Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Dua Puluh Empat


__ADS_3

Takdir selalu tak dapat di lawan dan di minta. Meski kita memohon hingga berderai air mata darah sekalipun, jika Tuhan tak memberikan, maka tak akan terjadi.


Begitu juga tanpa meminta, jika sudah di takdirkan kita miliki, menolak pun, tak akan bisa.


****


Tyo tak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya, semua kata-kata Satya seakan lebah yang mendengung tepat di telinganya. Sepintas ada rasa penasaran akan masa lalunya. Baru terpikir jika semua yang terjadi adalah hanya tuduhan saja. 


Beberapa tahun berlalu. Beberapa orang suruhan Tyo dikirimnya mengawasi Ratna, mereka mengirimkan foto keseharian Ratna, tampak Ratna sering bertemu dengan Hendra, dan perut Ratna tampak membuncit, dan rumornya, Hendra adalah bapak dari anak yang di kandung Ratna. Tentu saja Tyo tak serta merta percaya, namun mengingat semua bukti yang ada, rasa percaya Tyo pada Hendra dan Ratna seketika berubah.


Tyo membenci Hendra dan Ratna, ia tak ingin melihat keberadaan dua pengkhianat baginya. 


Entah apa yangg terjadi pada Hendra maupun Ratna, Tyo sudah tak mau tahu lagi. Bahkan beberapa tahun setelahnya, Tyo mendengar jika Hendra meninggal. Tyo sudah memutuskan tak lagi mencari tahu keberadaan Ratna, baginya Ratna adalah masa lalu, ia harus konsentrasi dengan keluarga barunya, Rima dan anak-anaknya. Juga bisnis yang menjadi  mimpinya sedari dulu.


Tyo menghela napas berat, usianya yang tak lagi muda meski dirinya tak tampak terlalu tua, namun jika harus mengenang Ratna, ia selalu masih merasa terluka. Ratna adalah satu-satunya wanita yang ia cintai, berbeda dengan Rima, Rima hanyalah istri karena berbagai alasan. Bukan semata karena cinta.


Luka lama yang sengaja ia lupakan kini terasa kembali menganga, Satya bahkan mengetahui masa lalunya. Dan Satya juga mengatakan jika Dila adalah anak Ratna. 


Mungkinkah Dila adalah anaknya juga? Atau, memang benar Dila adalah anak Hendra, sahabat sekaligus tangan kirinya yang sangat ia percayai?


Tyo meremas kasar rambutnya sendiri. Ia bingung harus bersikap bagaimana. 


"Bagaimana kabarmu, Ratna? Apakah masih ada setitik rindumu untukku?" gumam Tyo dalam kesendiriannya. Sedetik kemudian Tyo seakan tersadar, lalu ia mencari ponselnya, menelpon seseorang.


"Satya, kamu dimana?" tanya Tyo saat panggilannya terhubung.


******


"Jadi papa mau menemui Dila? Mau memintanya tes DNA?" tanya Satya setelah menyesap kopinya di sebuah kedai.


Tyo menatap kearah lain, begitu banyak hal yang ingin ia lakukan, namun ia tak bisa gegabah.


"Bantu papa agar bisa mendapat hasil DNA Dila tanpa ia sendiri mengetahuinya," ucap Tyo.


Satya menatap papanya dengan seulas senyum, "Satya akan bantu papa,namun Satya harus tahu, jika memang positif Dila adalah anak papa, apa yang akan papa lakukan? meninggalkan mama?"


Tyo menatap Satya, "tentu saja tidak, mamamu adalah masa kini dan masa depan papa, tak ada alasan yang membuat papa meninggalkan mamamu meski papa memiliki anak dari wanita lain."


"Satya tak ingin ada yang terluka, Pa, Satya hanya ingin Dila juga mama mendapat keadilan, apalagi Dila, sedap kecil dia hidup penuh penderitaan." Satya menghela napas, ada rasa sedih di suaranya.

__ADS_1


"Tapi, apakah kamu mendengar jika Dila masih memiliki ibu?" 


Satya menggeleng, "setau Satya, dia anak yatim piatu," ucap Satya.


Wajah Tyo tampak sedih, ia bahkan tak tahu dimana dan kapan Ratna meninggal. Meski Ratna sudah menorehkan luka yang amat dalam, Tyo juga tak ingin kematian Ratna.


"Semua orang mengira om Hendra adalah ayah kandung Dila, bahkan aku juga berpikir seperti itu, tapi ternyata, sepertinya tidak, om Hendra memang menikahi ibunya Dila, karena sesuatu hal yang aku sendiri kurang memahami."


Tyo menatap Satya dengan takjub, tak menyangka jika Satya bisa berpikiran sedewasa ini. Kenapa dirinya tak mampu bersikap sebijak Satya pada saat itu?


"Satya justru heran, kenapa papa malah membuat bisnis om Hendra hancur? Kenapa juga papa menginginkan kematian om Hendra?"


