Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 52 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Sampai malam Diandra menghabiskan waktunya di apartemen Kevin. Mereka membicarakan banyak hal dan melakukan panggilan video bersama Mama Mona. Sebab pinangan untuk Diandra sudah sampai juga pada telinga Mama Mona. Tapi kali ini dia memasrahkan semuanya pada Diandra. Karena dia sudah tidak ingin lagi membebani Diandra dengan campur tangannya.


"Jadi bagaimana, Di?." Rini kembali bertanya pada Diandra karena dia begitu penasaran dengan langkah apa yang akan diambil oleh sahabatnya.


Diandra mengangkat bahu tinggi-tinggi, sebab dia pun belum tahu dengan apa yang akan diputuskannya. Menerima atau menolak lagi. Dia harus mempertimbangkan banyak hal yang bisa menguntungkan juga dirinya.


Tapi bagaimana dengan perasaanya?.


"Kau jangan salah ambil keputusan, Di. Karena sedikit banyak aku tahu Morgan. Sekali dia mencintai selamnya dia akan terus memperjuangkannya sampai akhir. Jadi kalau sekiranya kau bisa mencintai Morgan alangkah lebih bagus. Karena pada dasarnya dia pria baik. Tapi kalau kau tak bisa memberikan apa yang diinginkan Morgan sebaiknya kau menolaknya. Biar kan dia dekat dengan Eliana." Ucap Kevin cukup panjang lebar. Dia tidak ingin Diandra terjebak diantara Morgan dan Anggara.


"Apa kamu tidak memikirkan ketiga anak Diandra dan Anggara?." Tanya Rini menatap Kevin, seolah dia kurang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kevin. Karena menurutnya, Diandra akan mudah berkomunikasi dengan ketiga anaknya jika Diandra bersama Morgan.


Tidak akan semudah itu juga Diandra bisa dekat dengan ketiga anaknya. Sebab bisa saja mereka akan tinggal di negara yang berbeda dengan Regina dan Anggara. Jadi tetap tidak akan mudah dan tidak akan menguntungkan sama sekali bagi Diandra.


Diandra berpamitan pada Rini dan Kevin saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Diandra tidak mengantarkan kepulangan Rini dan Kevin. Karena siangnya dia akan bertemu dengan Monica. Diandra juga tidak boleh menyia-nyiakan waktu selama di sini.


Sampai di lobby apartemen, Diandra dikejutkan dengan kedatangan Morgan dengan bunga ditangannya.


"Maaf, Di. Aku menunggu mu di sini. Karena aku tahu dari Kevin kamu sedang perjalanan ke sini."


"Iya, Morgan. Tidak apa-apa." Diandra menerima bunga itu.


Keduanya mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka berdua berbicara.


Diandra meletakkan tasnya di atas kursi sebelahnya beserta bunga yang dari Morgan.


"Kamu sudah tahu kan kalau Dad Andreas ingin menjodohkan kita?." Ucap Morgan to the points. Meski dia merasa bahagia dan tidak ada orang yang bisa menolak keinginannya.


Tapi ini Diandra, Diandra yang dulu pernah menolaknya. Terlebih Diandra ibu dari penerus kerajaan Dad Andreas.


Diandra mengangguk ambil menarik nafas sebelum dia buka suara.

__ADS_1


"Maaf aku Morgan, karena aku harus menolak mu lagi." Jujur Diandra.


"Apa karena Kak Anggara?."


Dengan cepat Diandra menggelengkan kepalanya. "Bukan karena Anggara atau pun karena yang lain. Hanya saja aku sudah menganggap ku sebagai seorang teman. Tidak lebih."


"Kamu pasti berbohong. Pasti kamu menolak ku karena Kak Anggara. Kenapa kamu masih tidak sadar jika Kak Anggara bukan untuk mu?." Ucap Morgan dengan nada cukup tinggi. Hingga Diandra berdiri dan segera mengambil tasnya.


"Sampai kapan pun aku tidak bisa menerima mu." Ucap Diandra sambil pergi berlalu dari sana, meninggalkan Morgan yang kembali patah hati karena Diandra.


