Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Dua Puluh Satu


__ADS_3

Berhari-hari Satya mencari sosok Dila, tapi ia tak kunjung menemukannya. Satya yakin ada hal yang tak beres dengan Dil, dan tentunya semua ini ada hubungan dengan Tyo, seperti perkiraan Satya.


"Pa, Satya ingin bergabung dengan perusahaan papa," ucap Satya di suatu sore pada papanyaa, Tyo.


"Apa?"Rima yang baru tiba di ruang keluarga terkejut dengan ucapan Satya, ia sedang membawakan teh dan camilan untuk suaminya.


Satya menatap papa dan mamanya bergantian. Rimameletakan piring berisi cemilan sedangkan Tyo menghentikan bacaan koran dan membalas menatap Satya.


"Kamu serius, Sat?" tanya Rima sambil duduk di sebelah Tyo. Ada aura bahagia di wajah wanita itu.


"Jadi nggak boleh ya? Okelah, nggak jadi." Satya hendak beranjak.


"Eh, eh, bukan begitu, Sayang." Rima segera menarik lengan Satya dan menyuruhnya duduk kembali. "Ini yang mama papa tunggu selama ini." Senyum mengembang di wajah Rima.


"Tapi Satya punya syarat, Satya harus dibimbing langsung sama papa." Wajah Satya menatap lurus kearah papanya.


"Bukan masalah, tentu saja papamu akan dengan senang hati membimbing kamu." Tanpa menunggu jawaban Tyo, Rima menjawab terlebih dahulu.


Tyo melanjutkan membaca koran, tampaknya ia tak menolak keinginan Satya, bagi Tyo jawaban istrinya sudah mewakili dirinya. Entah rumah tangga seperti apa yang dibangun keluarga Satya. Hambar dan tak ada kehangatan.


Satya lega, setidaknya ia bisa bersama papanya hampir seharian. Satya bisa mencari tau sejauh mana papanya terlibat dalam kehidupan Dila.


Satya bagaikan bayangan Tyo, dimana ada Tyo, Satya pasti di sisinya. Satya benar-benar tak ingin melewatkan waktu papanya. Namun hingga purnama berganti, Satya belum mampu membuktikan kecurigaannya pada papanya.


"Kakak sekarang benar-benar jadi penurut ya." Adis merebahkan tubuhnya diatas ranjang Satya ketika Satya baru saja masuk kamarnya sepulang bekerja.


"Dih, kakak mau ganti baju, keluar!" Satya menarik tangan Adis namun Adis menepisnya.


"Nggak mau!" Adis justru berguling diatas ranjang kakaknya.


"Apaan sih nih anak, udah keluar sana, kakak mau ganti baju, capek seharian di kantor."


Adis duduk, "yaelah, kerja kan tugas cowok, gitu aja ngeluh," cibir Adis. "Gitu mau kek Om Zian, mana bisa."


Satya menjewer telinga adiknya, "aduuuh, aduuuh, sakit, Kak!" 

__ADS_1


"Pantesan cewek-cewek pada menjauh, jahat!" Adis mengusap telinganya yang memerah.


"Diih. pake ngatain aku jahat." Satya menarik tangan Adis hingga Adis berjalan di depan pintu kamar Satya.


"Oke, aku keluar, padahal aku mau kasih info penting soal tante Dila." Adis berjalan dengan genit agar Satya kesal.


Tak butuh waktu lama, Satya kembali menarik tangan Adis dan membawa Adis ke kamarnya setelah menutup pintunya terlebih dahulu.


"Apa kamu bilang? Dila? Kamu tau dia dimana?" Satya mendorong Adis di balik pintu.


"He em, aku tau kok kalo kakak lagi nyari tante Dila, dan aku juga udah tau dimana tante Dila." Suara Adis tampak dibuat-buat misterius.


"Serius?" Satya menatap Adis.


Adis mengangguk, "aku melihat Om Zian beberapa hari yang lalu, lalu aku mengikutinya, dan ternyata Om Zian menemui tante Dila." 


Ada aura bahagia terpancar di wajah Satya, ia mencium kedua pipi Adis.


"Kakak mohon, jangan katakan pada siapapun tentang ini." Satya tampak sangat serius. Dan tanpa banyak bicara lagi, Satya meninggalkan Adis dan segera pergi.