"Apa?" Wajah Tyo tampak terkejut. "Papa tak pernah melakukan hal sekeji itu, Satya." Kerutan di wajah Tyo tampak jelas saat ia terkejut.


Kini Satya pun menjadi terkejut. "Banyak fakta yang menunjukan papa mensabotase perusahaan om Hendra dan membunuh om Hendra." 


"Tidak, papa memang melakukan praktek usaha barang haram di luar negri, tapi papa tak akan pernah membalas perbuatan Hendra sekeji itu, apalagi membunuh, tidak!" Dengan lantang Tyo berkata.


"Papa yakin?" Satya menatap Tyo seakan tak percaya. 


"Nggak, Satya, ini hanya manipulasi, ini fitnah."Tyo tampak tegas.


"Jika demikian, apakah mulai saat ini papa bisa melepaskan Dila? Biarkan ia hidup biasa, dan ayo kita sama-sama mencari siapa dalang di balik semua masalah ini." Satya menatap Tyo penuh harap.


"Sepertinya papa tau, siapa dalang semua ini." Satya dan Tyo saling bertatapan, mereka kini mulai menerka siapa dalang di balik semua permasalahan ini.


****************


Malam ini Dila bersiap, Zian telah menelponnya, mengabarkan jika malam ini ia akan datang. Bahkan Zian akan mengajaknya memeriksakan kandungan Dila.


Ting tunggu....


Dila bergegas berlari dan membuka pintu. "Hai Tante kecil," sapa Satya dengan wajah usilnya. Tanpa menunggu Dila mempersilahkan masuk, Satya sudah masuk kedalam.


"Sat, mau apa?" tanya Dila dengan wajah ketus.


Satya menatap penampilan Dila, malam ini Dila memakai dres krem dan memakai make up. "Duh, kenapa kamu berdandan secantik ini? Bisa lupa aku kalo kamu itu tanteku." Satya duduk di sofa ruang tamu sebelum Dila mempersilahkan.


Dila hanya mencebik mendengar ucapan Satya. "Aku nunggu Om-mu, pulang sana!"

__ADS_1


"Kamu ngusir aku?" 


"Iya," ucap Dila tak peduli pada wajah memelas Satya.


Dila memencet ponselnya, "halo, Sayang, cepetan pulang, ada tamu tak di undang disini." Dila menelpon seseorang, Zian.


"Lho, kamu tau kalo  Satya disini?" Dila melihat kearah Satya sambil menelpon. Satya mengerucutkan bibirnya, mengejek Dila.


"Oke, aku tunggu." Dila mematikan ponselnya.


"Dasar kalian laki-laki, bersekongkol ya?" Dila duduk di sofa. Agak jauh dari Satya.


"Jauh amat sih duduknya." Satya mendekati Dila. Dila semakin menjauhkan dirinya dari Satya.


"Jangan macem-macem kamu!" Dila mendelikan matanya, namun bukannya takut, Satya makin merapat tubuhnya ke Dila. Bahkan memeluk Dila.


"Satya!" teriak Dila, ia mendorong Satya sekuat tenaga.


"Apaan sih? aku mau ambil ini,"Satya mengambil remote di belakang Dila.


Wajah Dila memerah menahan malu. "Dasar ponakan gak jelas." Dila beranjak ke kamar. "Ambil minum sendiri, malas aku lihat kamu." Tak lama terdengar Dila membanting pintu kamarnya, kesal.


Satya tersenyum, setidaknya ia sudah mendapatkan rambut Dila, meski Dila mencacinya.


*********


Satya menyerahkan sample rambut Dila dan papanya pada ahli genetika. Dengan optimis Satya meyakinkan papanya jika semuanya akan baik-baik saja.


"Satya pasti  bisa meyakinkan mama, semuanya tak akan ada yang berubah meski memang Dila anak kandung papa." Satya menepuk bahu Tyo yang sedang duduk di balik meja kerjanya.


"Bukankah yang paling menderita disini Satya, Pa, wanita yang dari dulu Satya cintai harus menjadi saudara Satya." Suara Satya terdengar pelan, sedih.


Tyo menatap wajah Satya, "kamu sangat mencintai Dila?" tanya Tyo.


Satya tersenyum getir, "dia sudah menjadi tanteku, bahkan dia juga sepertinya saudaraku." Nada bicara Satya terdengar frustrasi, "melihatnya bahagia sudah cukup, Pa." 


Tyo berdiri, memeluk Satya, entah berapa puluh purnama Tyo dan Satya tak pernah berpelukan. "Satya ikhlas, Pa, Satya nggak mau lagi lihat Dila menderita, Dila sudah bahagia dengan Om Zian." Suara Satya terdengar parau. Ia memeluk Tyo. Tyo menepuk pelan punggung Satya, wajahnya tampak sedih melihat kesedihan putranya.


Tyo tak lagi bersuara, ruangan yang elegan itu seketika bernuansa sendu. Ia membiarkan Satya meluapkan kesedihannya. Dua insan yang kekar dan tangguh sedang bersedih hingga tak sanggup melawan takdir.

__ADS_1


*****


__ADS_2