Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 37 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

"Kapan kau sampai?." Anggara menerima pelukan rindu dari Kevin.


"Baru sampai, Kak." Pelukan mereka terlepas kala suara Tania menyapa sang putra, Kevin.


"Kevin!. Kau sudah sampai?."


"Baru, Ma."


Keduanya saling berpelukan lalu Tania mengecup kedua pipi Kevin.


"Berapa lama kau di sini, Ke?." Mommy Lydia ikut bergabung dengan kedatangan Anggara dan Kevin.


"Mungkin dua atau tiga Minggu, aunty."


"Bagus lah jadi kita masih bisa berkumpul di sini."


Semua orang kini sudah memenuhi meja makan, mengitari hidangan yang begitu banyak. Ada perayaan untuk menyambut cucu pertama mereka, yaitu anak dari Anggara dan Regina.


Riuh tepuk tangan memenuhi rumah itu, suka cita atas kehamilan Regina sebagai penyempurna rumah tangganya dan penerus kerajaan bisnis mereka.


"Selamat ya, Kak Regina." Ucap Kevin menyalami dan memeluk Regina.


Tentu saja Regina menyambut hangat pelukan Kevin.


"Terima kasih, Kevin."


Kevin tersenyum sambil kembali duduk di kursinya sebelah Mama Tania.


"Aku tidak melihat Morgan. Kemana dia?." Tanya Kevin yang sejak tadi tidak melihat keberadaan saudaranya itu.


Semua orang yang ada di sana saling pandang satu sama lain. Karena baru menyadari ketidakhadiran Morgan pada makan malam kali ini.


"Iya dari tadi aku tidak melihatnya." Sahut Dad Willy.


"Kau tahu dimana Morgan, Mom?." Tanyanya pada sang istri.


Mommy Lydia menggelengkan kepala sambil melirik pada Dad Andreas.


"Sejak pulang tadi, aku sudah tidak melihat Morgan."


"Ah mungkin Morgan sedang berkumpul dengan teman-temannya. Biar lah. Ayo sekarang kita makan. Nanti keburu dingin semua makanannya." Ajak Regina sambil mengelus perutnya.


Usai makan malam, Dad Andreas dan Dad Willy kembali membahas Morgan di ruang kerja Anggara. Meninggalkan anggota keluarga yang lain yang masih berkumpul di ruang keluarga.


"Apa yang bisa aku lakukan sekarang?." Dad Willy cukup stres menghadapi sikap keras kepala Morgan yang tetap ingin mempertahankan perasaanya pada pada Diandra. Padahal sangat jelas sekali, jika perasaan Morgan hanya bertepuk sebelah tangan. Sedangkan juga sinyal yang ditangkapnya dari Mama Mona adalah sebuah penolakan yang cukup halus namun jelas terlihat.


"Kau dan Morgan sama-sama keras. Kau lupa, bagaimana dulu mendapatkan Lydia?."


"Tapi ini bukan karena orang tuanya yang menolak ku, tapi karena Lydia sendiri. Sedangkan Morgan, anak dan orang tuanya yang sudah menolak. Jadi sulit untuk didekati dari mana pun, tak akan bisa."


"Kau bisa incar perusahan Mona. Kau bisa menekan perusahaanya jika mereka masih menolak Morgan."


Pernah terlintas untuk melakukan hal itu, tapi dia belum mengecek perusahan yang dimiliki Mona. Kalau Dad Andreas sudah bicara seperti ini, berarti perusahan Mona cukup untuk diperhitungkan dan itu memiliki pengaruh yang besar untuk kehidupan Mona dan Diandra.


Siang harinya, Rini sudah berada di rumah Diantara. Dia sudah berdandan sangat cantik, wangi dan tampil sangat modis.

__ADS_1


"Aku sudah cantik belum, Di?."


Diandra menelisik penampilan Rini dari atas sampai ke bawah kembali lagi ke atas dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.


"Bukan hanya cantik, tapi cantik sekali." Puji Diandra apa adanya. Karena Rini sudah berjam-jam berdandan untuk mendapatkan hasil yang sempurna.


"Apa kira-kira dia akan melirik ku, Di?."


"Pasti aunty Rini, siapa yang bisa menolak kecantikan aunty Rini.".


Mendapatkan pujian Diandra yang satu ini membuat Rini terdiam. Karena bagaimana tidak, mau tampil secantik apa pun di depan Morgan, hanya Diandra yang diliriknya. Tidak sekali pun Morgan melirik dirinya.


"Kenapa?."


Dengan cepat Rini menggelengkan kepalanya.


"Ah tidak apa-apa." Rini melihat sekali lagi pantulan dirinya di dalam cermin dengan senyum yang kembali menghiasi wajahnya.


"Ya sudah aunty Rini pergi dulu ya, kalian sama Mommy baik-baik di rumah." Rini pamit pada bayi-bayi yang ada di dalam perut Diandra, sampai Diandra harus menarik pelan rambut Rini.


