Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 107 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Diandra sedang berada di atas tubuh Anggara ketika Rini dan Morgan datang ke rumah untuk makan malam. Anggara meminta Diandra untuk tetap melanjutkan kegiatan panas mereka. Anggara selalu di buat mendasar gila karena ulah istrinya.


"Kasihan mereka Daddy, mereka menunggu kita." Diandra menggigit bibir bawahnya untuk manahan ******* yang akan lolos dari bibirnya.


"Tidak akan lama, sayang. Aku sudah mau sampai." Anggara meremas buah dada Diandra yang menggantung bebas di depan wajahnya.


"Pelan-pelan, Dad." Rintihan sekaligus ******* keluar dari bibir Diandra bersamaan.


Untung saja di luar kamar Diandra, saat ini Rini sedang bermain bersama Morgan dan ketiga anak Diandra di ruang keluarga.


"Diandra kebiasaan main jam segini?." Rini menggerutu karena ulah sahabatnya. Padahal dirinya sudah sangat kelaparan.


"Kamu mau main juga?." Goda Morgan merapatkan tubuhnya pada tubuh belakangan Rini. Rini sedikit beringsut menghindari Morgan, karena saat datang bulan seperti ini saja, keinginannya selalu berduaan dengan Morgan setelah merasakan sensasi dari setiap sentuhan Morgan. Rini tidak memungkiri jika Morgan sangat pintar untuk membangkitkan sisi liarnya.


"Jangan begini, kamu mau tangung jawab kalau aku pengen." Ucap Rini sedikit memaang wajah cemberut.

__ADS_1


"Tenang saja, aku akan tangung jawab." Morgan kembali merapatkan tubuhnya pada Rini dengan gerakan pelan. Sehingga tidak menimbulkan curiga bagi ketiga bocah yang saat ini bersama mereka.


"Morgan..." Rini merasakan tangan Morgan yang sudah melingkar diperutnya. Sedikit meremas gemas perut itu.


Diandra dan Anggara selalu datang di waktu yang kurang tepat. Padahal Rini dan Morgan saja tidak menganggu kegiatan mereka.


"Kalian sedang apa?." Tanya Anggara menatap mereka dengan tajam.


Rini dan Morgan sama-sama mengambil jarak demi keamanan bersama. Rini dan Morgan sama-sama terbakar api gairah yang harus segera dipadamkan.


"Bermain bersama Rini atau bersama anak-anak ku?." Anggara memperjelas kata bermain yang dimaksudkan oleh Morgan.


"Main bersama Rini dan juga bersama anak-anak yang lucu ini." Jawab Morgan sambil berdiri dan langsung meminta Rini dan ketiga anak itu untuk ke meja makan. Tidak ada habisnya kalau mau meladeni Anggara yang sekarang cukup usil padanya dan Rini. Diandra dan Anggara tersenyum puas melihat kekesalan Morgan.


Makan malam di rumah itu sudah berlangsung, ketiga anak Diandra dan Anggara begitu pintar menghabiskan makanannya tanpa sisa.

__ADS_1


Sementara itu di kantor Mama Mona. Mama Mona baru selesai keluar dari kantor, langsung mendekati mobilnya yang terparkir di halaman kantor.


Sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangan Mama Mona yang hendak membuka pintu mobil.


Tatapan keduanya saling beradu untuk beberapa saat dengan posisi tangan Adam yang masih memegang tangan Mama Mona.


"Aku hanya ingin kita bicara." Ucap Adam kala Mama Mona berusaha melepaskan tangan Adam.


"Tidak ada yang harus kita bicarakan, aku tidak bersedia menampung semua keluh kesah mu atau apa pun itu. Lebah baik kau cari saja orang lain."


"Aku..." Adam menatap Mama Mona dengan begitu lekat. Tidak meneruskan kata-katanya.


"Aku harus pulang sekarang!, jangan sampai aku meminta sekuriti untuk mengusir mu dari sini dengan tidak sopan."


"Aku tidak ingin berkeluh kesah apa pun dengan mu, aku hanya ingin berdua dengan mu, mengobrol sampai pagi."

__ADS_1


"Gila!." Geram Mama Mona.


__ADS_2