
Diandra yang baru saja hendak membuka pintu ruangan meeting, mengurungkan niatnya setelah melihat senyum yang berbeda yang ditunjukkan oleh Mama Mona dan kliennya, Adam.
Diandra menangkap ada sesuatu yang diperlihatkan baik oleh Adam atau Mamanya. Tapi Diandra tidak mau asal menuduh tanpa adanya bukti atau lebih baik nanti dia bertanya pada Mamanya langsung.
"Diandra!, kenapa tidak masuk?." Ucap Adam bertanya pada Diandra saat membuka pintu dan melihat Diandra berdiri di sana.
"Iya, tadinya aku masuk masuk. Tapi ada yang ketinggalan di ruangan Mama, jadi aku harus mengambilnya lagi." Jawab Diandra beralasan.
"Kami sudah selesai meeting, Mama mu ada di dalam bersama anak-anak mu yang lucu." Balas Adam sambil mencuri pandang pada Mama Mona yang sedang tertawa bersama ketiga cucunya. Adam tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada Mama Mona dan itu cukup terlihat jelas bagi Diandra.
"Ah iya, Pak Adam. Terima kasih. Oh ya, Pak Adam langsung pulang ke rumah atau ke kantor lagi?." Tanya Diandra sambil memanggil Mama Mona dengan melambaikan tangannya.
"Mungkin aku langsung pulang ke rumah." Jawab Adam menatap lagi Mama Mona yang sudah berdiri didekatnya.
__ADS_1
"Ibu Anggraini pasti sudah menunggu Pak Adam. Salam ya Pak Adam untuk istrinya." Diandra sengaja mengucapkan kalimat itu tepat di depan Mamanya. Dia ingin tahu reaksi seperti apa yang akan diperlihatkan oleh keduanya.
Bagi Mama Mona itu hal biasa, untuk pria setampan dan semuda serta sekaya Adam , tidak mungkin untuk tidak memiliki pacar atau bahkan istri. Tapi cukup kurang nyaman bagi Adam, yang terlihat oleh Diandra dari gerak gerik yang ditunjukkan oleh klien Mamanya itu.
"Kamu mengenal Pak Adam dimana?." Tanya Mama Mona yang cukup penasaran.
"Di sekolah anak-anak Ma. Pak Adam sangat baik dan romantis pada istrinya, Ibu Anggraini. Wali kelas anak-anak, Ma." Jawab Diandra.
Semakin tidak nyaman Pak Adam berlama-lama di sana. Apalagi respon yang diperlihatkan Mama Mona sangat biasa saja. Berbeda dengan dirinya yang begitu tertarik pada wanita matang itu.
Diandra menatap kepergian Adam, dia berharap Mamanya tidak tertarik atau tergoda dengan pesona Adam. Dia pun sangat ingin melihat Mamanya bahagia. Namun bukan dengan pria beristri seperti Adam.
"Kenapa?." Tanya Mama Mona saat Diandra meminta anak-anaknya untuk berjalan di depan dirinya dan Mama Mona.
__ADS_1
"Mama tahu 'kan kalau Pak Adam sudah menikah?."
"Hem..."
"Mama juga tahu 'kan kalau Pak Adam menaruh hati pada Mama?."
Langkah Mama Mona terhenti lalu menatap intens pada wajah Diandra.
"Mungkin Mama tahu. Tapi Mama tidak ingin tahu dan peduli tentang itu. Karena kami pun bertemu hanya karena pekerjaan." Jawab Mama Mona.
"Syukur kalau Mama tahu. Aku berharap Mama tidak merespon sinyal yang diberikan oleh pria muda itu."
Keduanya kembali melanjutkan langkahnya, karena ketiga anak Diandra sudah sampai di depan ruang kerja Mama Mona.
__ADS_1
"Apa yang kamu takutkan?."
"Banyak Ma. Salah satunya aku tidak ingin melihat Mama terluka karena pria. Hidup Mama sudah sangat sempurna. Kalau pun Mama harus menikah lagi, cari lah pria lajang yang mencintai Mama dengan tulus."