Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 35 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Suasana haru antara Mama Mona dan Diandra cukup lama tercipta. Hubungan keduanya sudah membaik seperti sedia kala. Karena Mama Mona lebih menekan egonya demi Diandra dan ketiga cucunya.


Hingga suara ketukan di pintu rumahnya membuat pelukan keduanya harus terlepas.


"Sekarang kamu mandi, Mama tunggu di meja makan."


"Iya Ma." Mama Mona mengecup pucuk kepala Diandra berkali-kali.


Mama Mona keluar dari kamar Diandra menuju pintu depan.


"Paman Usman?."


"Aku tidak bisa lama-lama karena Tuan Anggara sudah menunggu ku. Aku di minta Tuan Anggara untuk membawa Diantara keluar dari rumah ini karena Morgan dan kedua orang tuanya akan bertamu ke sini?."


"Tapi bagiamana bisa?."


"Mungkin nanti Tuan Anggara yang akan menjelaskannya. Sekarang aku sudah harus membawa Diandra."


"Baik, tunggu lah di sini."


Mama Mona kembali ke dalam rumah guna melihat Diandra sudah siap atau belum. Karena takutnya kedua orang tua Morgan dan Morgan sudah sampai di sini saat Diandra masih belum pergi.


Meski penuh kebingungan, Diandra hanya pasrah mengikuti keinginan sang Mama untuk meninggalkan rumah lagi dan ikut bersama Paman Usman.


Sepanjang perjalanan mereka, Diandra tidak bertanya apa pun pada Paman Usman karena dia tidak ingin merusak moodnya. Dia hanya harus mengikuti alur yang sudah ditulis untuknya.


Sampai di tempat yang baru pertama kali didatangi Diandra, Diandra menoleh Paman Usman karena dia tidak tahu ini dimana dan di rumah siapa yang akan ditujunya.


"Turun lah, Diandra!. Tuan Anggara sudah menunggu kau di sana!." Paman Usman menunjuk arah pintu dimana Anggara sudah berdiri menubgunya.


Senyum itu akhirnya terbit juga dari bibir Diandra ketika suaminya melambaikan tangan kearahnya.


"Hati-hati, Diandra."


"Terima kasih, Paman."


Diandra segera keluar dari mobil dengan sangat hati-hati dan berjalan pelan dengan bibir yang terus saja menebarkan senyum manis yang tertuju pada Anggara.


Tanpa menyadari ada sepasang mata yang terus saja mengawasinya saat lampu merah. Namun sedetik kemudian lampu hijau menyala , yang mengharuskannya segera jalan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Dad, kami rindu pada mu." Diandra merentangkan kedua tangan untuk memeluk Anggara, dengan senang hati pula Anggara memeluk Diandra walau harus terganjal perut besarnya.


"Kenapa kita di sini, Dad?." Tanya Diandra ketika Anggara usai mengecup bibir dan perutnya.


"Morgan dan keduanya orang tuanya akan ke datang rumah mu." Anggara mengajak Diandra untuk masuk ke dalam rumah.


"Jadi coklat yang Mommy Di makan kemarin itu dari Jerman. Mommy Morgan yang sudah mengirimnya."


"Enak ya, Dad?.'


"Pastinya."


Keduanya berjalan dengan saling merangkul posesif.


Sedangkan di rumah Mama Mona, sudah ada Morgan beserta kedua orang tuanya, lima belas menit setelah kepergian Diandra. Untung saja tidak sampai bertemu dengan Diandra yang sedang hamil besar.


Daddy Willy kembali menyampaikan keseriusan Morgan terhadap Diandra. Namun Mama Mona tetap pada pendirian awal. Karena tanpa Diandra hamil seperti sekarang ini pun, dia ingin menjadikan Diandra orang yang paham dengan bisnis.


Sepertinya kedua orang tua Morgan harus menelan kekecewaan karena secara tidak langsung Mama Mona menyampaikan penolakannya. Namun berbeda dengan Morgan yang tetap ingin berjuang untuk Diandra.


Tidak lama Morgan dan kedua orang tuanya di sana, karena penolakan Mama Mona. Dan kini mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah Regina.


