Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Tujuh


__ADS_3

Zian meremas rambutnya sendiri, ia tampak kesal pada sikapnya saat memperlakukan Dila. 


"Sayang, hari ini kamu bisa ambil libur nggak?" tanya Zian saat sarapan.


"Ada apa?"


"Aku ingin kita kencan," ucap Zian.


"Kencan?" 


"Iya, apa kamu tidak bisa?" tanya Zian sambil menatap Dila. Dila tampak berpikir.


"Kenapa mendadak? Kamu nggak ada ngomong apapun dari semalam," ucap Dila.


Zian menarik nafas dengan kasar, tampak ia kecewa, "aku ingin menghabiskan waktu denganmu, sepertinya hubungan kita kurang baik akhir-akhir ini," ucap Zian.


Dila tersenyum, "besok saja ya, sayang, hari ini aku agak sibuk," ucap Dila pelan dan sambil menggenggam tangan Zian yang berada diatas meja.


"Baiklah." Zian kembali memakan sarapan buatan Dila.


Bukan tanpa alasan Dila menolak ajakan Zian, namun hari ini Dila sudah terlanjur membuat janji pada Indra, pagi-pagi tadi Indra menghubunginya, katanya ada perubahan baik terhadap kondisi ibunya. Tentu saja suasana hati Dila menjadi ceria meski semalam dia sudah dilecehkan oleh Zian.


*******


Dila melangkahkan kakinya menuju ruangan ibunya dirawat, dia menemukan Indra bersama seorang perawat di dalam ruang rawat ibunya.


"Bagaimana, dok?" tanya Dila.


Indra tersenyum, "usaha kamu nggak sia-sia Dila, ibu kamu sudah mulai menggerakan jari-jarinya, beliau juga bisa merespon ucapan kita," ucap Indra.


"Oh, ya? Syukurlah." Dila mendekati ranjang ibunya, mencium kening ibunya. "Ibu, aku percaya ibu pasti akan bangun," ucap Dila sambil menangis karena bahagia.


"Terima kasih, dok." Dila meraih tangan Indra dan menatap Indra dengan senyuman. Indra tertegun dengan sikap Dila. Dila sendiri tak sadar akan sikapnya, ia terlalu bahagia hingga lupa diri.


Setelah beberapa saat Dila keluar dari ruang rawat ibunya, dia melangkahkan kakinya dengan riang. Dila merasa akan menemukan kebahagiaaannya setelah ini. Indra keluar kamar bersama Dila, setiap tingkah laku Dila diperhatikan Indra tanpa Dila sadari. Indra tersenyum sendiri melihatnya. Bagi Indra, melihat senyum Dila adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, untuk itu Indra berusaha keras untuk kesembuhan ibunya Dila.


Namun tanpa Dila dan Indra sadari, dari jauh ada sepasang mata memandang mereka dari jauh, dia adalah Zian. Zian tampak kesal melihat Dila dan Indra semakin dekat.


Setelah kepergian Dila, Zian buru-buru mendatangi Indra. Amarah yang ia tahan serasa ingin meledak,ia ingin memberi peringatan pada dokter muda itu.


Zian mendorong tubuh Indra hingga Indra bersandar di dinding rumah sakit saat keadaan sedang sepi.


"Ada apa? Siapa anda?" tanya Indra.


"Aku peringatkan, jangan dekati Dila, dia milikku!" Zian mencengkram kerah kemeja Indra.


Indra tersenyum sinis, "ciih, siapa anda? Bisa-bisanya ngaku-ngaku," ucap Indra sambil membenarkan letak kemejanya.


"Jangan buat dirimu menyesal!" ucap Zian lalu beranjak pergi dengan emosi. Untung saja asisten Indra segera melerai mereka.


******


Dila dan Zian bersiap makan malam di rumah Kak Rima, kali ini kak Rima mengadakan makan malam karena Satya pulang dari study-nya. Jika bukan karena Satya, Zian tentu tak akan hadir.


