisa menghilang dari hadapan mereka dengan alasan pekerjaan. Bukan pergi keluar namun masuk ke ruang kerjanya yang ada di lantai tiga.


Mommy Isabel yang melihat perubahan besar dari diri sang putra membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi. Sehingga dia juga memutuskan untuk menyusul dan berbicara dengan Anggara.


Tok...tok...


"Anggara..." Suara lembut yang selalu saja menegurnya jika dia salah atau pun tidak sesuai dengan keinginan keluarganya.


Anggara segera membuka pintu yang memang sengaja di kuncinya.


"Mommy?."


"Apa Mommy boleh masuk atau Mommy menganggu mu?." Tanyanya sebelum bisa masuk karena takutnya dia akan menganggu pekerjaan Anggara.


Anggara menggeleng sambil tersenyum. "Tidak Mom, masuk lah!. Aku senang Mommy mau menemui ku."


Anggara menarik kursi dan mempersilakan sang Mommy untuk duduk. Kemudian dia mengitari meja untuk duduk di kursi kebesarannya.


"Semoga penglihatan Mommy saja yang salah." Ucap Mommy Isabel ketika mereka saling pandang.


"Memangnya apa yang Mommy lihat?." Tanya Anggara mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Mommy Isabel yang ada diseberang nya.


"Diandra?. Sepertinya kau sangat terganggu dengan pemilik nama cantik itu. Ada apa?."


Anggara yang tidak bisa menutupi kekesalan, atau apa pun dari Mommy Isabel. Dia mulai bercerita tentang Diandra yang mulai dikenalnya. Bukan status mereka dan kehamilannya. Karena dia merasa ini terlalu cepat takutnya malah membuat semua rencananya berantakan.


"Diandra teman satu sekolah Morgan, Mom. Aku pernah bertemu dengan Diandra beberapa kali. Anaknya cantik, pintar. Morgan sangat menggilainya. Tapi....."


Anggara menjeda ucapannya, karena bibirnya terlalu gatal ingin mengakui jika Diandra itu adalah istri yang akan memberinya keturunan dan pewaris bagi mereka. Bahkan dia sudah jatuh pada wanita muda itu. Namun beruntungnya, dia masih bisa menahannya.

__ADS_1


"Tapi apa?." Tanya Mommy Isabel sambil menggerakkan tangan yang ada dalam genggaman Anggara, karena Anggara tidak kunjung melanjutkan ceritanya. Anggara malah asyik dengan lamunannya.


"Mamanya Diandra menggantungkan semua harapannya pada Diandra untuk bisa melanjutkan sekolahnya sampai selesai. Makanya mereka masih menolak Morgan." Lanjut Anggara sambil menghela nafas karena lega tidak sampai keceplosan.


"Lalu apa masalahnya, hubungannya apa sampai kau harus tidak menyukainya?." Rupanya jawaban yang diberikan Anggara sangatlah tidak memuaskan bagi Mommy Isabel. Hingga dia harus mengajukan pertanyaan lagi.


"Mommy harap ini tidak ada hubungannya dengan yang ada di sini?." Ucap Mommy Isabel sambil berdiri lalu sedikit membungkuk dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Anggara untuk menunjuk dada sebelah kiri sang putra.


"Mommy melihatnya di sini kau yang bermasalah dengan nama Diandra. Bukan karena Morgan atau apa pun." Lanjutnya lagi sembari mengelus wajah tampan sang putra yang mulai ditumbuhi bulu kasar di sepanjang garis rahangnya.


"Rasanya aku tidak pernah bisa mengelak dari mata Mommy. Jadi untuk apa aku capek-capek memberikan pemahaman yang logis pada Mommy." Anggara bangkit lalu memegang tengkuknya.


Kemudian dia berjalan mendekati sang Mommy, menekuk kedua kakinya di hadapan Mommy Isabel.


"Apa Mommy bisa melihatnya dengan begitu jelas atau Mommy hanya asal menebak saja?.


"Mungkin karena Mommy adalah Mommy yang sudah melahirkan kau, jadi mau tahu dan peka terhadap perubahan yang terjadi sekecil apa pun."


