
Dengan wajah bahagia, Felisia menanti kehadiran Zian, make up dan rambutnya juga sudah ia rapikaan berkali-kali agar ia tampak cantik di depan Zian. Moment langka ini tak boleh di sia-siakan bagi Felisia.
Hampir setengah jam Felisia menanti, Zian tampak muncul di hadapannya. Dengan senyum terbaiknya Felisia menyambut kedatangan Zian.
"Maaf lama," ucap Zian sambil duduk di depan Felisia.
"Nggak pa-pa, Zi." Senyuman masih terkembang di ujung bibir Felisia.
"Kita pindah tempat aja gimana?" Zian tampak melihat sekeliling. "Di dalam ada ruang VIP, lebih tertutup."
Felisia menatap Zian tak percaya.
"Fel?" Zian menyadarkan Felisia yang melamun.
"I... Iya, Zi, dimana?"
"Di dalam, kamu nggak mau?" tanya Zian dengan ekspresi datar.
"Mau, Zi, ayo." Felisia bergegas merapikan tasnya dan berdiri. Jantungnya berdebar karena permintaan Zian untuk memintanya ke ruangan yang lebih tertutup.
Felisia mengikuti langkah Zian, menuju ruangan yang dimaksud Zian.
"Silahkan." Seseorang pelayan membukakan pintu untuk Felisia dan Zian. Keduanya melangkah bersama memasuki ruangan.
Felisia terkejut saat ia melihat isi ruangan VIP itu, wajah ceria yang ia pasang sedari tadi lenyap begitu saja. Kebahagiaan seakan menguap entah kemana.
"Ayo, Fel, kita nikmati makan siang kita," ucap Zian sambil tersenyum, "bersama para karyawanku tentunya," lanjut Zian sambil duduk diantara para staff dan karyawannya lebih dari dua puluh orang. Felisia bergeming, ia tak percaya dengan sikap Zian.
"Fel?" Zian menarik kursi untuk Felisia. Dengan langkah berat Felisia duduk di kursi yang disiapkan Zian.
"Tanpa Dila, kan? Bukankah ini maumu?" bisik Zian saat Felisia meletakan bokongnya di kursi. Felisia menatap kesal kearah Zian, wajahnya memerah menahan amarah, namun ia tak bisa melampiaskan amarahnya karena ada banyak oasang mata di depannya. Merasa dipermainkan.
********
Di ruang kerja Tyo, Satya tampak membaca beberapa dokumen penting perusahaan.
"Pa." Satya menatap wajah papanya yang sedang membaca laporan di laptop.
"Hmm." Tanpa menoleh, Tyo masih berkutat dengan aktifitasnya.
"Satya mau bicara." Satya menatap wajah tua papanya.
"Bicaralah, papa akan mendengarmu." Kini Tyo menatap wajah serius Satya. Anak lelaki yang selama ini sering bersebrangan pendapat dengannya.
Satya menghirup oksigen dalam-dalam, seakan ucapan yang akan keluar dari bibirnya adalah hal yang berat. "Pa... Apakah selain mama, adakah wanita lain di hidup papa?" tanya Satya sambil menatap wajah papanya.
Wajah Tyo menegang, pertanyaan biasa namun begitu mengejutkan jika keluar dari bibir anaknya.
__ADS_1
Sejenak tak ada respon dari Tyo, ia memandang kearah lain, keluar jendela. Membuang kenangan masa lalu yang ia sendiri tak ingin mengingatnya.
"Pa..." Satya mengejar jawaban papanya. Membangunkan Tyo dari lamunannya.
"Papa tak pernah mengkhianati mamamu, jangan bicara sembarangan." Wajah Tyo masih menatap keluar jendela. Ruang kantor yang berada di lantai puluhan meter diatas tanah itu dapat menyaksikan kota Surabaya dari balik kaca.
"Papa tak pernah mengkhianati mama? Jadi apakah mama yang membuat papa mengkhianati wanita lain?"
Kini Tyo menatap Satya dengan tatapan penuh tanya. Pertanyaan Satya bagaikan pernyataan untuknya.
"Mama adalah orang yang membuat papa meninggalkan wanita lain?"
Rahang Tyo mengeras, mungkin saja jika Satya bukan anaknya, sudah ia patahkan lehernya karena membicarakan istrinya sekarang itu, tapi Rima adalah ibu kandung Satya.
"Pergi ke ruanganmu! Jangan membahas omong kosong lagi! Jika mamamu mendengar semua ucapanmu, bisa-bisa pingsan dia." Pandangan Tyo kembali ke layar laptopnya. Mengabaikan Satya.
"Satya sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya, Pa, bahkan Satya sudah tau bisnis papa selain perusahaan ini."
"Jangan buat papa marah, Satya!" bentak Tyo.
"Satya akan berhenti membahas semua ini jika papa berhenti mengganggu Dila."
Tyo berdiri, berjalan menghampiri putranya. Menatap sinis wajah Satya yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
"Oh, jadi ini semua tentang wanita yang selalu ikut campur masalah papa? Wanita yang menjadi istri jadi-jadiannya si Zian?" tanya Tyo sinis.
"Satya, Satya, kamu ini anak papa, pemilik perusahaan besar, wajahmu tampan, pendidikan bagus, lalu kenapa kamu masih peduli dengan wanita murahan seperti dia?" Tyo berkata tepat di depan wajah Satya. Kini wajah Satya yang tampak kesal dan marah.
Tyo yang menyadari kemarahan pada diri Satya kini tersenyum, "meski dia bukan wanita murahan, apakah kamu nggak malu jika dia adalah bekas Om-mu?"