"Yang dibilang Daddy benar, Morgan."


"Dad, Mom, please!. Aku tidak ingin menyerah sebelum mendapatkan Diandra. Karena Diandra yang aku ingin kan." Morgan begitu mencintai Diandra dari awal pertemuan mereka saat di kelas satu SMA sampai detik ini. Rasanya dia belum ingin menyerah, karena menurutnya Diandra sangat layak untuk diperjuangkan.


"Terserah pada Uncle kau saja, Morgan." Putus Daddy Willy karena Morgan cukup menurut dengan apa yang dikatakan oleh Dad Andreas yang merupakan besan sekaligus sahabat dan partner bisnis.


"Iya Dad." Sahut Morgan karena dia tahu jika Uncle nya itu akan sepemikiran dengannya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Mereka langsung diberondong dengan beberapa pertanyaan dari Regina. Dia ingin tahu saja, apa Mama Mona masih bisa menolak Morgan di saat ada kedua orang tuanya.


"Mana yang harus kami jawab dulu dari pertanyaan kau itu?." Dad Willy masih belum membaik dengan suasana hatinya.


"Dad, aku hanya bertanya."


"Iya pertanyaan kau itu tidak membutuhkan jawaban Daddy."


"Sudah...sudah. Lebih baik kita bicara saja di sana." Ajak Dad Andreas pada Dad Willy. Lalu dia meminta Regina untuk mengajak Mommy Lydia ke dalam kamar. Sedangkan Morgan hanya berdiri mematung di tempatnya semula.

__ADS_1


"Apa aku terlalu terburu-buru memperkenalkan Mama Mona pada kedua orang tuanya. Sehingga terjadi gesekan seperti ini. Padahal dia sayang ke sana hanya untuk menunjukkan keseriusannya. Itu juga bukan untuk waktu yang dekat. Tapi sekarang semuanya sudah terlanjur, kesan pertama pertemuan mereka kurang baik.


Saat Morgan sedang melamun, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring. Dia merogoh ponsel lalu menjawab panggilan dari Reno salah satu teman main Morgan.


"Kau belum membuka pesan ku?."


"Kau mengirimkan apa?."


"Kau pasti tidak akan percaya. Sekarang lihat pisan ku!."


Morgan dan Reno sama-sama mematikan sambungan teleponnya.


Morgan segera membuka pesan yang sudah dikirimkan oleh Reno.


Deg


"Ini pasti salah, ini pasti bukan Diandra!." Morgan menggelengkan kepala dengan air mata yang tiba-tiba terjun bebas mengenai posnelnya.


Pesan gambar yang dikirimkan oleh Reno, begitu jelas memperlihatkan Diandra dengan perut yang sangat besar dengan keterangan jika foto itu diambil hari ini.


Dengan perasan yang begitu sakit dan marah, dia segera keluar dari rumah dengan mengendari mobilnya. Meminta bertemu dengan Reno di tempat dia melihat Diandra.


"Kau yakin melihat Diandra di sini?." Tanya Morgan ketika mereka sudah bertemu di tempat yang dijanjikan.


"Iya benar di sini. Kita bisa cek lagi fotonya, dari deretan rumah ini mana kira-kira yang lebih dekat dengan Diandra."


Morgan segera membuka ponsel dan melihat dengan seksama satu persatu rumah dengan warna cat yang ada di dalam foto.


Setelah menemukan rumah yang sesuai dengan yang ada di dalam foto, Reno dan Morgan lekas bergegas menghampiri rumah tersebut untuk mengecek keberadaan Diandra.


"Kalau tidak ada di rumah itu berarti dia hanya lewat saja?."


"Kau benar, tapi tidak ada salahnya jika kita mencobanya, Morgan."


"Biak lah, ayo kita cek."


Ketika Morgan dan Reno sedang mengamati rumah tersebut, keluar lah wanita paruh baya.


Tanpa permisi terlebih dahulu, Morgan langsung saja menanyai wanita paruh baya tersebut dengan menunjukkan layar ponselnya. Namun sayang wanita tersebut menggeleng sambil mengatakan tidak tahu dengan wanita yang ada pada layar ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2