Selama ini Satya selalu mengidolakan Zian, sejak kecil Satya bilang jika dewasa nanti akan menjadi pengusaha sukses seperti Zian. Zian juga sangat menyayangi keponakannya.

__ADS_1


Dan ini adalah kali pertama Dila akan bertemu Satya, sudah empat tahun Satya berada di Jepang.


"Kamu cantik sekali," puji Zian saat melihat Dila memakai dress merah.


Dila tersipu malu, Zian melihatnya semakin gemas, Zian semakin tak rela melihat Dila dekat dengan lelaki manapun,apalagi mengingat Dila memberikan senyumannya pada Indra tadi, hati Zian menjadi kesal.


"Mungkin Satya akan sering main kerumah, dia sangat dekat denganku sebelumnya," ucap Zian sambil berjalan bersama Dila menuju mobilnya.


"Aku akan menjamunya dengan baik, apa yang menjadi kesayanganmu maka aku juga akan menyayangimu," ucap Dila.


"Kamu memang yang terbaik!" Zian dan Dila memasuki mobil.Zian segera melajukan mobilnya menuju rumah kakaknya.


Sesampai di rumah Rima, Zian berjalan bergandengan tangan dengan Dila. Zian ingin menunjukan pada kakaknya jika rumah tangganya memang baik-baik saja. Zian tak ingin kakaknya mengetahui jika pernikahan mereka hanya diatas kertas. Dila pun melakukan kerja sama dengan baik, dia bersikap manja pada Zian.


"Selamat datang, Dila sayang," ucap Rima sambil memeluk Dila dan mencium pipi Dila.


Lalu Dila dan Zian masuk ke ruang makan rumah Rima, disana sudah ada Adis dan Tyo.


"Halo tante, senang bertemu tante," ucap Adis sambil berdiri dan memeluk Dila.


"Halo keponakan tante yang cantik, waaah kamu makin cantik sekarang," ucap Dila.


"Selamat datang Zian dan Dila," ucap Tyo namun Zian tampak tak peduli, Zian segera duduk di salah satu kursi di samping Dila.


Dila menjawab sapaan Tyo dengan senyuman, dia tak mampu bersikap dingin seperti Zian.


"Panggilkan kakakmu, Dis!" ucap Rima pada Adis.Adis segera pergi memanggil kakaknya.


Suara langkah kaki kembali terdengar, tampak Adis lebih dulu datang di susul kemudian Satya di belakang Adis. 


Zian memeluk Satya, kemudian mengacak rambut Satya dengan gemas, "wow, kamu sudah dewasa sekarang, Sat," ucap Zian.


Keduanya tertawa bersama, namun berbeda dengan Dila, Dila melihat kehangatan antara om dan keponakannya malah terlihat diam dan terkejut.


"Kenalan nih tante kamu," ucap Zian hingga Satya baru sadar dengan sosok di sebelah Zian.


Pandangan mata Satya dan Dila bertemu, Satya tampak terkejut melihat kehadiran Dila.


"Sayang, kenalin ini Satya keponakanku, tentunya keponakan kamu juga," ucap Zian pada Dila.


Baik Dila maupun Satya hanya diam. mereka saling menatap dan terkejut.


"Kakak? Kok tante dilihatin terus sih?" Suara Adis tiba-tiba memecah keheningan.


Dila mengulurkan tangannya,"Dila," ucap Dila. Sesaat Satya diam dan melihat Dila mengulurkan tangannya lalu Satya pun mengulurkan tangannya.


"Satya, Alvin Prasetya," ucap Satya sambil menjabat tangan Dila.


"Aku ke toilet dulu," bisik Dila pada Zian.


"Adis, antar tantemu ke toilet," ucap Zian pada Adis.


"Nggak usah, Dis, aku ke toilet sendiri saja, permisi," ucap Dila sambil beranjak.


Dila menatap wajahnya di cermin toilet, ia tak berusaha menenangkan dirinya, ia tak percaya bertemu orang yang dulu selalu ia cari-cari. Kini orang itu ada di dekatnya, dan dia adalah keponakan Zian. 