Satya menggebrak meja, "Satya nggak peduli bagaimana status Dila, Satya hanya ingin Dila aman dan nyaman tanpa gangguan siapapun!" teriak Satya membuat Tyo naik pitam karena Satya melawannya demi Dila.
Bug.
Sebuah pukulan tepat mengenai pipi kiri Satya. Satya meringis memegangi pipinya. "Pukul Satya jika memang bisa membuat papa puas!"
"Papa akan mengirimmu keluar negri, agar kamu berhenti berpikir bodoh demi wanita murahan itu!"
"Berhenti menyebut Dila murahan!" Satya mencengkram krah kemeja papanya secara spontan, menatap wajah papanya dengan murka. "Wanita yang papa sebut wanita murahan itu adalah anak kandungmu!"
"Aaa... Apa?" Tyo terbaik mendengar pernyataan Satya.
"Dia adalah anak dari wanita yang papa tinggalkan begitu saja setelah papa mereguk madunya." Satya melepas cengkramannya. Selangkah berjalan mundur menjauhi Tyo. Tyo menatap Satya seakan tak mengerti.
"Ratnasari, wanita yang papa nikahi sebelum papa menikahi mama, wanita yang papa tinggalkan demi bisa hidup nyaman dengan mama." Suara Satya terdengar mengintimidasi dan sinis.
Tyo tercekat, Satya benar-benar membuatnya terpojok.
__ADS_1
"Dan Dila adalah putri dari wanita yang papa tinggalkan."
"Jangan sok tau, Ratna tak pernah mengandung anakku, dia mengandung anak orang lain." Suara Tyo terdengar kecewa dan sedih.
"Apakah papa yakin? Apakah sudah ada bukti jika benar bu Ratna tak mengandung anak papa?" Satya menatap nyalang papanya.
"Sudah cukup, Satya! Jangan bebani papa dengan omong kosongmu!" seloroh Tyo.
"Pa, jangan menjadi lelaki pengecut! Jangan menuduh hal yang papa sendiri tak yakin!" Satya meninggalkan Tyo yang masih berdiri dan merenung.
Tyo membiarkan Satya pergi, dia terduduk di kursi di depan meja kerjanya, hati dan pikiranmu berkelana menembus kenangan bertahan-tahun lalu.
"Mas, akhirnya kamu menemukan juga," ucap Ratna dengan binar bahagia saat bertemu Tyo di sebuah kedai di pinggiran kota.
Tyo yang awalnya berangkat dengan penuh kerinduan membuncah, saat menatap Ratna rindu itu menguap menjadi rasa benci.
Ratna menggenggam tangan Tyo yang berada diatas meja. Namun sedetik kemudian Tyo menepis tangan lembut Ratna.
Dengan penuh kebingungan Ratna menatap suami yang lama ia rindukan, "kenapa, Mas? Apakah aku membuatmu kesal?" tanya Ratna hati-hati.
"Siapa bapak dari anak yang kamu kandung?" tanya Tyo sinis.
Ratna menatap Tyo heran, "tentu saja ini anakmu, Mas. Benih cinta kita." Ratna mengelus perutnya yang semakin membesar.
Tyo menatap Ratna dengan bengis. "Bagaimana aku yakin dia anakku, sedangkan setelah menikah kau sudah tinggal di luar kota?"
"Bukankah, kau sendiri yang sudah menyentuhku setelah pernikahan kita? Bukankah kau sendiri yang tahu bahwa kesucianku untukmu?" Air mata Ratna luruh begitu saja saat ia dituduh Tyo.
Tyo masih menatap Ratna dengan bengis dan sinis. "Ya, aku tahu memang aku yang mendapatkan mahkotamu setelah pernikahan kita, tapi aku tak tahu, apa benar anak di perutmu itu benar-benar benihku, siapa tahu dia anak harammu dengan lelaki lain."
Plak.
Ratna berdiri dan menampar Tyo.
"Tutup mulut kotormu itu, Tyo! Jika kau tak mau bertanggung jawab atas anak ini, jangan sebut anak ini anak haram." Tatapan Ratna kini penuh kebencian.
"Dasar wanita murahan, benar kata orang-orang, kau memang wanita murahan!" umpat Tyo.
Ratna mengusap kasar air matanya, "tanyakan pada pak Hendra, apakah pernah aku dekat dengan lelaki lain? Bagaimana aku menantinya sepanjang waktu. Tanyakan pada pak Hendra!" teriak Ratna tanpa peduli sekitar.
"Bagaimana aku bisa bertanya siapa lelaki simpang istriku pada lelaki simpanan itu sendiri?" tanya Tyo sinis. Ratna menegang mendengar ucapan Tyo.
"Apa? jadi kau pikir aku ada hubungan dengan pesuruhmu itu?" Ratna menatap Tyo tak percaya.
Tyo tersenyum sinis. "Kalian berdua sama-sama brengs*ek."
Ratna memegangi perutnya, mengatur ritme napas yang mulai tersenggal, "keterlaluan kamu! Bisa-bisanya kamu menuduhku senista itu." Tangis Ratna kembali pecah. Dadanya naik turun menahan sesak. Ia tak ingin merengek dan merajuk untuk meyakinkan Tyo. Kecewa mendominasi hatinya.
__ADS_1
"Jika memang kau tak mau mengakui anakmu ini, jangan pernah menyebut dirimu ayahnya sampai kapanpun!" ucap Ratna frustrasi, lalu beranjak pergi. Wajah yang awalnya masuk kedai berseri, kini tampak berantakan karena tangis.
******"***