"Sama Mommy nya tidak pamit?." Rini terkekeh melihat Diandra yang sepeti ini.


"Iya Mommy Di, aku pamit ya. Doa kan aku semoga dia tertarik pada ku." Rini menyalami tangan Diandra dengan sungguh-sungguh.


Dengan senang Diandra membalas Rini, "Iya Nak, semoga saja dia tertarik pada mu." Keduanya tertawa sambil melambaikan tangan. Rini semakin jauh dan menghilang dari pandangan Diandra.


Rini membawa mobilnya sendiri untuk bertemu dengan seseorang yang sudah mengirimnya lokasi untuk pertemuan mereka.


Dengan perasaan deg-degan Rini menatap wajahnya sendiri dari kaca spion ketika mobil sudah berhenti di tempat tujuan.


Ketika sudah mendapatkan kepercayaan diri penuh, Rini keluar dari mobil kemudian dia berjalan kearah restauran yang menjadi tempat makan siang mereka.


Kevin menarik nafas pelan karena untuk mengurangi nervous yang tiba-tiba saja melandanya, karena melihat penampilan Rini yang sangat berbeda, terlihat jauh lebih cantik dari pertemuan mereka yang pertama.


"Rini!." Panggil Kevin yang duduk di sebelah Morgan.


Ya. Morgan ikut bersama Kevin untuk makan siang bersama.


Sambil tersenyum Rini perlahan berjalan menuju meja mereka.


Kevin dengan sopan mempersilakan Rini duduk pada kursi yang sudah disiapkannya.


"Terima kasih."


"Sama-sama cantik." Bisik Kevin mengenai cuping Rini. Seketika tubuh Rini meremang.


"Hai Rin..." Sapa Morgan biasa saja.


"Morgan..." Balas Rini sambil tersenyum tipis.


Rini sudah merasa biasa saja saat berdekatan seperti ini dengan Morgan. Padahal sebelum dia memutuskan untuk meluapkan Morgan, dia selalu menantikan ada kesempatan untuk sedekat ini dengan Morgan. Tapi sekarang tidak lagi.


Kali ini Morgan melihat Rini sangat berbeda dengan Rini yang biasa dilihatnya.


Hening mengambil alih diantara mereka, karena mereka sedang memesan makanan.

__ADS_1


Kevin memanggil pelayan untuk memesan makan dan dia membuka obrolan untuk mencairkan suasana.


"Apa kabar, Rin?."


"Baik, aku baik."


Morgan merasa risih berada diantara mereka, karena dia merasa jika Kevin menyukai Rini. Maka dia memutuskan untuk ke toilet sebelum makanannya datang.


"Kau belum berangkat ke Amerika untuk sekolah?."


"Belum, mungkin akan di undur untuk sementara waktu."


"Kenapa?."


Rini menggeleng sambil tersenyum, "Ada beberapa dokumen yang belum siap."


Kevin menganggukkan kepalanya.


Sayangnya obrolan mereka harus terhenti, karena berbarengan dengan pelayan yang datang membawakan makanan pesanan mereka dan Morgan yang baru selesai dari toilet.


Mereka langsung saja menyantap makanannya karena Rini sudah sangat lapar.


Ketika Morgan sedang lahap dengan makanannya, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Dia mengambil ponsel lalu melihatnya.


"Iya, Kak Regina." Jawab Morgan karena Regina yang sedang meneleponnya.


"Kalau sudah selesai makan siangnya, tolong langsung ke kantor Anggaran ambil dokumen untuk Dad Andreas."


"Iya Kak."


Morgan meletakan posnelnya yang masih menyala, menunggu Regina yang mematikannya.


Setelah menghabiskan makanannya, Morgan berpamitan pada Kevin dan Rini. Meninggalkan rencana yang ingin mulai dilancarkannya tanpa Reno. Tapi sayang belum bisa direalisasikannya.


Di dalam perjalanan menuju kantor Anggara, Morgan mengingat setiap momen yang dilaluinya bersama Diandra. Tapi dia belum menemukan siapa yang harus dicurigainya.


Tok...tok...tok...


Cukup lama Morgan menunggu di luar ruangan Anggara karena belum ada sahutan dari dalam.


Hingga tidak lama kemudian Anggara keluar dari ruang meeting bersama para asistennya.


"Morgan."


"Kak aku diminta mengambil dokumen untuk Uncle Andreas."


"Oh iya, ayo kita masuk ke ruangan ku." Morgan mengekor pada Anggara.


Morgan langsung duduk karena Anggara baru menerima telepon dari kliennya.


Setelah selesai, Anggara meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu mengambil dokumen yang sudah disiapkan sebelumnya.


"Ini dokumennya." Anggara menyerahkan lembaran kertas yang sangat berharga.

__ADS_1


Saat Morgan menerima dokumen tersebut, sepintas dia melihat wajah seseorang yang dilihatnya.


Melihat hal itu, Anggara segera mengambil ponsel lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya.


__ADS_2