***


Kali ini Satya  hanya memperhatikan dari jauh, Satya  yakin jika Dila berada di sana karena Satya mengenali beberapa orang-orang  Zian. "Setidaknya, aku harus tau jika kamu aman, itu sudah cukup bagiku," gumam Satya.


Satya hendak meninggalkan tempat, namun Satya melihat seseorang tampak mencurigakan, orang itu tampak mondar mandir melihat kearah tempat tinggal Dila. Satya merasa ada sesuatu yang salah dengan orang itu.


Melihat, diam dan mengamati, Satya menghabiskan waktunya di depan teman tinggal Dila. Kecurigaannya harus dibuktikan oleh dirinya sendiri.


"Dia orangnya papa, aku yakin pernah melihatnya bersama papa," gumam Satya.


Dengan langkah hati-hati Satya mencari waktu dan kesempatan yang pas untuk menangkap orang suruhan papanya.


*****


Ratna memjalani kehidupannya di tempat baru. Dia masih menunggu Tyo akan datang padanya. Namun, harapan ternyata hanya sebuah mimpi, Tyo tak pernah muncul dalam kehidupannya, hanya Hendra beberapa kali yang datang membawa uang yang katanya dari Tyo.

__ADS_1


"Apakah saya bisa menghubungi Mas Tyo?" tanya Ratna pada Hendra.


"Nanti Pak Tyo akan menghubungi Mbak Ratna." Jawaban Hendra kesekian kalinya dan tak pernah berubah.


Begitu selalu jawaban Hendra, namun Tyo tak pernah muncul atau menghubungi Ratna. Padahal rindu begitu membuncah di hati Ratna. Ada kabar baik yang bisa menjadi petaka jika sosok Tyo tak juga muncul di hidupnya.


*****"


Dila menatap wajah Satya yang duduk di depannya. Teman yang kini menjadi keponakannya menurutnya bukanlah lelaki se-bre**sek yang terlihat. 


"Jadi, apa yang mau kamu katakan?" 


Satya menatap Dila. "Dila..." Satya mengambil napas panjang. "Boleh aku peluk kamu sebentar?" Belum sempat Dila menjawab, Satya sudah merengkuh tubuh Dila dan menenggelamkan Dila dalam dekapannya.


Dila mendengar isakan Satya. Iya, tak salah lagi, Satya menangis, bahkan terdengar ia terisak.  DiLa tak tahu kenapa Satya tiba-tiba menjadi lelaki cengeng dan lemah. Tak ada balasan dari Dila, ia hanya diam mematung, membiarkan Satya melepaskan semua tangisnya.


"Kamu kenapa, Sat?" Setelah sepersekian detik yang menjadi menit, akhirnya Dila bersuara.


"Sebentar saja, kumohon biarkan aku memelukmu sebentar saja!" ucap Satya terdengar parau.


Dila membiarkan Satya memeluknya. Bahkan Dila bisa mendengar isakan yang tertahan Satya. Meski Dila tak mengerti arti tangis Satya, ia tak tega membuat Satya bersedih dengan menolak keinginan Satya. Setidaknya Satya akan memuaskan kegundahan hatinya dengan menangis, dan tanpa sadar Dila membalas pelukan Satya, Dila menepuk pelan punggung Satya.


Tak lama, Satya melepas pelukannya, kini mata mereka saling menatap, Satya memegang kedua pipi Dila.


"Kamu harus bahagia, Dila!" Satya  berkata penuh kesungguhan. "Jangan biarkan dunia tak adil padamu!"


Dila menyunggingkan sebuah senyuman yang ia sendiri tak tahu apa artinya, yang Dila tahu jika Satya tak ingin dirinya menderita.


"Dila!" Sebuah suara bariton terdengar.


Dila dan Satya menoleh bersamaan.


"Zian?" pekik Dila. 


Zian dengan santai berjalan kearah Dila dan Satya berada. Dila sedikit mundur, ia tak ingin Zian salah paham. Namun Zian justru merentangkan kedua tangannya, meraih Satya dan Dila dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku menyayangi kalian," ucap Zian membuat Dila bingung karena Zian tak marah akan kehadiran Satya.


*******


__ADS_2