Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Jika ada hati yang bahagia, terkadang harus ada hati yang bersedih. Seperti juga dengan pertemuan, akan ada perpisahan. Entah harus pergi ke tempat lain untuk mencari kebahagiaan lain, atau harus pergi untuk selamanya. Begitulah hidup.


****


Tak ada jawaban memuaskan apapun dari Zian dan Satya. Kedua pria tampan di depan Dila duduk dengan santai dan meminta Dila membuatkan mereka makanan yang enak. Tentu saja setelah mereka membereskan beberapa 'orang' Zian yang dibuat babak belur oleh Satya.


"Sayang, aku lama nggak main game dengan keponakan tengilku ini, tolong buatkan pisang goreng yang enak ya." Zian sibuk menyiapkan game di TV nya.


"Aku juga mau, inget ya dengan topping tiramisu." Satya ikut meminta jatah pada Dila. Satya tampak tanpa canggung hadir di tengah Zian dan Dila.


"Ish,, kalian kenapa kompak jadiin aku pembantu gini sih?"  Dila mencebik, namun ia tetap mengerjakan permintaan dua lelaki itu.


Zian dan Satya tertawa menanggapi gerutuan Dila. Bahkan beberapa menit berikutnya dua lelaki itu tampak seru bermain game. Ditengah kesibukannya, Dila tersenyum melihat kekompakan Zian dan Satya. Bagi Dila, melihat keduanya rukun adalah sebuah anugerah. Meski Dila sendiri tak tahu, alasan apa yang membuat mereka tak lagi bersiteru.


Entah berapa permainan yang dimainkan Zian dan Satya hingga Dila muncul dengan dua piring pisang goreng yang ia modifikasi menjadi pisang krispi. 


"Tiramisu untuk Satya." Dila menaruh piring di depan Satya, "green tea untuk kamu." Dila memberikan sepiring pisang goreng di depan Zian.


"Terima kasih, Sayang." Zian memberikan sebuah senyuman lalu konsentrasi lagi dengan game nya.


"Udah, jangan pake sayang-sayang, ada aku disini." Satya berkata tanpa menoleh, matanya masih tertuju pada layar TV.


Tawa Zian menghiasi suasana, perlahan Dila beranjak dan mengganti minuman yang habis dengan yang baru. 


Ada rasa yang aneh pada diri Dila ketika melihat Satya dan Zian. Namun Dila sendiri tak tahu apa.  Setidaknya mereka berdua rukun, tidak berseteru sudah cukup bagi Dila.


Dila juga tak ingin bergabung dengan keseruan Zian dan Satya, ia lebih memilih ke kamarnya. Berkutat dengan novel yang baru di belikan Zian.


*****


Dila membuka matanya, di sampingnya sudah ada Zian yang menatapnya, "ah, rupanya aku tertidur." Dila menutup mulutnya, menguap.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu!" Dila menyadari Zian menatapnya, "Zian!" Dila melempar bantal yang berada di sampingnya.


"Dihh, kejam banget sih," cebik Zian, bukannya minggir karena di lempar bantal, Zian justru memeluk Dila.


"Lepas, Zi, gerah," ucap Dila namun tak di hiraukan Zian. "Satya mana?" 


"Udah pulang," jawab Zian masih dengan memeluk Dila.


"Zi, aku kangen ibuku," ucap Dila.


"Ibu baik-baik saja, aku udah suruh orang buat jagain ibu."


"Sungguh?" Dila menatap Zian.


"Kapan sih istriku percaya ke aku?" Zian mencebik, ia meraih ponselnya di atas nakas. Menggeser layar ponsel dan menelpon seseorang.


"Bisa kamu ke ruangan bu Ratna? Ada yang mau melihatnya," ucap Zian di sambungan teleponnya.


Dila melihat layar ponsel Zian sambil berbaring di sisi Zian, disana sedang menunjukan ruangan rawat ibunya. Dan terlihat ibunya berbaring seperti terakhir kali Dila melihatnya beberapa minggu lalu. Tak ada perubahan.


Dila mengangguk,


"Oke, cukup." Zian mematikan ponselnya.


"Jangan khawatir." Zian kembali memeluk Dila, "sebisa mungkin aku akan menjagamu dan ibu."


"Terima kasih," ucap Dila lalu ia mengeratkan tubuhnya pada Zian.


**


Pagi ini Dila kembali dengan kesibukannya seperti beberapa minggu lalu. Menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dengan sigap Dila menyiapkan sarapan dan baju kerja Zian, tentu saja dengan wajah ceria. 

__ADS_1


"Pagi, Sayang." Zian mengecup pipi Dila saat masuk ke dapur, lalu ia duduk di meja makan.


"Pagi, makan dulu." Dila memberikan sepiring nasi goreng untuk Zian.


Zian tersenyum menatap wajah Dila yang tampak ceria. "Kamu kok ceria banget sih hari ini?"


Dila duduk di sebelah Zian, "iya dong, kan di tungguin suami, biasanya sendirian." Sambil menata piring untuk dirinya sendiri.


"Kamu gendut deh kayaknya."  Zian menatap Dila dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Serius?" Dila segera berdiri dan masuk ke kamarnya, menatap dirinya di cermin. Sepertinya kata Zian tak bohong, Dila memang sedikit tampak bertambah beratnya.


"Sayang, udah gak pa-pa, sini temani aku sarapan," teriak Zian dari ruang makan. Dila hanya diam, menatap dirinya di depan cermin. Baginya penampilan memang penting, sama halnya dengan beberapa wanita kebanyakan, bertubuh langsing adalah sebuah impian.


"Sayang?" Zian menyusul Dila ke kamar, terkejut melihat Dila yang tampak sedih menatap cermin.


"Nggak pa-pa, aku nggak permasalahin mau kamu gendutan atau kurus, cukup kita saling mencintai adalah hal yang penting bagiku." Zian memeluk tubuh Dila dari belakang. "Jangan sedih gitu dong, Sayang."


Dila bergeming, dia tak menanggapi ucapan Zian meski terdengar manis. 


"Yuk kita makan, jangan sedih ginilah," ucap Zian sambil menarik tangan Dila menuju ke ruang makan, namun Dila melepas tangan Zian. Menghempaskan tangan hangat Zian ke udara.


"Kamu kenapa? cuma berat badan kan? kalau kamu mau kurus, kamu bisa ikut yoga, senam atau apalah itu, selesai kan?" Zian tampak kesal karena Dila membesarkan masalah sepele.


"Ini bukan tentang berat badan," ucap Dila tanpa menatap Zian. 


"Lalu?" Zian kembali mendekati Dila. "Ada apa?"


Dila menatap Zian. "Ada sebuah nyawa yang berada disini." Dila menunjuk perutnya.


"Apa?" Zian memegang kedua pipi Dila. "Apa maksud kamu?" 

__ADS_1


"Aku hamil." 


.......


__ADS_2