
Diandra cukup senang dengan kabar baik yang dibawa pulang oleh suami dan juga Dad Andreas. Walau pun masih ada yang mengganjal di dalam hatinya, karena dirinya belum bisa bertemu dengan sang Mama.
"Kita doa kan
saja, semoga Mama Mona dan calon bayinya xcgvsehat-sehat." Ucap Anggara membawa tubuh Diandra ke dalam pelukannya.
"Tapi kenapa Mama tidak mau menemui ku atau menghubungi ku?." Tanya Diandra sambil terisak di dada bidang Anggara.
"Iya, kita harus banyak mengerti dengan posisi Mama Mona saat ini. Mungkin ada pertimbangan lain mengapa Mama Mona belum mau menemui atau menghubungi kita."
"Tapi kenapa?." Tanya Diandra lagi, tapi Anggara hanya diam saja. Sebab dirinya pun tidak tahu alasannya.
Dengan sabar Anggara menemani Diandra yang terus saja terisak.
__ADS_1
Sementara itu, Yuda dan Anggraini sudah duduk berhadapan dengan Adam. Padahal Adam biasa saja, malah dia merasa senang dangan hubungan Yuda dan Anggraini. Setidaknya Anggraini tidak terlalu terpuruk setelah perceraian mereka.
"Aku yang meminta Anggraini untuk menyembunyikan hubungan ini. Karena aku tidak mau dikatakan mengambil kesempatan dari kesedihannya. Karena aku memang tulus mencintainya dan ingin hidup bersamanya." Jelas Yuda pada Adam. Sementara Anggraini tertunduk bukan karena malu atau apa pun.
Dia hanya tidak percaya bisa begitu cepat berpaling dari Adam dan kembali merajut kasih bersama sahabat dari mantan suaminya itu.
"Aku sudah bilang sebelumnya, aku berterima kasih kalau kau bisa membuat Anggraini bahagia. Sebenarnya kalian pun tidak perlu memberitahu ku secara detail hubungan kalian." Balas Adam.
"Aku minta maaf pada mu, Anggraini. Karena aku telah menyakiti mu. Tapi aku juga sangat bersyukurnya karena kamu bersama Yuda untuk melewati hari-hari mu." Ucap Adam penuh sesal sekaligus merasa bahagia di saat yang bersamaan terhadap Anggraini.
.
.
__ADS_1
.
Sore sari setelah satu Minggu berlalu. Adam sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Tempat yang pernah di sebut Yuda tapi dirinya belum mau mendatangi tempat itu karena tidak mendapatakan izin dari sang kakek. Tapi sekarang, izin itu sudah dikantongi dan dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang pujaan hati.
"Tunggu aku, sebentar lagi saku sampai." Gumam Adam sambil menatap Mama Mona yang ada pada layar posnelnya.
"Kamu wanita yang sangat cantik dan luar biasa. Tidak salah aku sangat mencintai mu, mencintai kalian berdua." Ucap Adam pada wajah cantik Mama Mona yang memenuhi layar posnelnya.
Setelah melewati hampir satu jam lamanya, Adam sudah sampai di pulau yang di tuju. Pulau yang baru didstanginya karena ini merupakan daerah pribadi sang Kakek. Namun karena hadirnya calon penerus dalam diri Mama Mona, maka sang Kakak memberikan pulau itu untuk sang cicit kelak saat sudah lahir nanti.
Perlahan Adam menghampiri seorang wanita yang duduk di tepi pantai dengan perut yang sedikit menyembul. Karena pakaian wanita itu sendiri cukup menonjolkan tubuh indahnya meski sudah tidak muda lagi.
Adam mendekat tubuh itu dari belakang dengan tangan yang melingkari perut Mama Mona lalu berbisik tepat di telinga sang wanita. "Aku sangat merindukan mu, sayang."
__ADS_1
Bibir Adam mencium leher jenjang Mama Mona.