"Tapi dia tidak mengetahuinya, Mom." Anggara menundukkan kepalanya lalu mengecup punggung tangan Mommy Isabel.


"Ada hal yang tidak bisa aku ceritakan sekarang pada Mommy. Tapi mungkin tidak lama lagi, pasti aku akan menceritakan semuanya pada Mommy. Mommy mau bersabar bukan?."


"Iya Mommy akan menunggu sampai kau sendiri yang memberitahukan semuanya pada Mommy." Keduanya bangkit lalu saling berpelukan dengan begitu hangat dan begitu erat.


"Terima kasih banyak, Mom." Ucap Anggara dalam pelukan sang Mommy.


Saat menjelang pagi hari, Diandra terbangun karena dia tidak bisa benar-benar tidur tanpa Anggara disampingnya, dia melihat pintu kamar yang sengaja tidak di tutup karena berharap Anggara akan pulang malam ini dan menemaninya tidur. Tapi sampai sekarang Anggara tidak datang menemuinya.


Diandra membuka ponselnya lalu melihat Anggara dari layar ponselnya.


"Aku tidak bisa tidur, Dad." Keluh Diandra sambil mengelus perutnya.


Mama Mona yang sejak semalam terjaga pun mendengar apa yang dikatakan oleh Diandra karena dia takut Diandra membutuhkannya.

__ADS_1


Namun yang Diandra butuhkan adalah hanya Anggara, bukan dirinya.


"Padahal Mama yang ada di sini, Diandra." Bisik Mama Mona lirih sambil bangkit lalu menuju dapur untuk membuat teh hangat untuk dirinya dan Diandra.


Diandra menatap intens wajah pria yang sudah mengambil semua dunianya.


"Aku tidak menyesal sudah mencintai pria seperti diri mu. Aku juga tidak menyesal sudah mengandung anak-anak dari mu walau pun nantinya mereka semua tidak akan ada yang aku miliki."


Prang....


Cangkir yang senang di pegang Mama Mona meluncur jatuh ke bawah ketika mendengar ucapan Diandra yang sangat memilukan hatinya.


"Kenapa kamu bisa sebodoh ini?." Tanya Mama Mona sambil menerobos masuk kamar Diandra tanpa permisi.


"Ayo kita pergi membawa bayi-bayi mu?." Ajak Mama Mona mengeluarkan tas untuk memasukan pakaian Diandra.


Diandra cukup kaget dengan aksi nekad Mama Mona.


"Ma, Mama..." Diandra menahan tangan Mama Mona yang sudah berhasil memasukkan beberapa potong pakaian Diandra.


"Tidak, Ma!. Jangan lakukan ini!." Jangan membahayakan diri Ma dan perusahaan Mama. Anak-anak ini memang milik mereka, jadi kalau pun aku membawa pergi jauh mereka. Pasti Anggara akan menemukan kita." Ucap Diandra yang membuat Mama Mona tercengang.


"Apa maksud mu membahayakan Mama dan perusahaan?." Mama Mona mengguncang kedua pundak Diandra namun tidak kencang.


Diandra mengangguk sambil meraih kedua tangan Mama Mona.


"Anggara sendiri yang mengatakannya pada ku, Ma. Jadi aku tidak memiliki keinginan untuk kabur kemana pun karena itu akan sangat membahayakan Mama.


"Apa dia mengancam mu?." Diandra menggeleng sebagai jawaban. Padahal kurang lebihnya sepertinya itu, untuk tetap menahan Diandra berada disisinya.


"Maafkan aku, Ma. Jika karena aku, Mama harus ikut terseret juga. Tolong maaf kan aku, Ma." Ucap Diandra penuh permohonan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku sudah lelah, Ma. Jika harus menerka-nerka nasib kita esok hari seperti apa. Jadi kita biarkan saja hari terlalu berlalu sampai mereka lahir. Kemudian kita akan tinggalkan kota ini. Aku akan ikut kemana pun Mama pergi." Diandra mengecup punggung tangan sang Mama dengan begitu takzim.

__ADS_1


Mama Mona tidak sanggup berbicara lagi, hingga dia membawa tubuh Diandra dalam pelukannya. Mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


"Maaf kan Mama juga, Di. Hingga kamu harus memilih jalan ini."


__ADS_2