Sungguh tidak terasa waktu dua Minggu yang dimiliki Diandra untuk tinggal di Paris.


Pagi ini, pagi terakhir Diandra di kota Paris. Karena besok sore dirinya harus sudah pulang ke Jakarta. Monica terus saja menempel pada Diandra, seolah dia tidak ingin berpisah dengan Diandra.


Monica membuat jamuan untuk Diandra sebagai perpisahan mereka. Lagi-lagi Diandra tidak bisa menolaknya, sebenarnya Diandra tidak memerlukan hal seperti ini. Tapi karena Monica yang meminta, jadi jamuan pun terlaksana.


Anggara yang ikut pada jamuan pun, selalu menatap tajam pada Diandra yang selama satu Minggu ini mengabaikannya. Diandra benar-benar tidak memberinya celah sedikit pun untuk dirinya bisa masuk lagi pada kehidupan Diandra.


"Kamu ada masalah apa dengan Anggara?." Tanya Monica ketika dia mendapati Anggara yang selalu mengawasi Diandra.


"Entah lah, Miss. Aku juga tidak tahu. Tapi seingat ku, aku tidak memiliki masalah apa pun dengan siapa pun." Jawab Diandra acuh, dia tidak ingin peduli lagi pada sosok pria yang ada didepannya.


"Tapi sepertinya dia sendiri yang memiliki masalah dengan mu." Monica meninggalkan Diandra dan dia menuju meja Anggara.


Tanpa basa-basi Monica bertanya hal sensitive pada Anggara. "Apa kau menyukai, Diandra?."


"Seperti yang kau lihat." Jawab Anggara tidak menyangkalnya.


Monica mengerutkan dahinya dengan pernyataan jujur Anggara. "Jadi benar?."


Anggara meninggalkan Monica di mejanya, dia berjalan menuju Diandra yang beranjak dari mejanya.

__ADS_1


Tubuh Diandra diseret dengan paksa untuk masuk ke dalam satu ruangan yang cukup aman untuk mereka berdua.


Anggara tidak bisa membiarkan Diandra pergi begitu saja dari sini tanpa membawa apa pun.


Termasuk membawa benihnya.


"Kamu?."


Anggara langsung menyerang bibir Diandra tanpa ampun. Anggara tidak memberikan kesempatan Diandra untuk lolos lagi malam ini. Dia ingin meninggalkan benihnya di dalam rahim Diandra.


Tubuh Diandra sudah ada dalam posisi di atas meja yang cukup lebar. Tangan Anggara dangan lihai meloloskan CD Diandra sampai dengkul, yang kemudian dilanjutkan dengan menaikkan dress Diandra sampai bokong untuk mempermudah aksi Anggara.


Dengan satu kali hentakan penyatuan pun terjadi.


"Ah..." Tangan Diandra berpegangan kuat pada kedua lengan Anggara karena sensasi yang sangat luar biasa.


"Aku seperti wanita murahan yang bisa kamu pakai sesuka mu." Diandra mengoceh namun Anggara tidak mempedulikannya. Dia malah semakin menghentak kuat inti tubuh mereka sampai Diandra turut mendesah.


Anggara memegang kuat panggul Diandra untuk memperdalam intinya pada Diandra, hingga gelombang kenikmatan itu akan mereka dapatkan secara bersama.


"Ah..."


Anggara membuang semua benihnya di dalam rahim Diandra. Diandra terkulai lemas sambil memegangi leher Anggara. Keduanya mengatur nafas untuk kembali normal setelah pelepasan pertama mereka.


"Setelah ini aku sangat berharap akan ada kehidupan di dalam sini." Ucap Anggara mencabut miliknya dari inti Diandra, lalu dia mengelus perut yang dulu membawa ketiga anak mereka sampai mereka lahir ke dunia, meski setelahnya mereka harus berpisah.


Anggara membantu Diandra untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Kamu tidak akan mendapatkan lagi apa yang kamu inginkan dari ku." Ucap Diandra sambil merapikan rambutnya.


"Kenapa?."

__ADS_1


"Karena aku sudah meminum pil penunda kehamilan."


__ADS_2