
"Aku sudah membuat jadwal untuk bertemu dokter Hari siang ini." Karena Yuda tidak tega melihat sahabatnya cukup tersiksa dengan kondisi Adam yang seperti itu.
"Kau seperti ini juga saat bersama Mona atau Anggraini?." Yuda mencoba menganalisa apa yang terjadi pada sahabatnya.
Adam menggeleng lemas. "saat aku berada Mona aku begitu nyaman tidak ada merasakan hal mual muntah. Begitu juga dengan Anggraini, aku juga sudah jarang untuk bercumbu atau berdekatan dengannya." Adam melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.
Keadaan Adam pagi itu begitu kacau, padahal dia belum ada masuk makanan atau minuman, tapi dia sudah mengalami mual muntah yang cukup menguras energinya.
"Saat pagi hari seperti ini saja aku merasa begitu tersiksa dengan rasa yang begitu asing bagi ku." Keluh Adam sambil mengelap mulutnya.
Sementara itu Mama Mona yang sudah sampai di rumah langsung saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pandangannya tertuju pada perut yang saat ini masih rata namun ternyata sudah ada penghuninya.
"Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa?. Aku bingung dengan keadaan ku sendiri." Mama Mona berbicara pada dirinya sendiri. Tangannya sudah berulang kali mengelus perutnya.
Mama Mona tidak merasakan adanya perubahan apa pun pada kehamilannya. Semuanya terasa sama saja, apalagi dari makanan, hanya saja memang dia lebih sering banyak menghabiskan makanan dalam jumlah besar. Dan yang paling mencolok dirinya lebih sering meminta bercinta pada Adam tanpa ada embel-embel rasa malu.
Mama Mona menutup wajahnya menggunakan bantal guling, namun kenapa sekarang harus merasa malu?.
__ADS_1
Sampai jam dua siang Mama Mona masih betah untuk bersantai di dalam kamarnya hanya memakai lingerie yang biasa dia pakai saat bersama Adam.
Mama Mona melihat ponselnya yang berdering dan itu dari Tiara.
"Apa yang sedang terjadi sampai kau harus berbohong pada Diandra kalau kau mau menemui ku?." Tanya Tiara lebih dulu setelah Mama Mona menjawab teleponnya.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku mengatakan itu dengan spontan saat aku melihat istri Adam ada di sana dan sekarang sudah menjadi guru les ketiga cucu ku.
"What?."
"Lalu pria itu?."
"Entah lah, aku tidak tahu."
"Tapi kau tidak berbohong bukan?."
"Untuk apa aku berbohong."
__ADS_1
"Baik lah kalau ada apa-apa kau bisa menghubungi ku."
"Iya."
Sambungan telepon keduanya terputus, Mama Mona keluar dari kamar. Dia berjalan menuju meja makan, mengupas kembali mangga dan melon yang masih tersisa.
Mama Mona yang hendak kembali ke dalam kamar cukup kaget dengan Adam yang sudah masuk ke dalam rumah setelah berhasil membuka kunci pintu rumahnya.
Deru nafas Adam memburu, memindai tubuh Mama Mona dari ujung kepala sampai ujung kaki yang semakin seksi dan berisi. Tatapan Adam begitu fokus tertuju pada perut Mama yang menurut dugaannya kalau Mama Mona sedang berbadan dua. Dan tentu saja itu salah benihnya.
"Kenapa kau harus menatap ku seperti itu?." Mama Mona melangkah masuk ke dalam kamar yang dikuti oleh langkah Adam.
"Kau begitu cantik dan seksi. Aku jadi ingin bercinta dengan mu." Adam langsung memeluk Mama Mona, meletakkan dagunya di atas pundak Mama Mona Yang terbuka.
"Tapi aku sedang tidak ingin." Mama Mona berusaha melepaskan tangan Adam yang membelit perutnya.
"Aku yakin kalau kamu sedang berbohong saat ini." Adam semakin mengeratkan pelukannya, tangannya sudah nakal dengan meremas kedua buah dada Mama Mona.
__ADS_1