__ADS_1


"Astaga, aku tak percaya ini, jadi Alvin adalah keponakan Zian," gumam Dila. Dila mengatur nafasnya, ia tak mau terlihat canggung. Setelah merasa dirinya sudah lebih baik, Dila melangkahkan kakinya menuju ruang makan keluarga Rima.


"Kamu harus segera memulai menerapakan ilmu kamu, kamu bisa tanya banyak hal padaku," ucap Zian pada Satya.


"Terima kasih. om," ucap Satya.


Dila kembali duduk disamping Zian, ia tak banyak bicara jika tak ditanya lebih dahulu. 


"Aku nggak nyangka, ternyata tanteku sangat muda sekali," ucap Satya setelah selesai makan sambil matanya menatap Dila.


Zian tersenyum, "kamu pikir om ini sangat tua kah?" canda Zian.


Tawa keduanya terdengar, Dila merasa tak nyaman, sehingga ia mengajak Adis berbicara agar tidak canggung.


"Kenapa ketika menikah tidak mengabariku dulu, om?" tanya Satya.


"Pernikahan mereka singkat, Sat. bahkan mama saja terkejut mendengar keputusan om kamu menikahi Dila," sahut Rima.


"Oh, begitu? Tapi om mencintainya kan?" tanya Satya membuat Dila dan Zian saling menatap.


Sejenak hening.


"Tentu saja, tantemu ini adalah segalanya bagiku," ucap Zian sambil meraih tangan Dila dan mencium punggung tangan Dila dengan lembut.


Dila membalas sikap Zian dengan senyuman manis. "Terima kasih, sayang," ucap Dila.


Beberapa saat kemudian Zian berpamitan hendak pulang, "Satya, antar om dan tantemu ke depan," ucap Rima pada putranya.


Zian dan Dila berdiri dan berjalan keluar rumah diikuti Satya sambil melanjutkan obrolan ringan dengan Zian. Ketika tiba di pintu ruang tamu gawai Zian berdering.


"Sebentar, aku angkat telepon dulu," ucap Zian sambil berjalan menjauhi Dila dan Satya.


Kini tinggal Dila dan Satya berdua di depan pintu, mereka bisa melihat Satya yang sedang menerima panggilan di halaman rumah Rima yang luas.


"Apa kabar? " tanya Satya pada Dila.


"Baik," jawab Dila.


"Lama nggak bertemu, kupikir ketika bertemu aku akan meminangmu, ternyata kamu sudah menjadi tanteku," ucap Satya dengan senyuman sinis.


"Meminang?" Dila tersenyum getir. "Kamu nggak pantas ngomong seperti itu padaku," ucap Dila tegas.


"Aku sudah menyadari kesalahanku, aku juga baru menyadari, berusaha menjatuhkan justru membuatku makin mencintaimu Dila," ucap Satya sambil menatap Dila.


"Kamu sudah meninggalkanku, kamu juga mengabaikanku saat itu, kamu pergi tanpa menjelaskan apapun padaku, kamu tiba-tiba membenciku tanpa menjelaskan apa salahku."


"Saat itu aku bingung Dila, maafkan aku," ucap Satya.


"Kita tak pernah ada hubungan apapun Alvin, semua yang terjadi pada kita dulu hanyalah sebatas pertemanan, kamu yang menginginkan hubungan kita berakhir, kamu juga yang tiba-tiba membenciku tanpa alasan jelas." Dila memanggil Satya dengan nama Alvin


"Aku bersikap seperti itu karena..." Satya tak melanjutkan ucapannya karena melihat Zian berjalan menuju kearah mereka.


"Sekarang aku tantemu, jangan bersikap tidak sopan padaku!" ucap Dila pelan namun tegas.


Dila berjalan menuju mobil, dia meninggalkan Satya dengan perasaan hancur, hampir sama ketika Satya meninggalkan Dila tanpa kejelasan dulu.

__ADS_1


Satya tak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia melihat mobil Zian pergi membawa Dila, membawa cinta pertamanya. 


__ADS_2