
Adam berada di posisi yang sangat sulit saat ini ketika Anggraini melayaninya dengan begitu telaten di depan Mama Mona yang merupakan istri yang masih dirahasiakan dari semua orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang telah mengetahuinya.
Anggraini meminta waktu pada Diandra dan Anggara untuk mengurus Adam yang muntah-muntah di rumah mereka.
Anggraini membuat minuman jahe sendiri di dapur Diandra lalu membawanya ke meja makan.
"Sekarang kamu minum ini, air jahe akan membantu mu mengatasi rasa mual." Sebelum Adam menerima gelas yang disodorkan Anggraini, Adam sekilas mencuri pandang pada Mama Mona yang duduk didepannya. Tapi Mama Mama Mona bisa merespon apa, jika diantara mereka ada banyak orang.
Mama Mona malah berpamitan pada Diandra dan Anggara untuk pulang.
"Mama harus pulang, kapan-kapan ke sini lagi." Mama Mona bangkit dan mencium pipi Diandra sambil mengelus perut Diandra yang sudah besar.
Hal tersebut tidak luput dari pengawasan Adam.
"Mama mau ke kantor atau pulang?." Diandra menahan tangan Mama Mona.
"Ke kantor, Mama harus menyelesaikan beberapa design lagi." Mama Mona tersenyum pada Diandra lalu Diandra melepaskan tangan Mama Mona.
"Baik lah Ma, hati-hati."
"Iya sayang."
"Hati-hati, Ma." Anggara bangkit lalu memeluk sebentar Mama Mona sambil berbisik.
__ADS_1
"Aku akan mengawasi Adam."
Mama Mona hanya tersenyum samar mendapatakan bisikan seperti itu.
Mama Mona hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala pada Anggraini yang sedang menyuapi Adam sebagai tanda dia berpamitan pada wanita itu.
Dan Anggraini pun membalasnya.
.
.
.
Lima belas menit pertama, perjalanannya masih aman-aman saja. Namun setelah beberapa menit, Mama Mona merasa mobil yang ada di kanan dan kirinya sedang memepet mobilnya.
Meski jalanan siang itu terlihat sangat ramai, tapi tetap saja Mama Mona merasa takut apalagi dirinya sedang berbadan dua.
"Ada apa ini?, siapa mereka?. kenapa mereka memepet ku terus?."
Mama Mona tetap berusaha untuk tenang, tidak terpancing untuk meminggirkan mobilnya. Dia tetap terus berada di jalur tengah.
Kedua mobil tersebut berhenti mengikutinya setelah sampai di belokan yang akan menuju ke rumahnya, bersamaan dengan mobil Adam yang berada di belakang mobil Mama Mona.
__ADS_1
Mama Mona melihat sisi kanan dan kiri mobilnya dan kedua mobil itu sudah tidak terlihat lagi.
"Syukur lah mereka sudah pergi, tapi mereka siapa?." Batin Mama Mona sambil memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
Adam pun ikut memarkirkan mobilnya di samping mobil Mama Mona lalu segera masuk ke dalam rumah.
"Sayang."
"Kenapa kamu ke sini?." Mama Mona meletakkan tas di atas meja lalu menuju dapur dan mengambil air minum.
"Aku ke sana ingin menemui mu, tapi aku lupa kalau ada Anggraini mengajar si kembar. Aku sudah menelpon Anggara sebelumnya." Adam berdiri tepat di depan Mama Mona dengan wajah yang memelas.
Adam meraih tangan Mama Mona lalu diletakkan di atas pundaknya.
"Bagaimana kabar calon bayi kita?."
Mama Mona mengangkat bahunya tinggi.
Tangan Adam mengusap perut Mama Mona berulang kali dengan tatapan yang penuh damba.
"Aku sangat merindukan kalian." Bisik Adam pada telinga Mama Mona.
"Sampai kapan kamu akan mengalami morning sickness?." Mama Mona menempelkan hidungnya pada hidung Adam.
__ADS_1